Banten

Mega Rahasia Terkuak RI Kini Punya Pabrik Petrokimia Terbesar se-ASEAN di Banten Siapa Pemiliknya?

Aullia Rachma Puteri | 8 November 2025, 05:38 WIB
Mega Rahasia Terkuak RI Kini Punya Pabrik Petrokimia Terbesar se-ASEAN di Banten Siapa Pemiliknya?

AKURAT BANTEN - Pemerintah Indonesia bersama investor asing baru saja mencatat sejarah industri nasional melalui peresmian fasilitas petrokimia raksasa yang terletak di kawasan Cilegon, Banten.

Proyek tersebut adalah milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI), anak perusahaan dari konglomerat Korea Selatan Lotte Group, yang menjadikannya sebagai pabrik petrokimia terbesar se‐Asia Tenggara (ASEAN).

Proyek yang sering disebut sebagai “New Ethylene Project” atau proyek cracker nafta ini dibangun di atas lahan seluas sekitar 107,8 hektare sekitar 1,08 juta meter persegi di Cilegon, Banten.

Investasi yang digelontorkan mencapai sekitar US$ 3,9 miliar hingga US$ 4 miliar atau setara dengan lebih dari Rp 60 triliun, tergantung kurs.

Baca Juga: Pupuk Subsidi Turun 20 Persen Pemerintah Serius Bantu Petani untuk Ketahanan Pangan

Pabrik ini dirancang menghasilkan kapasitas produksi besar: hingga 1 juta ton etilena per tahun, 520 ribu ton propilena per tahun, 350 ribu ton polipropilena per tahun, serta produk‐produk kimia dasar lainnya seperti butadiena dan BTX (benzene/toluene/xylene).

Bahkan, menurut pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, sekitar 70 % dari produksi pabrik ini akan digunakan untuk menggantikan impor bahan baku petrokimia di Indonesia, dan sisanya diekspor.

Pemilik utama proyek ini adalah Lotte Group melalui entitas PT Lotte Chemical Indonesia (LCI).

Struktur kepemilikan secara global menunjukkan bahwa Lotte Chemical Corporation (Korea Selatan) berperan sebagai induk dan pengendali.

Baca Juga: RESMI! Sejarah Baru Pupuk Murah: HET Anjlok 20 Persen, APBN Malah Untung Rp10 Triliun

Pemerintah Indonesia melalui lembaga dan kerja sama investasi juga terlibat dalam aspek kemitraan dan penyediaan lokasi, namun kendali proyek tetap berada pada pihak investor Korea.

Bagi wilayah Banten dan khususnya Cilegon, kehadiran pabrik ini membawa limpahan manfaat ekonomi yang tidak sedikit.

Proyek ini diperkirakan akan menyerap hingga puluhan ribu tenaga kerja langsung dan tidak langsung jumlah yang menurut laporan bisa mencapai 40 000 orang.

Selain itu, dengan skala produksi yang besar dan substitusi impor yang ditargetkan hingga 67 % atau bahkan lebih, proyek ini menjadi tonggak penting dalam upaya hilirisasi industri petrokimia Indonesia dan penguatan daya saing nasional.

Baca Juga: Perketat Distribusi! Kementan Cabut Izin 2.039 Kios Nakal, Skema Distribusi Pupuk Dirombak Total

Secara strategis, proyek ini juga melengkapi roadmap industri nasional yang ingin mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Menteri-menke­rian terkait dan Presiden Prabowo Subianto pun menyebut bahwa proyek tersebut menjadi simbol kemitraan Indonesia‐Korea dan kepercayaan investor global terhadap iklim industri di Tanah Air.

Namun, sekaligus sebagai proyek berskala besar, tantangan operasional dan teknis tidak bisa diabaikan.

Mulai dari penyediaan bahan baku nafta dan LPG sekitar 3,2 juta ton per tahun, pemenuhan standar teknologi tinggi, hingga integrasi rantai pasok dalam negeri dan ekspor.

Baca Juga: Perketat Distribusi! Kementan Cabut Izin 2.039 Kios Nakal, Skema Distribusi Pupuk Dirombak Total

Dengan demikian, keberadaan pabrik ini bukan sekadar angka investasi besar atau produksi tinggi, melainkan sebuah lompatan bagi industri petrokimia nasional.

Untuk media seperti AKURAT BANTEN, fakta bahwa Banten kini menjadi rumah bagi pabrik petrokimia terbesar di ASEAN adalah kabar penting menegaskan posisi provinsi ini sebagai salah satu pusat industri strategis di Indonesia.

***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.