Banten

Era Jurgen Klopp Dimulai di Timnas Jerman, Keputusan Pertamanya Bikin Penasaran

Viona Sebastian Nolani | 23 September 2026, 11:06 WIB
Era Jurgen Klopp Dimulai di Timnas Jerman, Keputusan Pertamanya Bikin Penasaran
Jurgen Klopp. - instagram/@kloppo

AKURAT BANTEN - Pertandingan menghadapi Belanda pada pukul 01.45 WIB, 25 September waktu Hanoi, di Johan Cruyff Arena akan menjadi laga debut resmi Jurgen Klopp sebagai pelatih tim nasional Jerman.

Namun, jauh sebelum pertandingan tersebut berlangsung, Klopp sudah mengambil keputusan yang menggambarkan pendekatan awalnya dalam menangani Die Nationalelf.

Ia memanggil 44 pemain yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok untuk menjalani empat pertandingan UEFA Nations League 2026/27.

Dari jumlah tersebut, terdapat 16 pemain yang belum pernah merasakan pertandingan di level internasional senior.

Baca Juga: Bug Face ID iPhone 18 Pro Mulai Terungkap, Bisa Bikin iPhone Freeze dan Restart

Klopp mengatakan dirinya ingin melihat sebanyak mungkin pemain sekaligus memberi mereka kesempatan untuk memulihkan kondisi di tengah padatnya agenda klub dan tim nasional.

"Die Nationalelf"-nya bukanlah tim A dan B.

Karena itu, Nations League menjadi ajang bagi Klopp untuk melakukan eksperimen sekaligus menemukan kombinasi pemain yang paling sesuai.

Jerman tetap harus menghadapi setiap pertandingan dengan target meraih kemenangan.

Baca Juga: Putin Disebut Ingin Akhiri Konflik Ukraina, Trump Ungkap Rencana Pertemuan Berikutnya

Jika mampu menjadi juara, keberhasilan tersebut dapat menjadi suntikan moral bagi tim yang sedang berusaha membangun kembali kepercayaan dirinya.

Meski demikian, trofi Nations League bukan menjadi ukuran utama keberhasilan Klopp selama menangani Jerman.

EURO 2028 dan Piala Dunia 2030 menjadi dua target besar yang ingin dicapai Jerman dalam proyek tersebut.

Klopp juga mulai melakukan perubahan pada sejumlah posisi penting di dalam skuad.

Setelah Manuel Neuer memutuskan pensiun dari tim nasional, Marc-Andre ter Stegen langsung dipercaya sebagai penjaga gawang utama.

Sementara itu, Klopp turut memanggil Jonas Urbig, kiper berusia 23 tahun yang menjadi pelapis Neuer di Bayern Munich dan memiliki prospek cerah setelah melewati berbagai jenjang tim muda Jerman.

Urbig sebelumnya memperkuat tim nasional Jerman U17, U18, U19, U20, hingga U21.

Di lini serang, Younes Ebnoutalib mendapatkan kesempatan setelah tampil impresif bersama Frankfurt.

Penyerang berusia 23 tahun tersebut telah mencetak empat gol dalam empat pertandingan Bundesliga serta menunjukkan kemampuan berlari dan melakukan tekanan kepada lawan.

Pemilihan pemain tersebut memperlihatkan bahwa peluang masuk tim nasional Jerman terbuka bagi siapa pun yang memenuhi kebutuhan tim saat ini.

Pengalaman internasional bukan menjadi satu-satunya pertimbangan dalam proses seleksi Klopp.

Persoalan yang dihadapi Jerman juga tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti beberapa nama di dalam skuad.

Setelah berulang kali gagal melangkah jauh di Piala Dunia, tim yang sebelumnya dikenal memiliki stabilitas dan daya juang kini membuat pendukungnya mempertanyakan arah permainan mereka.

Identitas sepak bola Jerman juga masih belum terlihat secara jelas, termasuk mengenai hal yang dapat menyatukan para pemain dari generasi berbeda.

Klopp datang untuk mencari jawaban tersebut dengan memulai dari pemain sebelum menentukan bentuk permainan yang paling sesuai.

Pendekatan itu muncul setelah gaya "gegenpressing" Julian Nagelsmann tidak memberikan hasil yang diharapkan, sebagaimana terjadi pada era Hansi Flick.

Ketika menandatangani kontrak, Klopp menegaskan bahwa kegagalan di Piala Dunia 2026 tidak berarti Jerman harus membangun semuanya dari titik nol.

Ia ingin bertemu dengan pelatih-pelatih Bundesliga, mengenal lebih dekat para pemain, serta memahami motivasi yang dimiliki setiap individu.

Tugas tersebut memang berjalan tanpa banyak sorotan, tetapi memiliki peran penting bagi seorang pelatih tim nasional.

Berbeda dengan pelatih klub yang bisa berlatih bersama pemain selama berbulan-bulan, pelatih tim nasional memiliki waktu terbatas sehingga setiap pemusatan latihan harus menghasilkan perkembangan.

Jerman memiliki pengalaman Klopp di level klub sebagai alasan untuk menaruh perhatian terhadap proyek tersebut.

Ketika menangani Dortmund, Klopp berhasil membentuk skuad muda menjadi tim dengan permainan berintensitas tinggi serta karakter yang kuat.

Di Liverpool, ia juga membantu klub yang ingin kembali ke papan atas dengan membangun kepercayaan diri sebelum akhirnya meraih sejumlah trofi besar.

Kekuatan Klopp bukan hanya terletak pada pemilihan formasi dan instruksi taktik kepada pemain.

Ia dikenal mampu membuat pemain memahami peran masing-masing sekaligus menumbuhkan kemauan untuk bekerja keras demi kepentingan tim.

Namun, tim nasional Jerman tentu memiliki situasi yang berbeda dibandingkan Dortmund maupun Liverpool.

Klopp harus menemukan pendekatan yang paling efektif bagi Jerman tanpa memaksakan gaya permainan khasnya sejak awal.

Dalam empat laga Nations League berikutnya, Klopp akan memperoleh kesempatan untuk menilai kualitas para pemain yang dipanggilnya.

Selain menghadapi Belanda yang juga memasuki fase baru bersama Xavi Hernandez, Jerman dijadwalkan menghadapi Yunani dua kali dan Serbia satu kali.

Dari rangkaian pertandingan tersebut, Klopp dapat melihat pemain mana yang paling cepat memahami tuntutan, siapa yang mampu menjadi fondasi tim, serta posisi mana yang masih membutuhkan pembenahan.

Tugas Klopp bukan sekadar menyalakan kembali semangat di pinggir lapangan seperti yang kerap terlihat ketika dirinya menangani Liverpool.

Hal yang lebih penting adalah membangun keyakinan bahwa setiap pemain memahami arti mengenakan seragam Jerman dan mengetahui target yang ingin mereka capai.

Pada saat yang sama, para pendukung juga diharapkan kembali melihat tim Jerman yang terorganisasi, disiplin, dan memiliki tekad kuat di lapangan.

Membangun kembali sebuah tim tentu membutuhkan waktu, tetapi Klopp telah memulainya dengan memperluas pilihan pemain demi menemukan kombinasi yang mampu mengembalikan identitas Jerman.

Identitas tersebut sebelumnya membawa Jerman meraih empat gelar Piala Dunia dan empat trofi Kejuaraan Eropa.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.