Banten

Kisah Pria Semarang Pilih Vasektomi Demi Kesetaraan dan Keluarga

Moehamad Dheny Permana | 15 Oktober 2025, 20:44 WIB
Kisah Pria Semarang Pilih Vasektomi Demi Kesetaraan dan Keluarga

Akurat Banten - Di tengah masih minimnya partisipasi pria dalam program keluarga berencana (KB), seorang pengusaha asal Semarang, Jawa Tengah, tampil menjadi suara perubahan.

Erwin Mi’rajdi Hariyanto (36), motivator dari Kelompok KB Pria Kota Semarang, menganggap vasektomi bukan sekadar pilihan medis, melainkan bentuk cinta dan tanggung jawab seorang suami kepada istrinya.

“Tiga tahun lalu saya memutuskan vasektomi, dan saya anggap itu sebagai bukti cinta tertinggi untuk istri,” kata Erwin.

Bapak tiga anak ini mengaku keputusannya tidak diambil secara terburu-buru.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana istrinya berjuang selama bertahun-tahun, mulai dari kehamilan, proses persalinan, hingga penggunaan KB IUD yang membuat sang istri mengalami perubahan siklus menstruasi cukup signifikan.

Baca Juga: Geger Kasus Keracunan Massal, Surahman Dorong Sekolah Bentuk Tim Cicip Demi Jaga Keamanan Program Makan Gratis

Dari situlah ia merasa saatnya mengambil peran lebih besar dalam pengasuhan dan perencanaan keluarga.

Menurut Erwin, generasi muda saat ini semakin sadar tentang kesetaraan gender dalam rumah tangga, dan vasektomi menjadi salah satu bentuk nyata penerapan prinsip tersebut.

“Sekarang banyak milenial dan Gen Z yang memahami pentingnya berbagi peran. Vasektomi adalah langkah konkret untuk itu,” ujarnya.

Langkah Erwin tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Sebagai motivator, ia aktif menyebarkan informasi tentang vasektomi ke masyarakat luas, terutama lewat media digital.

Bersama sekitar 30 kelompok KB pria, Erwin menjalankan kampanye kreatif dengan memanfaatkan algoritma internet dan jaringan Wi-Fi publik.

“Kami tidak hanya sosialisasi konvensional. Saat orang terhubung ke Wi-Fi tertentu, kami arahkan mereka ke konten tentang vasektomi dengan cara menginterupsi dan memperkuat pencarian di media sosial,” jelasnya.

Sebelum menjalani prosedur vasektomi, Erwin banyak membaca riset medis dan psikologis.

Pengalamannya di dunia psikologi membantunya memahami bahwa kebahagiaan dalam hubungan harus dibangun dua arah.

“Perempuan sudah banyak berkorban, mulai dari hamil sampai membesarkan anak. Vasektomi adalah cara saya membalas pengorbanan itu,” tegasnya.

Meski begitu, ia menyadari tantangan di lapangan tidak kecil.

Baca Juga: KEJI! Hasil Autopsi VI Bocah 12 Tahun Keluar: Meninggal karena 'Lemas Kehabisan Napas', Ada Luka di Alat Vital

Masih banyak pria yang menolak vasektomi karena alasan budaya dan ego maskulinitas.

“Biasanya yang menolak berasal dari kalangan ekonomi dan pendidikan rendah. Sementara yang lebih mapan dan terdidik cenderung lebih terbuka,” katanya.

Data BKKBN 2024 menunjukkan, partisipasi pria dalam program KB di Indonesia masih sangat rendah: hanya 2,45 persen menggunakan kondom dan 0,16 persen memilih vasektomi.

Angka ini menggambarkan masih dominannya persepsi bahwa KB adalah urusan perempuan.

Untuk mengubah kondisi itu, United Nations Population Fund (UNFPA) aktif mendorong keterlibatan laki-laki dalam program keluarga berencana.

Lewat kerja sama dengan pemerintah Indonesia, Kementerian Kesehatan, dan BKKBN, berbagai strategi dirancang untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas layanan KB pria, termasuk metode vasektomi tanpa pisau yang lebih aman dan cepat.

“Kalau laki-laki ikut terlibat, keputusan keluarga jadi lebih seimbang dan adil,” ujar perwakilan UNFPA.

Kisah Erwin menjadi contoh nyata bagaimana perubahan besar bisa dimulai dari langkah pribadi.

Bagi dia, vasektomi bukan sekadar prosedur medis, melainkan pernyataan cinta, komitmen, dan kesetaraan dalam keluarga modern.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.