Banten

Maut Mengintai di Balik 'Bubur Pasir': Perjuangan 700 Personel SAR Pertaruhkan Nyawa Demi 80 Korban Longsor Cisarua

Saeful Anwar | 25 Januari 2026, 16:19 WIB
Maut Mengintai di Balik 'Bubur Pasir': Perjuangan 700 Personel SAR Pertaruhkan Nyawa Demi 80 Korban Longsor Cisarua

AKURAT BANTEN– Waktu seakan berhenti di lereng Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Namun bagi ratusan personel Basarnas, jarum jam justru berdetak lebih kencang dari biasanya.

Mereka sedang terlibat dalam perlombaan paling krusial: adu cepat melawan maut.

Hingga Minggu (25/1/2026), sebanyak 80 jiwa dilaporkan masih hilang, tertimbun di bawah hamparan material longsor yang mengerikan.

Medan yang dihadapi bukan lagi tanah padat, melainkan fenomena yang disebut tim ahli sebagai "bubur pasir".

Baca Juga: Detik-detik Menegangkan: Menteri KKP Tumbang di Upacara Pemakaman, Kepala Terbentur Lantai

Terjebak dalam 'Bubur Pasir' yang Labil

Kondisi di lapangan sangat jauh dari kata aman. Material longsoran di Cisarua bersifat sangat labil.

Tanah bercampur air menciptakan konsistensi seperti bubur pasir yang bisa amblas atau bergeser kapan saja.

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, mengungkapkan bahwa alat berat tidak bisa dikerahkan secara masif.

Salah langkah sedikit, alat berat justru bisa memicu longsoran susulan yang membahayakan tim penyelamat.

"Alat berat belum sepenuhnya bisa digunakan karena kondisi medan masih berupa longsoran bubur pasir dan sangat rawan," tegas Syafii dengan raut wajah serius saat memantau langsung operasi di lokasi.

Baca Juga: Getir Pesan Terakhir Lula Lahfah Sebelum Berpulang: 'Nu, Gue Takut Banget...'

Teknologi Drone vs Penciuman Anjing Pelacak

Di tengah keterbatasan alat berat, Basarnas mengerahkan teknologi mutakhir dan insting hewan untuk menembus kemustahilan:

Mata Langit: Sebanyak 12 unit drone dengan sensor termal dan visual resolusi tinggi menyisir setiap jengkel area dari udara untuk memetakan titik-titik potensial keberadaan korban.

Kekuatan Gabungan: Lebih dari 700 personel gabungan dikerahkan, terdiri dari 250 personel SAR terlatih sebagai ujung tombak, serta 450 personel pendukung dari TNI, Polri, dan kementerian terkait.

Metode Sektoral: Area bencana dibagi menjadi beberapa zona, mulai dari mahkota longsor hingga ujung lidah longsoran, guna memastikan tidak ada satu titik pun yang terlewatkan.

Baca Juga: Cuma Sampai 27 Januari! Indofood Tangerang Buka Lowongan S1 Semua Jurusan, Segera Daftar!

Operasi Kemanusiaan Terbesar di Awal Tahun

Operasi ini bukan sekadar pencarian, melainkan kerja kolosal yang menguras emosi dan fisik. Selain tantangan medan, cuaca yang tidak menentu menjadi musuh tambahan.

Basarnas bahkan melakukan modifikasi cuaca demi menjaga agar hujan tidak kembali mengguyur area yang sudah sangat jenuh air tersebut.

Setiap menit sangat berarti. Di bawah komando Basarnas, tim penyelamat terus menggali, mengendus, dan memantau, berharap keajaiban masih menyelimuti puluhan warga yang terpisah dari keluarga mereka dalam sekejap mata.

Dunia kini menatap Cisarua. Di atas tumpukan "bubur pasir" itu, sebuah pertaruhan nyawa sedang berlangsung demi membawa pulang mereka yang hilang (**) 

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman