Banten

KOPI LESEHAN 001 : BANTEN dulu BANTEN sekarang "Merebut Pelabuhan Sunda Kelapa"

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 23 September 2023, 11:06 WIB
KOPI LESEHAN 001 : BANTEN dulu BANTEN sekarang  "Merebut Pelabuhan Sunda Kelapa"

 


BANTEN dulu BANTEN sekarang


AKURAT BANTEN - Kali ini penulis berangkat lebih pagi supaya tepat waktu sampai di lokasi, karena kebetulan hari ini ada undangan dari seorang sahabat lama, Kita sebut saja dia dengan nama Aki BAKONIH.
Jam 13.00 Wib penulis sudah sampai ditempat yang sudah dijanjikan yaitu lesehan ditepi kolam pemancingan yang hari ini kebetulan masih agak sepi pengunjung untuk datang memancing.

Kami selalu ngobrol ngalor-ngidul seperti biasanya ditemani KOPI HANGAT dan gula merah di potong kecil dipinggir tatakannya.

Aki Bakonih mulai membakar sebatang rokok yang ia sudah siapkan dalam bentuk lintingan zaman baheula, satu seruputan kopi terdengar nikmat sekali ketika gelas di tempelkan diantara kedua bibirnya.
Dia mulai bercerita tentang banten dulu banten sekarang, Penulis tidak banyak memotong kata dan kalimat yang keluar dari mulutnya, biarkan mengalir seperti air.

Nah, Begini cerita yang sempat dirangkum penulis:

Baca Juga: Hutan Kalimantan Semakin Gundul, Industri Sawit dan IKN Jadi Pemicunya! Jadi Topik Hangat Dunia

Banten sekarang merupakan bagian dari wilayah Indonesia yang berada di ujung Pulau Jawa,
Banten dulu sudah di kenal luas hingga mancanegara sejak abad ke-14 pada1330 M.

Pada abad 16 sampai 17, kala itu masih di bawah kekuasaan Sultan Maulana Hasanudin dan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten menjadi salah satu kota perdagangan rempah di kawasan Asia Tenggara.

Tidak hanya menjadi kota perdagangan rempah, Banten dikenal sebagai pusat kerajaan Islam dan perdagangan nusantara. Pada masa itu Banten dijadikan sebagai tempat persinggahan para pedagang dari berbagai belahan dunia, sekaligus pusat kebudayaan.

Sebelum bernama Banten pendatang dari manca negara lebih mengenalnya dengan nama Bantan.
Pada abad ke 5 Banten menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara,
Namun ketika Tarumanegara runtuh seluruh wilayah Banten diambil alih oleh Kerajaan Sunda.

Baca Juga: Frustrasi Anak Diambil Mantan Istri, Suami Nekat Gantung Diri

"Pada masa itu Banten telah menjadi jalur strategis perdagangan dunia, dan menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Nusantara"

Pada abad ke 16, Portugis mulai meluaskan pengaruhnya ke tanah Jawa. Namun, kesultanan Demak dan Cirebon tidak membiarkan hal itu terjadi, sehingga mereka menyerang untuk menaklukkan Pelabuhan Sunda Kelapa.

 

Setelah berhasil menguasai pelabuhan sunda kelapa, Selanjutnya Banten dijadikan wilayah kesultanan yang di pimpin oleh Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati.

Kemudian di teruskan oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan mencapai puncak kejayaan pada 1651-1682
Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten telah menjadi pusat perdagangan dunia yang maju dengan pesat karena mampu memonopoli komoditas lada serta angkatan perang yang kuat.

Namun pada saat itu telah terjadi perang saudara yang tidak mampu diredakan oleh Sultan Ageng Tirtayasa
kehancuran terjadi dimana-mana, Ekonomi lumpuh, korban jiwa berjatuhan akhirnya Sultan Ageng turun takhta, Tidak butuh waktu lama bagi VOC untuk merenggut semua wilayah Banten berada dalam satu genggamannya.

Baca Juga: Foto Nola Istri Jerinx SID Dicatut Iklan Judi Online, Klarifikasinya Sangat Menohok

Aki BAKONIH tiba-tiba menghentikan ceritanya, sejenak dia memandang menengadah melihat langit yang tampak biru terlihat matanya berkaca-kaca, sesaat kemudian menunduk melihat ke arah kolam beberapa ikan yang menunjukkan moncongnya naik dipermukaan air, mungkin sudah waktunya makan, Lalu penulis bertanya tentang cerita yang belum tuntas tersebut, Aki Bakonih hanya menjawab ringan sambil menepuk bahu kiri penulis dan berucap kalau besok belum kiamat tentunya kita masih bisa ngopi bareng lagi.

Itulah sekelumit pertemuan kami hari ini dan untuk cerita selanjutnya tunggu di KOPI LESEHAN 002

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.