Banten

Jerit Histeris di Balik Megahnya Proyek Alam Sutera: Sengketa Lahan Berujung Dugaan Penganiayaan Warga

Abdurahman | 19 Januari 2026, 05:20 WIB
Jerit Histeris di Balik Megahnya Proyek Alam Sutera: Sengketa Lahan Berujung Dugaan Penganiayaan Warga

 

AKURAT BANTEN- Di balik deru mesin ekskavator dan ambisi pembangunan kawasan elit Alam Sutera, tersimpan duka mendalam bagi warga yang bertahan mempertahankan hak atas tanahnya.

Alih-alih mendapatkan solusi yang adil, bentrokan fisik justru pecah di lokasi proyek yang diduga melibatkan oknum pekerja proyek terhadap warga setempat.

Baca Juga: Tak Lagi Teriak 'Curhat Dong', Mamah Dedeh Terbaring Lemah di RS, Ternyata Ini Penyakit yang Diidapnya

Kronologi Kejadian: Debu Proyek Bercampur Darah

Insiden memilukan ini bermula dari sengketa lahan yang kian memanas di kawasan Sutera Rasuna.

Menurut informasi yang dihimpun, ketegangan memuncak saat sejumlah orang yang diduga dari pihak proyek melakukan tindakan represif terhadap warga yang mencoba menghalangi aktivitas alat berat di atas lahan yang diklaim masih dalam status sengketa.

Seorang warga bernama Dina, menjadi simbol pilu dari konflik ini.

Video yang beredar memperlihatkan aksi nekatnya menjerit histeris hingga berguling di lumpur proyek sebagai bentuk protes karena tanahnya diduga belum dibayar namun sudah mulai dikerjakan.

Naas, aksi protes damai tersebut berujung pada dugaan penganiayaan dan pengeroyokan yang mengakibatkan luka fisik bagi warga.

Baca Juga: HEBOH di Transjakarta! Dua Pria Nekat Berbuat Asusila di Tengah Penumpang, Cairan Mencurigakan Jadi Bukti

Sengketa Lahan: Hak Rakyat vs Ambisi Pengembang?

Kasus ini bukan sekadar bentrokan biasa, melainkan cermin dari karut-marutnya persoalan agraria di wilayah penyangga ibu kota.

Beberapa poin krusial yang menjadi sorotan publik antara lain:

Status Pembayaran: Warga mengklaim belum menerima ganti rugi yang sesuai, sementara aktivitas konstruksi terus dipaksakan berjalan.

Premanisme di Lokasi Proyek: Dugaan keterlibatan oknum yang menggunakan kekerasan fisik untuk mengintimidasi warga demi kelancaran proyek.

Upaya Mediasi yang Mandek: Hingga berita ini diturunkan, pihak pengembang dikabarkan meminta adanya mediasi, namun warga menuntut keadilan nyata, bukan sekadar janji di atas kertas.

"Kami tidak butuh mediasi yang hanya untuk membungkam. Kami butuh hak kami dibayar sebelum tanah ini diinjak-injak alat berat!" ujar salah satu kerabat korban di lokasi.

Baca Juga: MISTERI DI LANGIT MAROS: Daftar Lengkap 11 Orang di Pesawat ATR 400 yang Hilang Kontak

Desakan Penegakan Hukum

Tindakan pengeroyokan dan penganiayaan adalah ranah pidana yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun, termasuk alasan pembangunan nasional atau bisnis.

Masyarakat mendesak Polres Metro Tangerang Kota untuk segera turun tangan mengusut tuntas siapa dalang di balik aksi kekerasan tersebut.

Tanpa adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum, dikhawatirkan konflik serupa akan terus berulang dan menciptakan citra buruk bagi iklim investasi properti di Indonesia yang seharusnya humanis dan taat hukum (**) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
A