Kunjungi Indonesia hingga Uzbekistan, Ini Agenda Penting Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Asia

AKURAT BANTEN - Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dijadwalkan memulai lawatan lima hari ke Asia pada Minggu mendatang dengan agenda kunjungan ke Indonesia, Filipina, dan Uzbekistan, sebagaimana disampaikan kantor kepresidenan Jerman.
Dalam perjalanan tersebut, Steinmeier akan ditemani sang istri, Elke Büdenbender, bersama rombongan delegasi bisnis dari Jerman.
Indonesia dikenal sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara, negara kepulauan terbesar di dunia, sekaligus negara dengan populasi Muslim terbesar secara global yang dihuni lebih dari 280 juta jiwa.
Sejak 2024, Indonesia dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto, mantan jenderal sekaligus eks menteri pertahanan yang memenangkan pemilihan presiden dengan margin suara cukup meyakinkan.
Baca Juga: Indonesia Masih Impor 80 Persen Susu, Ancaman Ketahanan Pangan Mulai Disorot
Agenda utama kunjungan Steinmeier di Jakarta akan menyoroti pentingnya kehidupan harmonis antarumat beragama dan toleransi di tengah keberagaman.
Saat berada di Manila, ibu kota Filipina, presiden Jerman dijadwalkan meninjau fasilitas produksi Lufthansa serta bertemu peraih Nobel Perdamaian Maria Ressa.
Filipina sendiri menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk paling padat di Asia Tenggara dengan populasi mencapai sekitar 117 juta orang.
Negara tersebut dipimpin Presiden Ferdinand Marcos Jr. sejak 2022.
Ia merupakan putra mantan pemimpin sekaligus diktator Filipina, Ferdinand Marcos.
Pemerintahan Marcos Jr. dinilai mengambil pendekatan pragmatis dengan menitikberatkan pada investasi, pertumbuhan ekonomi, serta penguatan hubungan dengan Amerika Serikat, terutama di tengah meningkatnya ketegangan dengan China di Laut China Selatan.
Destinasi terakhir lawatan Steinmeier adalah Tashkent, ibu kota Uzbekistan.
Dalam kunjungan itu, presiden Jerman dijadwalkan mendatangi cabang perusahaan konstruksi Jerman GP Gunter Papenburg serta menghadiri sejumlah agenda penting lainnya.
Kunjungan ke Uzbekistan diperkirakan banyak membahas isu migrasi tenaga kerja terampil.
Selama ini, banyak generasi muda Uzbekistan memilih bekerja sebagai pekerja migran di Rusia maupun Turki.
Kantor kepresidenan Jerman juga menyebut Uzbekistan sebagai negara di Asia dengan jumlah pelajar bahasa Jerman terbanyak dibanding negara lain di kawasan tersebut.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 2Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 3Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 4Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 5Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 6Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 7Gibran Digadang Capres 2029, Pernyataan Ali Syarief soal Prabowo Bikin Wacana Makin Panas
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 98 Tuntutan Gugatan Gibran di MK Terungkap, Ada Permintaan Batalkan Pelantikan dan Pilih Wapres Baru
- 10Roy Suryo Soroti Biografi Gibran di MK, Ada Perbedaan Keterangan Pendidikan yang Dipersoalkan






