Banten

Gelombang Siber Monster! Serangan DDoS 37,4 Terabyte Bikin Dunia Online Geger

Andi Syafrani | 23 Juni 2025, 18:43 WIB
Gelombang Siber Monster! Serangan DDoS 37,4 Terabyte Bikin Dunia Online Geger

AKURAT BANTEN - Dunia digital baru saja dikejutkan oleh serangan siber yang skalanya benar-benar bikin merinding. Bayangkan, 37,4 terabyte data dikirim dalam waktu cuma 45 detik dalam serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang menargetkan satu titik di jagat maya.

Serangan super masif ini untungnya berhasil digagalkan oleh Cloudflare, perusahaan raksasa di bidang keamanan siber, sebelum sempat mengacaukannya layanan digital yang jadi sasaran. Tapi, kejadian ini bikin kita sadar betapa rentannya dunia online terhadap ancaman yang kian canggih dan ganas.

Baca Juga: Iran Ancam Tutup Selat Hormuz: Dunia di Ambang Krisis Energi Baru?

Menurut laporan Cloudflare, serangan ini menyerbu satu alamat IP dengan kecepatan puncak mencapai 7,3 terabit per detik (Tbps).

Biar gampang dibayangkan, volume datanya setara dengan 9.000 film HD yang dibanjiri ke sistem dalam waktu kurang dari satu menit! Bukan cuma soal jumlah data yang bikin geleng-geleng, tapi kecepatan dan intensitasnya yang nggak kasih ampun. 

Baca Juga: KOREA UTARA MURKA!, Kecam Serangan AS ke Fasilitas Nuklir Iran: Sebut Israel Biang Kerok Kekacauan Timur Tengah

“Serangan ini seperti tsunami digital yang datang tiba-tiba, tanpa peringatan, dan berusaha menenggelamkan sistem dalam sekejap,” ujar salah satu analis keamanan Cloudflare. 

Baca Juga: Awas! Judi Online Incar Anak-anak, KemenPPPA Imbau Orangtua Tetap Pantau

Pelaku serangan memanfaatkan protokol User Datagram Protocol (UDP) sebagai senjata utama. Protokol ini terkenal karena ringan dan cepat, nggak pake ribet verifikasi seperti protokol TCP. Akibatnya, penyerang bisa mengguyur target dengan data dalam jumlah gila-gilaan tanpa jeda.

Selain itu, mereka juga pakai trik licik bernama serangan refleksi. Caranya? Mereka memalsukan alamat IP korban dan mengelabui server pihak ketiga seperti NTP, QOTD, sampai Echo protocol untuk mengirim balasan data ke korban. Bayangkan, korban tiba-tiba diserbu data dari mana-mana padahal nggak pernah minta!

Baca Juga: Bocah 10 Tahun Ditemukan Tewas di Kamar Mess Pabrik Tebu, Diduga Jadi Korban Pemerkosaan dan Pembunuhan

“Teknik ini ibarat penyerang menyuruh orang lain membanjiri rumah korban dengan paket yang nggak dipesan, sementara mereka sendiri bersembunyi di balik bayang-bayang,” jelas seorang pakar keamanan siber dari Universitas Stanford.

Untungnya, benteng digital Cloudflare terbukti kuat. Sistem pertahanan mereka mampu menangkal semua serangan tanpa membuat layanan yang dilindungi tersendat. Meski begitu, kejadian ini jadi peringatan keras bahwa ancaman siber sekarang jauh lebih brutal dibandingkan beberapa tahun lalu.

Data dari laporan keamanan siber global menunjukkan bahwa serangan DDoS meningkat 30% dalam setahun terakhir, dengan pelaku semakin kreatif memanfaatkan celah di infrastruktur internet yang sudah tua.

Baca Juga: Siap-siap! PPDB SMP Negeri Tangsel 2025 Resmi Dibuka Besok, Ini Jadwal Lengkap dan Kuotanya

Baca Juga: KPK Tetapkan Tersangka dalam Skandal Gratifikasi MPR RI, Identitas Masih Rahasia

Serangan ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi global di dunia keamanan siber. Bukan cuma soal melindungi satu perusahaan atau layanan, tapi menjaga stabilitas ekosistem digital yang kini jadi tulang punggung ekonomi, komunikasi, dan kehidupan sehari-hari.

Para ahli menyarankan penyedia layanan internet, pengembang perangkat lunak, hingga pemerintah untuk bekerja sama memperkuat infrastruktur dan membangun sistem deteksi ancaman yang lebih cerdas.

“Ini bukan lagi cuma soal teknologi, tapi soal kesiapan kita sebagai komunitas global menghadapi musuh yang nggak kelihatan,” kata Direktur Eksekutif Cyber Threat Alliance, Michael Daniel. 

Baca Juga: Tragis! Bom Bunuh Diri Guncang Gereja Mar Elias di Suriah, 22 Orang Tewas

Kejadian ini juga mengingatkan kita bahwa dunia maya nggak cuma soal kemudahan dan konektivitas. Di balik kemilau teknologi, ada ancaman yang terus mengintai, siap mengguncang kapan saja.

Dengan serangan siber yang skalanya semakin ngeri, kita semua—dari pengguna biasa sampai perusahaan raks - perlu lebih aware dan proaktif menjaga keamanan digital. Kalau nggak, tsunami data berikutnya mungkin nggak cuma bikin panik, tapi benar-benar bikin dunia online kolaps.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC