Kenaikan Pertamax Picu Kekhawatiran Baru, Ekonom Sebut APBN Tertekan

AKURAT BANTEN - Pihak Pertamina bersama Menteri Energi Bahlil Lahadalia berulang kali menegaskan bahwa harga Pertalite dan solar subsidi tidak akan mengalami kenaikan.
“Bahan bakar bersubsidi dan LPG bersubsidi tidak akan naik harganya. Itu perintah Presiden,” kata Bahlil.
Muhammad Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Jakarta, menilai kenaikan harga BBM tersebut memang “tidak dapat dihindari” karena tekanan fiskal terhadap APBN terus meningkat akibat faktor domestik maupun global.
“Penyesuaian harga ini merupakan sinyal bahwa orientasi kebijakan bergeser dari mempertahankan pertumbuhan ke mempertahankan stabilitas fiskal dan kepercayaan pasar,” kata Rizal.
Baca Juga: Lonjakan Harga Pertamax Bikin Resah, Ancaman Baru bagi Ekonomi Rumah Tangga
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut dampak kenaikan harga Pertamax terhadap perekonomian nasional akan “minimal” karena BBM tersebut tidak digunakan dalam sektor transportasi umum maupun logistik.
Namun pandangan tersebut dibantah Rizal.
“Meskipun dampak langsung Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas, dampak ekonominya jauh lebih luas, karena pengguna utamanya adalah pekerja sektor formal dan kelas menengah, yang secara historis merupakan penggerak utama konsumsi domestik,” kata Rizal.
Menurut Rizal, kenaikan harga BBM ditambah suku bunga yang lebih tinggi, inflasi di level 3,08 persen, serta tekanan pelemahan rupiah akan mengikis daya beli masyarakat.
Baca Juga: Prabowo Subianto Bongkar Alasan Ingin Jadi Presiden, Singgung Indonesia Salah Arah Sejak 1990-an
Kondisi itu berpotensi menurunkan konsumsi rumah tangga dan memicu perlambatan di sektor ritel maupun jasa.
Peneliti ekonomi dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta, Deni Friawan, juga menilai kenaikan harga bensin memang “tidak dapat dihindari”.
Namun menurutnya, alasan pemerintah belum cukup menenangkan masyarakat yang terdampak langsung.
“Menurut saya, masyarakat telah kehilangan kepercayaan karena sebelumnya pemerintah selalu mengatakan bahwa fundamental ekonomi baik-baik saja, posisi fiskal kita memadai, dan sebagainya. Purbaya selalu mengatakan itu,” kata Deni.
“Peningkatan ini menunjukkan bahwa semuanya tidak baik-baik saja,” jelasnya.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Gibran Disorot soal Ijazah, Nama Anies Baswedan Muncul! Refly Harun Ungkap Sosok Pengganti Wapres
- 2Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang Perkuat Kapasitas Keluarga dan Pemasaran UMKM di Kelurahan Setu
- 3Ubah Stigma Mahjong, Andrew Herman Gelar Turnamen Berhadiah Rp15 Juta di One District at Puri
- 4Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 5Ansor Tangsel Sukses Gelar Ansor Fest Experience 2026 di Mall, Padukan Syiar dan Kreativitas Pemuda
- 6Bukan Sekadar Kalah! Alexander Isak Soroti Kesalahan Fatal Liverpool saat Tumbang 2-3 di Istanbul
- 7Comeback Gila Real Madrid Bikin Bellingham Terpukau! Jude Minta Satu Hal Ini Dipertahankan Los Blancos
- 8Belum Selesai Kasus 115 Pelanggaran! Manchester City Terancam Investigasi Baru dan Sanksi Tambahan
- 9Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 10Jokowi dan Roy Suryo Saling Sindir di Sidang Ijazah, Ending Jabat Tangan Ini Bikin Publik Terkejut!





