Iran Ancam Tutup Selat Hormuz: Dunia di Ambang Krisis Energi Baru?

AKURAT BANTEN - Iran mengguncang dunia dengan rencana menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global, sebagai respons atas serangan udara Amerika Serikat (AS) ke tiga lokasi di wilayahnya.
Keputusan ini, yang sudah mendapat lampu hijau dari Parlemen Iran, jadi sinyal kuat bahwa Teheran nggak main-main membalas agresi AS. Langkah ini berpotensi memicu krisis energi yang bisa bikin harga minyak dunia melonjak tajam.
Rencana penutupan Selat Hormuz diumumkan oleh Mayor Jenderal Esmaeli Kowsari, anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, seperti dilansir Anadolu pada Senin (23/6/2025).
Dia menegaskan bahwa parlemen sudah bulat mendukung langkah drastis ini sebagai bentuk perlawanan terhadap AS.
“Kami di parlemen sepakat bahwa Selat Hormuz harus ditutup untuk menunjukkan sikap tegas kami,” ujar Kowsari.
“Langkah ini adalah respons atas pelanggaran kedaulatan kami oleh AS.”
Baca Juga: Awas! Judi Online Incar Anak-anak, KemenPPPA Imbau Orangtua Tetap Pantau
Meski parlemen sudah menyetujui, keputusan final masih menunggu restu dari Dewan Keamanan Tertinggi Nasional Iran, badan yang punya wewenang menentukan kebijakan strategis negara.
Kowsari menambahkan bahwa dewan ini sedang mempertimbangkan waktu dan cara pelaksanaan penutupan untuk memastikan dampak maksimal tanpa mengorbankan stabilitas domestik Iran.
Selat Hormuz bukan sembarang jalur. Sekitar 20% pasokan minyak dunia, atau sekitar 20 juta barel per hari, melewati selat sempit ini, menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Menurut data dari Energy Information Administration (EIA), penutupan selat, meski hanya sementara, bisa memicu kenaikan harga minyak hingga 50% dalam hitungan minggu.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, yang bergantung pada selat ini untuk ekspor minyak, bakal terdampak parah, begitu pula ekonomi global yang masih rapuh pasca pandemi.
Baca Juga: KPK Tetapkan Tersangka dalam Skandal Gratifikasi MPR RI, Identitas Masih Rahasia
Latar belakang rencana ini bermula dari serangan udara AS yang menargetkan tiga fasilitas di Iran, yang diduga terkait program nuklir Teheran.
AS berdalih serangan itu untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, tapi Teheran menyebutnya sebagai “tindakan teroris” yang melanggar hukum internasional. Ketegangan ini memanaskan Timur Tengah, dengan sekutu Iran seperti Hizbullah dan milisi Syiah di Irak juga mengancam balasan.
Baca Juga: Tragis! Bom Bunuh Diri Guncang Gereja Mar Elias di Suriah, 22 Orang Tewas
“Dunia harus bersiap menghadapi konsekuensi dari arogansi AS,” kata seorang pejabat senior Iran yang enggan disebut namanya.
“Penutupan Selat Hormuz adalah hak kami untuk membela diri.”
Baca Juga: MIRIS! BNN Ungkap 10 Persen dari Tersangka Penyelundupan Narkoba adalah Ibu Rumah Tangga
Dampak potensial dari ancaman ini sudah bikin pasar gelisah. Harga minyak Brent naik 7% dalam sehari setelah kabar ini mencuat, menurut laporan Bloomberg.
Negara-negara konsumen besar seperti Tiongkok, India, dan Jepang mulai was-was, sementara Eropa, yang masih bergulat dengan krisis energi akibat konflik Rusia-Ukraina, bisa makin terjepit. Analis dari Goldman Sachs memperingatkan bahwa penutupan selat bisa memicu resesi global jika berlangsung lebih dari sebulan.
Baca Juga: Janji Makan Gratis Jadi Jebakan, Warga Nganjuk Ditipu Data Pribadinya untuk Akun Shopee
Di sisi lain, beberapa pengamat meragukan Iran bakal benar-benar menutup selat, mengingat Teheran juga bergantung pada ekspor minyak untuk ekonominya.
Namun, Dr. Reza Amiri, pakar Timur Tengah dari Universitas Teheran, menyebut ancaman ini sebagai strategi Iran untuk menekan komunitas internasional agar mengecam AS.
“Ini adalah permainan berisiko tinggi,” ujar Amiri.
“Iran ingin dunia tahu bahwa mereka punya kartu kuat untuk menggoyang ekonomi global.”
Baca Juga: Iran Ancam Serang Balik Pangkalan AS, Ketegangan Timur Tengah Memanas
Sementara itu, komunitas internasional mendesak dialog untuk meredakan ketegangan. Sekjen PBB António Guterres menyerukan semua pihak menahan diri, sementara Tiongkok dan Rusia, sekutu Iran, meminta AS bertanggung jawab atas eskalasi ini.
Dengan dunia di ujung krisis energi baru, langkah Iran selanjutnya bakal menentukan apakah kita hanya menghadapi gertakan atau malapetaka ekonomi yang nyata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Bukan Gibran? Prabowo Disebut Punya 4 Kandidat Cawapres, Ada Nama Mengejutkan
- 2Gugatan Ijazah Gibran di MK Mulai Terbaca, Alasan Ini Bisa Bikin Permohonan Kandas!
- 3Purbaya Dicopot Prabowo, 5 Isu Ini Diduga Jadi Biang Kerok Pergantian Menkeu, Ada yang Bikin Geger!
- 4Gibran Disorot Dino Patti Djalal Gegara Gugatan MK, Kalimat “Bela Diri” Ini Bikin Heboh!
- 5Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Pramono Anung Buka Suara, 'Ada Pesan Penting untuk Pemerintah'
- 6Roy Suryo Bongkar Kejanggalan Dokumen Pendidikan Gibran, Ada Keterangan yang Dipertanyakan
- 7Langit Malam 14 September Bikin Geger, Bulan dan Venus Ternyata Punya 'Pertunjukan' Khusus
- 8Purbaya Dicopot Prabowo, Isi Garasinya Bikin Kaget: Ada Mobil Miliaran Rupiah!
- 9Roy Suryo Minta Rp206 Juta, Hakim Cuma Beri Rp5 Juta! Responsnya Bikin Kaget
- 10Life Jacket Bertuliskan KM Samudera Pratama Ditemukan di Selat Sunda








