Banten

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Tertekan, Ini Dampak Bagi Ekonomi Indonesia

Andi Syafriadi | 10 April 2025, 13:08 WIB
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Tertekan, Ini Dampak Bagi Ekonomi Indonesia

AKURAT BANTEN - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, pelaku usaha, hingga masyarakat umum.

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Los Angeles Ancam Industri Asuransi, Kerugian Hingga Miliaran Dolar AS

Menguatnya dolar AS membuat nilai tukar rupiah berada di posisi yang lebih lemah dibandingkan sebelumnya.

Pada perdagangan pekan ini, kurs rupiah sempat bergerak di kisaran Rp15.900 hingga Rp16.200 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah ini dipicu oleh beberapa faktor eksternal, terutama kebijakan The Federal Reserve (Bank Sentral AS) yang mempertahankan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi di Amerika Serikat.

Selain itu, ketegangan geopolitik global serta ketidakpastian ekonomi dunia juga turut memicu pelarian modal (capital outflow) dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset-aset aman seperti dolar AS.

Dampak Melemahnya Rupiah bagi Ekonomi Indonesia

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah tentu tidak bisa dianggap sepele.

Ada beberapa dampak langsung maupun tidak langsung yang bisa dirasakan oleh perekonomian nasional. Berikut beberapa di antaranya:

1. Harga Barang Impor Naik

Pelemahan rupiah otomatis membuat biaya impor menjadi lebih mahal.

Baca Juga: Rencana BRICS, Siap Luncurkan Uang Bersama, Melawan Monopoli Dolar Dipasar Global, Indonesia Baru Mendaftarkan Diri Bergabung

Barang-barang yang bahan bakunya berasal dari luar negeri akan mengalami kenaikan harga.

Hal ini bisa berdampak pada harga produk elektronik, otomotif, alat kesehatan, hingga produk konsumsi tertentu yang banyak mengandalkan impor.

2. Potensi Kenaikan Harga BBM dan Energi

Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan BBM dan gas. Ketika rupiah melemah, biaya impor energi meningkat.

Baca Juga: Vladimir Putin Ungkap Alasan BRICS Terbitkan Uang Kertas, untuk Alat Transaksi Alternatif Selain Dolar AS, Ada Bendera dan Tulisan Republik Indonesia

Jika kondisi ini berlangsung lama, bukan tidak mungkin harga BBM, LPG, atau tarif listrik bisa mengalami penyesuaian naik.

3. Tekanan Inflasi

Kenaikan harga barang impor dan energi berpotensi mendorong inflasi. Jika harga kebutuhan pokok ikut naik, daya beli masyarakat bisa tertekan.

Ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

4. Beban Utang Luar Negeri Membengkak

Perusahaan dan pemerintah yang memiliki utang dalam bentuk dolar juga akan terkena dampaknya.

Nilai utang dalam rupiah otomatis membengkak seiring pelemahan kurs. Hal ini bisa menambah beban biaya pembayaran cicilan dan bunga utang.

5. Sisi Positif bagi Ekspor dan Pariwisata

Baca Juga: Miris! Peretas Pusat Data Nasional, Minta Imbalan 8 Juta Dolar

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga bisa memberikan keuntungan bagi eksportir karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Selain itu, sektor pariwisata juga berpotensi meningkat karena wisatawan asing mendapat keuntungan lebih besar saat berbelanja atau berlibur di Indonesia.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi.

Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan mata uang lokal (local currency settlement) dalam transaksi perdagangan regional untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Di tengah tekanan global, koordinasi antara pemerintah, BI, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.