Makin Panas! PDIP 'Geram' Kalimat Orang Kampung Jokowi: Kalau Santun, Harusnya Tidak Merusak!

AKURAT BANTEN – Hubungan antara Presiden ke-7 RI Joko Widodo dengan partai yang membesarkannya, PDI Perjuangan, tampaknya telah mencapai titik didih baru.
Pernyataan terbaru Jokowi yang menggunakan narasi "orang kampung" untuk menanggapi kritik Jusuf Kalla (JK) justru memicu serangan balik yang jauh lebih pedas dari barisan banteng.
Ketegangan ini bermula ketika Jusuf Kalla mengungkit kembali jasa politiknya dalam memboyong Jokowi dari Solo ke Jakarta.
Menanggapi klaim tersebut, Jokowi memilih jawaban retoris yang menjadi ciri khasnya: "Saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung."
Baca Juga: Meledak! Jusuf Kalla 'Bongkar Kartu': Kasih Tahu Semua Buzzers, Jokowi Jadi Presiden Karena Saya!
Sindiran Menohok: Etika vs Narasi
Bagi PDIP, jawaban Jokowi tersebut dianggap tidak lagi relevan dan justru menunjukkan upaya untuk menghindar dari tanggung jawab moral politik.
Pihak PDIP menilai bahwa predikat "orang kampung" seharusnya identik dengan kesantunan, kejujuran, dan rasa hormat terhadap rumah yang telah membesarkannya.
Kegeraman PDIP ini bukan tanpa alasan. Mereka melihat ada kontradiksi besar antara persona "wong cilik" yang ditampilkan Jokowi dengan langkah-langkah politiknya belakangan ini yang dianggap merusak tatanan demokrasi dan internal partai.
Menjadi orang kampung bukan berarti boleh melupakan sejarah. Justru jati diri orang kampung itu adalah tahu budi dan menjaga harmoni. Kalau mengaku santun, seharusnya tidak merusak rumah yang sudah memberinya tempat berteduh selama ini.
Baca Juga: Bukan Main-Main! Ini Alasan Firdaus Oiwobo Sebut Pernyataan Roy Suryo Soal Ijazah Jokowi Berbahaya
Mengapa Publik Begitu Tertarik?
Konflik ini menarik perhatian jutaan pembaca karena menyentuh aspek etika politik yang jarang dibahas secara terbuka.
PDIP kini secara terang-terangan berani mengonfrontasi narasi "kerendahhatian" Jokowi yang selama satu dekade terakhir menjadi senjata politik paling ampuh sang mantan Presiden.
Kini, publik terbelah. Satu sisi melihat Jokowi tetap menjadi sosok yang bersahaja, namun di sisi lain, kritik PDIP mulai mendapat tempat di hati masyarakat yang merasa ada sesuatu yang salah dengan arah demokrasi saat ini.
Baca Juga: Kasus Ijazah Jokowi Mau Dihentikan, Refly Harun Tegas 'Kami Tak Akan Minta Maaf'
Poin Utama di Balik Kegeraman PDIP:
Amnesia Politik: PDIP menilai Jokowi seolah melupakan mesin partai yang bekerja keras memenangkan dirinya sejak di Solo hingga RI 1.
Bentuk Perlawanan: Penggunaan kata "Merusak" oleh PDIP merujuk pada manuver-manuver yang dianggap melangkahi konstitusi dan aturan main partai.
Ujian Persona: Apakah narasi "Orang Kampung" masih akan ampuh meredam kritik, atau justru dianggap sebagai tameng belaka? (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 2Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 3Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 4Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 5Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 6Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 7Gibran Digadang Capres 2029, Pernyataan Ali Syarief soal Prabowo Bikin Wacana Makin Panas
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 98 Tuntutan Gugatan Gibran di MK Terungkap, Ada Permintaan Batalkan Pelantikan dan Pilih Wapres Baru
- 10Roy Suryo Soroti Biografi Gibran di MK, Ada Perbedaan Keterangan Pendidikan yang Dipersoalkan







