Banten

Mbappe, Vinicius, dan Konate Bikin Heboh Spanyol: Kaus Solidaritas Ceuta Malah Picu Polemik Politik

Aullia Rachma Puteri | 18 September 2026, 22:16 WIB
Mbappe, Vinicius, dan Konate Bikin Heboh Spanyol: Kaus Solidaritas Ceuta Malah Picu Polemik Politik
Penyerang Real Madrid, Kylian Mbappe. - Instagram/@k.mbappe

AKURAT BANTEN - Tiga pemain Real Madrid, Kylian Mbappe, Vinicius Junior, dan Ibrahima Konate, menjadi sorotan di Spanyol setelah sikap mereka terhadap sebuah kaus solidaritas memicu perdebatan yang merembet ke ranah politik.

Momen tersebut terjadi sebelum Real Madrid menghadapi Elche dalam lanjutan La Liga 2026/2027 di Stadion Manuel Martinez Valero, Selasa (15/9/2026) waktu setempat.

Para pemain kedua tim diminta mengenakan kaus putih bertuliskan "Todos somos caballas" atau "Kita semua adalah mackerel", sebuah slogan dukungan untuk masyarakat Ceuta.

Ceuta merupakan wilayah Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara. Wilayah tersebut menjadi sorotan setelah lonjakan kedatangan migran dari Maroko pada akhir Juli.

Baca Juga: Real Madrid Siap Bawa Pulang Martin Zubimendi! Arsenal Terancam Kehilangan Gelandang Rp1,2 Triliun

Reuters melaporkan bahwa jumlah kedatangan mencapai lebih dari 70.000 orang, sementara sejumlah besar lainnya kemudian kembali ke Maroko.

Mayoritas pemain Real Madrid dan seluruh pemain Elche mengenakan kaus tersebut sebagaimana mestinya. Namun, Mbappe dan Vinicius terlihat menggulung kaus hingga pesan di bagian depan tidak terbaca.

Sedangkan Konate memegang kaus tersebut dengan cara yang juga membuat tulisannya tidak terlihat jelas. Ketiganya kemudian melepas kaus sebelum pertandingan dimulai.

Sikap tersebut langsung memunculkan perdebatan. Presiden La Liga Javier Tebas mengkritik ketiga pemain itu dan menilai mengenakan kaus hanya setengah-setengah pada dasarnya sama dengan tidak mengenakannya.

Baca Juga: Resmi! Lionel Messi Akan Ucapkan Selamat Tinggal, Laga Perpisahan Argentina Digelar 6 Oktober

Menurut Tebas, kampanye tersebut merupakan tindakan institusional, bukan kewajiban bagi pemain untuk menyampaikan pandangan pribadi.

Sejumlah politikus Spanyol juga ikut memberikan komentar. Dari Partai Vox, Jose Maria Figaredo menyatakan para pemain memang memiliki kebebasan menentukan isu yang mereka dukung, tetapi masyarakat juga memiliki kebebasan untuk merasa tersinggung. Kritik serupa datang dari Ester Munoz dari Partai Rakyat.

Di sisi lain, pemerintah Spanyol menilai keputusan mengenakan atau tidak mengenakan kaus merupakan pilihan pribadi. Partai Sumar juga mengingatkan agar isu solidaritas untuk Ceuta tidak dimanfaatkan untuk memperuncing perpecahan sosial maupun persoalan identitas nasional.

Baca Juga: Jarrad Branthwaite Kembali Jadi Buruan MU, Bek Everton Ini Bisa Jadi Jawaban Masalah Pertahanan Setan Merah

Real Madrid sendiri mengambil posisi dengan menghormati keputusan para pemain. Klub disebut telah menyetujui permintaan untuk mengenakan kaus solidaritas tersebut, tetapi juga memberikan kebebasan kepada pemain untuk menentukan apakah mereka ingin menampilkan pesan tersebut.

Mbappe kemudian memberikan penjelasan. Dalam wawancara dengan AS, penyerang asal Prancis itu menegaskan bahwa sikapnya bukan bentuk penolakan terhadap masyarakat Ceuta.

Ia menyatakan tetap bersolidaritas dengan warga Ceuta dan para korban, tetapi pada saat yang sama ingin memberikan perhatian kepada para migran yang kehilangan nyawa atau masih berada dalam kondisi sulit.

"Saya sepenuhnya bersolidaritas dengan Ceuta dan seluruh korban," ujar Mbappe seperti dikutip Euronews.

Baca Juga: Arsenal Hajar Ipswich 4-2, 5 Pemain Ini Jadi Sorotan: Bocah 16 Tahun Curi Perhatian!

Kontroversi ini bahkan meluas ke pemain lain. Winger Real Betis asal Maroko, Abde Ezzalzouli, juga mendapat kritik setelah mengenakan kaus solidaritas serupa.

Ia kemudian menjelaskan bahwa tindakannya dimaksudkan sebagai dukungan sosial, bukan pernyataan politik. Barcelona sendiri memilih tidak mengikuti kampanye tersebut saat menghadapi Levante.

Di tengah panasnya polemik, Real Madrid tetap menutup laga dengan kemenangan 3-2 atas Elche. Carlos Espi menjadi penentu kemenangan Los Blancos lewat gol pada masa tambahan waktu.

Dengan demikian, sebuah kaus yang awalnya dimaksudkan sebagai simbol solidaritas justru berkembang menjadi perdebatan mengenai kebebasan berekspresi pemain, identitas nasional, migrasi, dan batas antara sepak bola dengan isu sosial-politik di Spanyol.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.