VIRALKAN Ada Tambang Pasir dibelakang SMAN 1 Cimarga yang Bikin Heboh, Tambang Pasir Illegal?

AKURAT BANTEN - Kasus keributan di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, ternyata menyimpan kisah yang lebih luas: di balik konflik antara siswa dan kepala sekolah, ada aktivitas tambang pasir yang berada tepat di belakang sekolah.
Temuan ini memicu respons keras dari warga dan netizen sekaligus menyoroti peran pemerintah daerah dalam pengawasan lingkungan.
Hasil pantauan dari aplikasi peta digital mengungkap bahwa beberapa titik tambang pasir sangat luas berada di kawasan belakang SMAN 1 Cimarga.
Lokasi tambang tersebut bahkan berbatasan dengan kawasan hutan, menunjukkan potensi meluasnya kerusakan lingkungan.
Baca Juga: Akhir Damai Kasus SMAN 1 Cimarga Kepala Sekolah dan Orang Tua Siswa Berpelukan, Netizen Terharu!
Warga setempat menyebut bahwa aktivitas penambangan ini telah berlangsung dalam beragam bentuk legal dan ilegal dan selama waktu yang relatif lama.
Meski begitu, pada sebagian besar masa itu, publik tidak terlalu menyimak keberadaannya hingga konflik sekolah muncul ke permukaan.
Dampak Negatif Bagi Warga dan Lingkungan
Menurut keterangan warga, aktivitas tambang pasir memberi dampak lebih banyak kerusakan daripada manfaat:
Baca Juga: HRD Ramai-Ramai Blacklist Lulusan SMAN 1 Cimarga Imbas Kasus Viral Siswa Merokok Heboh di Medsos
Kerusakan jalan dan akses: Truk-truk berat dari tambang menyebabkan jalan menjadi becek dan licin, menyulitkan mobilitas masyarakat.
Kerusakan lahan pertanian: Lahan pertanian warga juga rusak akibat aktivitas tambang yang meluas ke area di sekitar sekolah.
Pencemaran air dan pendangkalan sungai: Limbah dari tambang dilaporkan dibuang ke sungai setempat, menyebabkan pendangkalan dan menurunnya kualitas air.
Polusi udara dan debu: Warga mengeluhkan gangguan saluran pernapasan akibat debu dari aktivitas tambang.
Baca Juga: Akhir Panjang Kisruh SMAN 1 Cimarga, Kepala Sekolah dan Siswa Akhirnya Berpelukan Damai
Kondisi ini memunculkan resistensi dari masyarakat, terutama ketika konflik sekolah memancing perhatian publik luas.
Munculnya tambang di belakang sekolah itu kemudian mendapat sorotan warganet.
Beberapa komentar di media sosial mengaitkan gerak cepat Gubernur Banten (dan Wakil Gubernur) dalam menangani kasus SMAN 1 Cimarga dengan penemuan tambang pasir tersebut.
Ada tuduhan bahwa penonaktifan kepala sekolah bukan hanya terkait konflik internal sekolah, melainkan “membuka ruang” agar pengawasan atas tambang bisa dikontrol.
Salah satu netizen menulis:
“Oh, pantesan gubernurnya gercep, ternyata ada tambang di belakang SMAN 1 Cimarga.”
Tuduhan seperti itu menunjukkan bahwa publik semakin peka terhadap pengaitan antara kebijakan pendidikan dan kepentingan lingkungan.
Warga yang telah lama resah akhirnya mengambil tindakan: mereka menggelar protes, memasang spanduk “disegel” di lokasi tambang, serta meminta pemerintah daerah baik di tingkat kabupaten maupun provinsi untuk segera turun tangan menutup aktivitas tambang tersebut.
Salah satu tuntutan paling sederhana mereka: agar sekolah bisa kembali kondusif dan proses belajar mengajar tidak terusik.
Dalam kondisi ideal, kegiatan tambang tidak boleh berada dalam jarak yang merugikan lingkungan dan manusia, terutama ketika berdampingan dengan institusi pendidikan.
Kasus ini menghadirkan tantangan serius bagi Pemerintah Kabupaten Lebak dan Pemerintah Provinsi Banten.
Pengawasan terhadap aktivitas tambang, terutama yang berdekatan dengan kawasan pemukiman dan sekolah, harus diperkuat.
Penerapan regulasi dan tindakan tegas terhadap tambang ilegal menjadi keniscayaan.
Lebih jauh, publik Banten tentu akan memantau apakah langkah cepat terhadap kepala sekolah dan kasus sekolah tersebut hanyalah awal dari tindakan nyata menertibkan tambang pasir.
Apakah pengaktifan dan respons pemerintah akan konsisten? Atau hanya menjadi langkah simbolis di tengah tekanan publik?
Untuk warga Banten terutama di Lebak keputusan pemerintahan dan pengawasan lingkungan bukan sekadar soal pendidikan, tetapi soal kelangsungan hidup, kualitas udara dan air, serta ruang hidup anak-anak kini dan masa depan.
Baca Juga: Ketua Komite SMAN1 Cimarga Angkat Bicara, Adanya Dua Pelajar di Gerebek Dugaan Video Mesum
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










