Tantangan dan Harapan di Balik Ambisi Bus Listrik Nasional

Akurat Banten - Pemerintah Indonesia tengah mengusung langkah besar dalam transformasi transportasi nasional dengan menargetkan peralihan mayoritas angkutan umum dari bahan bakar minyak ke kendaraan listrik.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa rencana ambisius ini membutuhkan lebih dari sekadar niat baik.
Menurutnya, diperlukan strategi komprehensif serta komitmen politik yang kuat untuk merealisasikannya.
"Ini bukan hanya soal mengganti bus fosil dengan bus listrik, tapi tentang membangun ekosistem baru yang berkelanjutan, didukung secara finansial, dan diterima oleh publik," ujar Yannes.
Ia menekankan pentingnya visi jangka panjang yang jelas dan keseriusan pemerintah sebagai motor penggerak utama dalam transformasi ini.
Baca Juga: Balas Dendam Militer: 14 Teroris Tewas Usai Serangan Bom Bunuh Diri di Pakistan
Pemerintah sendiri menargetkan seluruh angkutan umum massal menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai pada tahun 2030, dan pada tahun 2045, seluruh sistem transportasi umum di Indonesia diharapkan telah sepenuhnya beralih ke tenaga listrik.
Yannes menyoroti pentingnya komunikasi yang transparan dengan semua pemangku kepentingan, dari operator transportasi, produsen kendaraan, hingga masyarakat umum.
Ia menyebut bahwa membangun kepercayaan publik sangat krusial agar program ini bisa berjalan lancar dan mendapat dukungan luas.
Selain itu, kepastian dan kesinambungan kebijakan juga menjadi syarat penting.
"Tanpa konsistensi, investor ragu untuk menanamkan modal dan operator bisa enggan bertransisi. Kebijakan harus terarah dan tidak berubah-ubah,” tegas Yannes.
Pemerintah berharap transisi ini dapat menjadi solusi untuk mengurangi emisi karbon dan polusi udara, khususnya di kawasan perkotaan dan destinasi wisata.
Baca Juga: Silent Retreat Weekend: Gaya Hidup Baru untuk Menyepi dari Kebisingan Dunia
Upaya ini juga didukung oleh langkah nyata dari PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) yang menargetkan 50 persen dari armada busnya menggunakan listrik pada 2027, dan sepenuhnya pada 2030.
Dengan dukungan teknologi, regulasi yang tepat, dan sinergi semua pihak, Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin transformasi transportasi ramah lingkungan di kawasan Asia Tenggara.
Namun, jalan menuju target tersebut masih panjang dan penuh tantangan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Bikin Geger! MK Segera Sidangkan Gugatan Gibran, Ini Isi Permohonannya hingga Nasib Kursi Wakil Presiden
- 2Pendidikan Gibran di Australia Disorot Lagi, Sosok Ini Ungkap Temuan Mengejutkan soal UTS Insearch
- 3Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 4Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 5Mantan Kapolsek Pinang Iptu Adityo Wijanarko Resmi Jabat Kanit Reskrim Polsek Kelapa Dua
- 6Truk Air Damkar Tertahan di Tol Janger Gara-gara E-Tol, Pemadaman TPS Pinang Sempat Terhambat
- 7Gibran Ditantang Hentikan MBG Usai Kasus Keracunan, Langkah Pemerintah Jadi Sorotan
- 8Heboh Suahasil Nazara Dituding Korupsi Rp500 Triliun, Ternyata Judul Beritanya Dipalsukan
- 9ITS Giuseppe Garibaldi Tiba di Tanjung Priok, Menhan Sjafrie Ungkap Kondisi Kapal Hibah Italia
- 10TNI AL Temukan 3 Jenazah di KM Virgo Transport 8, Tim Kopaska Pecahkan Kaca Kapal









