Banten

Tangis Pecah Sri Mulyani Saat Pamit, Dihantui Kenangan dan Kebijakan Kontroversial: Mengapa Sang Menteri Menangis?

Saeful Anwar | 9 September 2025, 20:48 WIB
Tangis Pecah Sri Mulyani Saat Pamit, Dihantui Kenangan dan Kebijakan Kontroversial: Mengapa Sang Menteri Menangis?

AKURAT BANTEN-Selasa, 9 September 2025, menjadi hari yang penuh haru di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meneteskan air mata saat berpamitan dengan jajaran pegawai yang telah bersamanya selama bertahun-tahun.

Momen emosional ini tak hanya menjadi perbincangan, tetapi juga menyentuh hati banyak orang, termasuk warganet.

Baca Juga: Ganti Menteri Keuangan, Pasar Bergejolak: Sinyal Bahaya atau Awal Era Baru?


Sebuah Perpisahan yang Penuh Kehangatan

Saat keluar dari gedung Kemenkeu, Sri Mulyani disambut oleh lautan pegawai yang mengiringinya.

Mereka tak hanya berdiri, tetapi juga memberikan mawar putih sebagai simbol penghargaan dan rasa terima kasih.

Di sampingnya, sang suami, Tonny Sumartono, turut menemani, memberikan dukungan di tengah suasana yang haru.

Beberapa pegawai bahkan berani meminta tanda tangan Sri Mulyani, menunjukkan betapa besarnya rasa hormat mereka.

Suasana semakin syahdu ketika para pegawai secara kompak menyanyikan lagu "Bahasa Kalbu" dari Titi DJ dan "Karena Cinta" dari Joy Tobing.

Lirik yang penuh makna, "Hanya diriku paling mengerti kegelisahan jiwamu, kasih..." seolah menjadi representasi dari hubungan erat antara Sri Mulyani dan para pegawainya.

Tangis Sri Mulyani pecah, dan sang suami memeluknya, memberikan ketenangan.

Baca Juga: Yudo Sadewa Sebut Sri Mulyani Agen CIA, Ternyata Anak Purbaya Yudhi Sadewa Bukan Orang Sembarangan?

Mengapa Momen Ini Begitu Menyentuh?

Perpisahan ini menjadi sorotan karena menampilkan sisi lain dari sosok Sri Mulyani yang dikenal tegas dan berwibawa.

Di balik kebijakan-kebijakan yang sering menuai pro dan kontra, ada hubungan batin yang kuat dengan para pegawainya.

"Terima kasih, Ibu. Percayalah, semangat Ibu akan selalu menjadi panutan, menerangi perjalanan kami ke depannya," ucap salah satu pegawai, menggambarkan betapa besar pengaruhnya.

Momen ini juga menjadi viral di media sosial. Beragam komentar muncul. Meskipun sering dikritik terkait kebijakannya, banyak warganet yang bersimpati.

Mereka melihat Sri Mulyani sebagai sosok menteri yang kompeten, meski terkadang dianggap "blunder" dengan kebijakan-kebijakannya.

Sentimen ini menguat, terutama setelah rumahnya menjadi target penjarahan di tengah demonstrasi beberapa waktu lalu.

Perpisahan ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi sebuah pengakuan atas dedikasi dan hubungan emosional yang telah terjalin.

Air mata Sri Mulyani, mawar putih dari para pegawai, dan nyanyian yang penuh makna, semua menjadi bukti bahwa di balik jabatan, ada kemanusiaan dan hubungan yang tulus (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman