Dedi Mulyadi Masuk Bursa Pilpres 2029, Tapi Ada Satu Hambatan Besar yang Disorot Pengamat

AKURAT BANTEN – Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menjadi bahan pembicaraan dalam dinamika politik menuju Pemilihan Presiden 2029.
Namun, pembahasan tersebut berhadapan dengan satu persoalan utama, yakni posisi Dedi yang hingga kini masih menjadi bagian dari Partai Gerindra.
Pengamat politik Adi Prayitno menilai status politik Dedi saat ini menjadi faktor penting ketika namanya dikaitkan dengan kontestasi nasional.
Menurut analisisnya, sulit membayangkan Dedi maju sebagai pesaing Presiden Prabowo Subianto selama dirinya masih berada di Gerindra dan memberikan dukungan kepada pemerintahan Prabowo.
Baca Juga: Elektabilitas Gibran Cuma 2 Persen, Dedi Mulyadi 19,8 Persen, 'Wacana Duet 2029 Jadi Sorotan'
Dedi bukan sekadar tercatat sebagai kader partai. Ia juga menduduki posisi Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra.
Dalam sejumlah pernyataannya, Dedi pun menunjukkan dukungan terhadap Prabowo dan partai yang menaunginya.
Kondisi tersebut membuat skenario Dedi berhadapan langsung dengan Prabowo pada Pilpres 2029 menjadi bahan analisis yang kompleks.
Adi berpandangan, pembicaraan mengenai kemungkinan tersebut baru akan memiliki konteks berbeda apabila Dedi tidak lagi menjadi bagian dari Gerindra.
Baca Juga: Survei SMRC Bikin Kejutan, Dedi Mulyadi Salip Prabowo dalam Simulasi Pilpres 2029
Jika suatu saat terjadi perubahan posisi politik, menurut Adi, barulah berbagai kemungkinan terkait langkah Dedi pada Pilpres 2029 dapat dibahas lebih jauh.
Termasuk kemungkinan apakah dirinya akan maju sebagai calon presiden atau mengambil posisi politik lainnya.
Selain kemungkinan menjadi rival, terdapat pula skenario lain yang pernah muncul dalam pembahasan politik, yakni Dedi dipertimbangkan sebagai calon wakil presiden dalam konfigurasi yang tetap melibatkan koalisi pendukung Prabowo.
Namun, kemungkinan tersebut juga masih berupa wacana dan belum disertai keputusan resmi dari partai politik maupun Dedi sendiri.
Baca Juga: Survei SMRC Bikin Kejutan, Dedi Mulyadi Salip Prabowo dalam Simulasi Pilpres 2029
Di tengah munculnya berbagai spekulasi, Dedi justru menyatakan dirinya belum memikirkan kontestasi Pilpres 2029.
Ia memilih berkonsentrasi menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat.
Menurut Dedi, perhatian saat ini diarahkan pada bagaimana menjalankan pemerintahan dan menjadi gubernur yang berhasil, bukan mempersiapkan diri menghadapi pemilu yang masih beberapa tahun lagi.
Nama Dedi semakin sering diperbincangkan setelah sejumlah survei politik memasukkannya dalam pemetaan tokoh menuju 2029.
Baca Juga: Mahfud MD Kritik Sayembara Tangkap Begal Dedi Mulyadi, Sebut Bisa Picu Anarki
Salah satu survei nasional yang dilakukan pada Juli hingga awal Agustus 2026 mencatat Dedi memperoleh 19,8 persen dalam simulasi terbuka dan 20,6 persen dalam simulasi semi-terbuka.
Angka tersebut merupakan hasil pengukuran pada periode survei dan bukan kepastian mengenai pencalonan ataupun hasil Pemilu 2029.
Karena itu, hasil survei perlu dibaca dalam konteks waktu ketika penelitian dilakukan.
Elektabilitas dalam survei menggambarkan respons responden terhadap nama-nama yang diuji, sedangkan pencalonan presiden nantinya tetap berkaitan dengan keputusan pribadi tokoh, dukungan partai politik, serta aturan pemilu yang berlaku.
Di sisi lain, perkembangan aturan pencalonan juga menjadi bagian dari dinamika menuju 2029.
Setelah Mahkamah Konstitusi menghapus ketentuan presidential threshold melalui Putusan Nomor 62/PUU-XXII/2024, pemerintah dan DPR perlu merumuskan ketentuan baru mengenai pencalonan presiden dan wakil presiden.
Dengan kondisi tersebut, posisi Dedi di Gerindra menjadi salah satu aspek yang terus diperhatikan ketika namanya dikaitkan dengan Pilpres 2029.
Namun, belum terdapat keputusan resmi bahwa Dedi akan maju sebagai calon presiden maupun wakil presiden.
Untuk saat ini, Dedi masih menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat.
Sementara pembicaraan mengenai langkah politiknya pada 2029 masih berada pada tahap wacana dan analisis, sehingga arah akhirnya masih dapat berubah mengikuti perkembangan politik dan keputusan para pihak terkait.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 2Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 3Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 4Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 5Belum Mahir Menyetir, Sopir Pickup SPPG Cibaliung 2 Tabrak 3 Relawan Sampai Terkapar
- 6Jika Gibran Didiskualifikasi MK, 3 Nama Ini Muncul Jadi Wapres Pengganti, Ada AHY dan Anies
- 7Terungkap Dokumen Grade 12 Gibran di UTS Insearch Kembali Dipersoalkan, Disebut Bukan Ijazah SMA
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 9Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 10Dedi Mulyadi Masuk Bursa Pilpres 2029, Tapi Ada Satu Hambatan Besar yang Disorot Pengamat







