Banten

Mengapa Banyak Startup Bangkrut di Tahun Pertama? Ini Jawaban Mengejutkan Para Ahli!

Moehamad Dheny Permana | 19 Mei 2025, 20:42 WIB
Mengapa Banyak Startup Bangkrut di Tahun Pertama? Ini Jawaban Mengejutkan Para Ahli!

Akurat Banten - Fenomena bangkrutnya banyak startup dalam tahun pertama operasional menjadi sorotan tajam di dunia bisnis.

Meski hadir dengan ide-ide inovatif dan semangat tinggi, tak sedikit perusahaan rintisan yang harus gulung tikar sebelum benar-benar berkembang.

Lalu, apa sebenarnya penyebab utama kegagalan tersebut?

Menurut laporan berbagai lembaga riset kewirausahaan, termasuk data dari CB Insights dan Startup Genome, lebih dari 70% startup gagal dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan sejak peluncuran.

Baca Juga: Bongkar Trik! Bagaimana Perusahaan Kecil Bisa Kalahkan Raksasa Pasar

Para ahli mengungkapkan bahwa penyebab utamanya bukan sekadar kekurangan dana, melainkan lebih kompleks dari itu.

Faktor utama yang memicu kegagalan startup, menurut para pakar, adalah kurangnya pemahaman pasar.

Banyak pendiri startup terlalu fokus pada produk, tetapi melupakan kebutuhan dan perilaku konsumen.

Mereka menciptakan solusi untuk masalah yang sebenarnya tidak dianggap penting oleh pasar.

Baca Juga: Aksi Preman di Pasar Induk Kramat Jati Berakhir, Polisi Bekuk Pelaku Pengancaman Pedagang Kopi

Ini umumnya terjadi pada tahun pertama operasional, yaitu saat perusahaan masih berusaha menemukan model bisnis yang tepat.

Kondisi ini terjadi di banyak wilayah, tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara global.

Tekanan persaingan, tantangan pemasaran, serta manajemen yang kurang solid semakin memperparah situasi.

Lalu mengapa ini terus terjadi? Kurangnya pengalaman, strategi yang lemah, dan ekspektasi berlebihan terhadap pertumbuhan instan menjadi penyebab utama.

Banyak pelaku startup juga terlalu cepat menghabiskan dana modal ventura tanpa perhitungan jangka panjang.

Baca Juga: Drama di Gerbang Tol Cililitan: Wanita Dianiaya Usai Senggolan Mobil, Polisi Langsung Selidiki

Adapun bagaimana menghindarinya, para ahli menyarankan agar startup melakukan validasi pasar secara menyeluruh sebelum memulai produksi skala besar.

Pendekatan "lean startup", uji coba terbatas, serta mentoring dari praktisi berpengalaman juga sangat disarankan untuk meminimalkan risiko.

Fenomena ini menjadi pelajaran penting bagi para calon pengusaha agar tidak hanya berfokus pada ide cemerlang, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang kuat dan berkelanjutan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.