Banten

FITNAH! Tentang Sadisme GERWANI di Lubang Buaya Absurd

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 1 Oktober 2023, 09:14 WIB
FITNAH! Tentang Sadisme GERWANI di Lubang Buaya Absurd

AKURAT BANTEN - Cerita-cerita mengenai kekejaman bahkan kesadisan Gerwani di Lubang Buaya adalah absurd. Konon di Lubang Buaya kader-kader PKI melakukan tindakan yang sangat biadab, termasuk penyayatan atas kemaluan dan pencungkilan mata para perwira.

Versi ini telah dibantah kebenarannya. Tahun 1987, dalam jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell, Ben Anderson, seorang ahli sejarah tentang Indonesia, mengungkapkan laporan dokter yang membuat visum et repertum atas jenazah para korban.

Dalam resume penelitian tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr Roebiono Kertapati itu, tertulis bahwa tak ada kemaluan korban yang disayat. Hal ini sekaligus mengukuhkan ucapan Presiden Soekarno, yang sebelumnya sempat mengatakan, bahwa 100 silet yang dibagikan kepada massa untuk menyayat-nyayat tubuh korban tak masuk akal (Diniah, 2007:175-178).

Baca Juga: Kesaksian Lembaran Hitam Dari Peristiwa G30S PKI Dalam Bahasa Langit

"Saskia Eleonora Wieringa—seorang sarjana Belanda penulis buku The Politicization of Gender Relations in Indonesia—menilai penjelasan resmi Orde Baru atas pembunuhan Lubang Buaya sebagai fantasi aneh (Wieringa, 1999)."

Dia mengatakan, penguasa militer dan golongan konservatif khawatir melihat kekuatan perempuan di zaman Soekarno, yang boleh jadi akan mengebiri kekuatan politik mereka. Dari sinilah mengalir fantasi aneh tentang pengebirian para perwira di Lubang Buaya itu.

"Semua pemberitaan mengenai Gerwani adalah fitnah yang dimulai oleh Soeharto sendiri,” kata Sulami tokoh Gerwani.

Baca Juga: Pengunjung MELUBER pada MUKTAMAR Muhammadiyah ke 48 Menghadirkan Ustaz ADI HIDAYAT

Ia, yang kini ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, pernah melakukan identifikasi terhadap mereka yang dibunuh ketika itu, mulai tempat, cara, hingga siapa saja yang membunuh (Aminuddin, 2007).

Keberadaan sejumlah anggota Gerwani di Lubang Buaya itu pun masih penuh kabut. Beberapa peneliti justru tak melihat tindakan mereka sebagai usaha persiapan kudeta, melainkan dimaksudkan untuk memberi dukungan terhadap proyek politik Soekarno dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Mereka adalah bagian dari 20 juta relawan yang hendak memenuhi ajakan Soekarno untuk merebut Irian Barat (1962) dan ganyang Malaysia (1964-1965).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.