Satu Abad Menjaga Kesetiaan, Istri Legenda Kapolri Hoegeng Berpulang, Bangsa Kehilangan Saksi Sejarah

AKURAT BANTEN - Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok penting yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang bangsa.
Meriyati Roeslani, istri dari mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, meninggal dunia pada usia 100 tahun, meninggalkan jejak keteladanan yang mendalam bagi keluarga, institusi kepolisian, dan masyarakat luas.
Kepergian Meriyati, yang akrab disapa Eyang Meri, membawa duka tersendiri, bukan hanya karena usia panjang yang telah ia lalui, tetapi juga karena perannya yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup salah satu tokoh paling bersih dan berintegritas dalam sejarah Polri.
Selama lebih dari tujuh dekade, Eyang Meri mendampingi Hoegeng melewati berbagai fase penting, dari masa awal pengabdian hingga menjadi figur nasional yang dihormati.
Baca Juga: Berita Duka, Influencer Lula Lahfah Kekasih Reza Arap Meninggal Dunia
Eyang Meri mengembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan medis akibat kondisi kesehatan yang menurun.
Di tengah suasana haru, keluarga memastikan bahwa prosesi pemakaman akan dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat, sebuah tempat yang memiliki makna emosional mendalam.
Di sanalah Eyang Meri akan disemayamkan, berdampingan dengan sang suami tercinta yang telah lebih dulu wafat.
Kehidupan Meriyati Roeslani dikenal jauh dari sorotan glamor.
Ia menjalani hidup dengan kesederhanaan, meski menyandang status sebagai istri pejabat tinggi negara.
Nilai-nilai itu pula yang menjadi fondasi keluarga Hoegeng, yang selama ini dikenal publik sebagai simbol kejujuran, ketegasan, dan keberanian dalam menegakkan prinsip.
Bagi banyak kalangan, Eyang Meri bukan sekadar istri seorang jenderal.
Ia adalah figur pendamping yang kuat, setia, dan konsisten menjaga nilai-nilai moral dalam rumah tangga maupun kehidupan sosial.
Baca Juga: Aktor Senior Epy Kusnandar Meninggal Dunia Diusia 61 Tahun, Jadwal Pemakaman Dilakukan Besok
Di balik ketegasan Hoegeng sebagai pemimpin Polri, ada sosok istri yang menjadi penopang utama dalam menghadapi tekanan, kritik, dan dinamika politik pada masanya.
Kepergian Eyang Meri juga menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh besar di garis depan, tetapi juga oleh mereka yang berdiri di belakang layar.
Kesetiaan, keteguhan, dan pengabdian tanpa pamrih menjadi warisan nilai yang kini kembali relevan di tengah tantangan zaman.
Sejumlah tokoh dan masyarakat menyampaikan belasungkawa dan penghormatan atas wafatnya Eyang Meri.
Baca Juga: Duel Golok di Pandeglang Berujung Maut, Satu Orang Meninggal Dunia
Karangan bunga memenuhi rumah duka, mencerminkan besarnya rasa hormat publik terhadap keluarga Hoegeng yang selama ini menjadi simbol integritas dan keberanian moral.
Di usia satu abad, perjalanan hidup Eyang Meri mencerminkan ketangguhan seorang perempuan Indonesia yang menjalani hidup dalam kesederhanaan, namun sarat makna.
Ia menyaksikan perubahan zaman, pergantian kepemimpinan, serta dinamika bangsa dari masa ke masa, sembari tetap memegang teguh nilai-nilai keluarga dan kebangsaan.
Kini, kepergian Eyang Meri menutup satu bab penting dalam sejarah keluarga Hoegeng.
Namun nilai-nilai yang ia wariskan akan terus hidup, menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa keteladanan sejati tidak selalu hadir di panggung utama, melainkan tumbuh dari kesetiaan dan ketulusan sepanjang hayat.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









