Iran Geram, Desak IAEA Kecam Serangan AS: Hukum Internasional Diinjak-injak!

AKURAT BANTEN - Iran tak tinggal diam usai serangan udara Amerika Serikat (AS) menghantam fasilitas militernya. Teheran menyebut tindakan AS itu bukan cuma agresi biasa, tapi pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Dengan nada penuh amarah, Iran melayangkan protes keras ke Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), menuntut lembaga itu mengecam AS dan tak lagi berdiam diri di tengah eskalasi yang mengguncang dunia.
Baca Juga: Gelombang Siber Monster! Serangan DDoS 37,4 Terabyte Bikin Dunia Online Geger
Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, langsung mengirim surat resmi kepada Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi.
Dalam suratnya, Eslami mengungkap kekecewaan mendalam atas sikap IAEA yang dinilai terlalu lamban dan kurang tegas menanggapi serangan yang mengancam stabilitas global.
Ia menyoroti bagaimana AS, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, seenaknya melanggar aturan internasional tanpa konsekuensi berarti.
Baca Juga: Iran Ancam Tutup Selat Hormuz: Dunia di Ambang Krisis Energi Baru?
“Serangan ini adalah pukulan telak terhadap hukum internasional dan NPT,” tegas Eslami, seperti dikutip dari Al Jazeera pada Minggu (22/6/2025).
“IAEA harus berani bersuara, bukan hanya jadi pengamat pasif!”
Eslami juga memperingatkan bahwa Iran sedang menimbang langkah hukum di panggung internasional untuk menyeret AS ke meja hijau. Ia menegaskan bahwa Teheran tak akan membiarkan kedaulatannya diinjak-injak begitu saja.
Selain itu, ia mendesak IAEA untuk keluar dari peran teknis semata dan ikut memperjuangkan keadilan ketika negara besar seperti AS bertindak sewenang-wenang. Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya Iran memperjuangkan posisinya di tengah ketegangan geopolitik.
Baca Juga: Awas! Judi Online Incar Anak-anak, KemenPPPA Imbau Orangtua Tetap Pantau
Serangan AS ini sendiri dipicu oleh kecurigaan Washington bahwa Iran mempercepat program nuklirnya, klaim yang dibantah keras oleh Teheran.
Menurut sumber diplomatik yang dikutip Reuters, serangan itu menargetkan tiga fasilitas yang diduga terkait pengembangan senjata nuklir, meski AS belum merilis bukti publik.
Iran menyebut serangan ini sebagai “tindakan teroris” yang tak hanya merusak infrastruktur, tapi juga menghambat diplomasi nuklir yang sudah berjalan rumit, termasuk negosiasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA).
Konflik ini kini tak cuma soal pertempuran fisik, tapi juga adu strategi di ranah diplomasi. Dengan menyeret IAEA ke pusaran masalah, Iran berupaya memojokkan AS di mata komunitas internasional.
Namun, hingga Senin (23/6/2025) pukul 18:45 WIB, Rafael Grossi belum angkat bicara soal surat Eslami. Sikap diam IAEA ini bikin dunia bertanya-tanya: akankah lembaga itu tetap netral atau terpaksa memihak di tengah tekanan dari berbagai pihak?
Baca Juga: Siap-siap! PPDB SMP Negeri Tangsel 2025 Resmi Dibuka Besok, Ini Jadwal Lengkap dan Kuotanya
“Dunia sedang menyaksikan ujian besar bagi kredibilitas IAEA,” kata Dr. Ali Vaez, analis urusan Iran dari International Crisis Group.
“Jika mereka tak bersikap, kepercayaan terhadap lembaga ini bisa luntur.”
Baca Juga: KPK Tetapkan Tersangka dalam Skandal Gratifikasi MPR RI, Identitas Masih Rahasia
Sementara itu, ketegangan ini memicu reaksi beragam di panggung global. Rusia dan Tiongkok, sekutu Iran, mengecam serangan AS dan mendukung seruan Teheran agar PBB mengambil tindakan.
Di sisi lain, sekutu AS seperti Inggris dan Israel membela Washington, menyebut serangan itu sebagai langkah preventif. Pakar geopolitik dari Universitas Oxford, Dr. Emma Carter, memperingatkan bahwa eskalasi ini bisa memicu krisis lebih luas, termasuk gangguan pasokan energi global, terutama jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz seperti yang diancamkan.
Baca Juga: MIRIS! BNN Ungkap 10 Persen dari Tersangka Penyelundupan Narkoba adalah Ibu Rumah Tangga
Langkah Iran ini juga jadi cerminan rasa frustrasi Teheran terhadap sistem internasional yang dianggap berat sebelah. Dengan ekonomi tertekan sanksi dan tekanan militer yang kian meningkat, Iran seolah ingin menunjukkan bahwa mereka masih punya taring untuk melawan.
Namun, tarik-menarik diplomasi ini juga berisiko memperdalam jurang ketegangan, terutama jika negosiasi nuklir gagal menemui titik temu.
Baca Juga: Tragis! Bom Bunuh Diri Guncang Gereja Mar Elias di Suriah, 22 Orang Tewas
Kini, dunia menahan napas menanti langkah selanjutnya. Apakah IAEA akan menuruti desakan Iran, atau justru tetap bungkam demi menjaga netralitas? Yang jelas, konflik ini bukan cuma soal Iran dan AS, tapi juga ujian bagi tatanan global yang semakin rapuh.
Tanpa diplomasi yang cerdas, dunia bisa tergelincir ke krisis yang lebih dalam, dan semua pihak bakal merasakan dampaknya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Bukan Gibran? Prabowo Disebut Punya 4 Kandidat Cawapres, Ada Nama Mengejutkan
- 2Gugatan Ijazah Gibran di MK Mulai Terbaca, Alasan Ini Bisa Bikin Permohonan Kandas!
- 3Purbaya Dicopot Prabowo, 5 Isu Ini Diduga Jadi Biang Kerok Pergantian Menkeu, Ada yang Bikin Geger!
- 4Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Pramono Anung Buka Suara, 'Ada Pesan Penting untuk Pemerintah'
- 5Gibran Disorot Dino Patti Djalal Gegara Gugatan MK, Kalimat “Bela Diri” Ini Bikin Heboh!
- 6Roy Suryo Bongkar Kejanggalan Dokumen Pendidikan Gibran, Ada Keterangan yang Dipertanyakan
- 7Langit Malam 14 September Bikin Geger, Bulan dan Venus Ternyata Punya 'Pertunjukan' Khusus
- 8Purbaya Dicopot Prabowo, Isi Garasinya Bikin Kaget: Ada Mobil Miliaran Rupiah!
- 9Roy Suryo Minta Rp206 Juta, Hakim Cuma Beri Rp5 Juta! Responsnya Bikin Kaget
- 10Life Jacket Bertuliskan KM Samudera Pratama Ditemukan di Selat Sunda








