Gunung Merapi Luncurkan 7 Guguran Lava, Warga Diminta Waspada Potensi Awanpanas

Akurat Banten - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitasnya yang tak bisa dianggap remeh.
Di tengah hening dini hari, langit perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta perlahan memerah diterangi cahaya guguran lava pijar.
Suara gemuruh samar terdengar, menandai bahwa raksasa alam ini belum juga tenang.
Dalam enam jam terakhir, setidaknya tercatat tujuh kali luncuran lava menuju Kali Sat/Putih dengan jarak sejauh 1.700 meter.
“Gunung Merapi masih pada level III siaga,” ujar Suraji, petugas pengamat gunung Merapi dari Badan Geologi ESDM.
Tak hanya lava, aktivitas vulkanik lainnya juga meningkat.
Dari rekaman alat pemantau kegempaan, terdeteksi lebih dari 20 kali gempa guguran dan hampir 30 gempa hybrid.
Angka-angka tersebut menjadi pertanda jelas bahwa tekanan dari dalam perut bumi sedang mencari jalan keluar.
Baca Juga: Kapal Cepat Banyuwangi–Denpasar, Solusi Cerdas Atasi Macet dan Buka Peluang Wisata Baru
Visual dari puncak Merapi juga mendukung temuan ini. Asap putih tipis mengepul setinggi sekitar 25 meter dari kawah utama.
Meski angin saat itu tenang dan cuaca cenderung berawan, suhu udara yang hanya 17,9°C dan kelembapan tinggi menunjukkan kondisi mikroklimat di sekitar gunung cukup mendukung terjadinya pembentukan awanpanas guguran.
Masyarakat yang tinggal di sektor selatan-barat daya hingga tenggara, diminta benar-benar waspada.
Jalur-jalur sungai seperti Boyong, Bebeng, dan Gendol bisa saja sewaktu-waktu menjadi lintasan lahar maupun awanpanas.
Bahkan, apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik bisa melontar sejauh tiga kilometer dari puncak.
Badan Geologi ESDM pun tak henti mengingatkan masyarakat agar tidak nekat mendekati daerah potensi bahaya.
Segala bentuk aktivitas di zona tersebut sangat tidak disarankan, termasuk wisata maupun pencarian rumput ternak.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung,” ujar Suraji.
Ia menambahkan bahwa ini bisa memicu awanpanas guguran kapan saja, terutama jika terjadi pemicu dari faktor eksternal seperti hujan lebat.
Potensi bahaya bukan hanya berupa lava dan awanpanas. Saat musim hujan tiba, bahaya lahar dingin menjadi ancaman tersendiri.
Material vulkanik yang telah menumpuk di lereng gunung dapat terbawa arus dan melanda kawasan pemukiman yang berada di hilir.
Gunung Merapi, dalam segala keangkuhannya, memang tidak bisa dianggap enteng.
Meskipun terlihat tenang dari kejauhan, denyutnya masih terasa, dan ancaman selalu mengintai.
Kini, masyarakat hanya bisa mengandalkan kewaspadaan dan kepatuhan terhadap peringatan untuk menjaga keselamatan bersama.
Sebab Merapi, sebagaimana namanya yang berarti “gunung berapi,” adalah simbol kekuatan alam yang tak pernah tidur.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Begini Alasan Dedi Mulyadi Saat Dicari Prabowo di Rakornas, Lebih Baik di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai
- 2Kasus Korupsi Pesawat Fiktif Rp4,94 Miliar, Eks Dirut Angkasa Pura Kargo Jadi Tersangka
- 3150 Guru Besar Kirim Surat Terbuka Desak Gibran Mundur, Bareskrim Bergerak Maraton Cecar Pelapor Kasus Suket Ijazah!
- 4Disaat Kumpul Keluarga Akhir Pekan, Resep Masakan Kepala Ikan Kakap jadi Primadona Keluarga
- 5Prabowo Akhirnya Buka Kartu! Said Didu Cium Perombakan Besar Kabinet Sebelum Akhir Oktober
- 6AC Milan Hancur Lebur di Markas Bournemouth: 4 Pemain Ini Jadi Biang Keladi Pembantaian Rossoneri!
- 7Bayar 'Hutang' 16 Tahun Lalu, Skuad Emas Manchester United Resmi Bentrok Lawan Persija di SUGBK!
- 8Ballon d’Or 2026 Segera Terjawab! Ini Jadwal Pengumuman, Jam Tayang WIB, dan Kandidat yang Berebut Trofi
- 9MU Makin Terpuruk, Pecat Michael Carrick Saja Tak Cukup! Ini 5 Masalah Besar yang Menghantui Setan Merah
- 10MU Kalah Telak dari Bournemouth, tetapi Tak Bisa Langsung Pecat Michael Carrick? Ini Aturan yang Bikin Penasaran!









