Banten

Opini: Membuang Masalah ke Tetangga—Mampukah Sampah Tangsel di Cilowong Menjadi Solusi Bermartabat?

Abdurahman | 25 Desember 2025, 15:26 WIB
Opini: Membuang Masalah ke Tetangga—Mampukah Sampah Tangsel di Cilowong Menjadi Solusi Bermartabat?



AKURAT BANTEN-Selama bertahun-tahun, warga Tangerang Selatan (Tangsel) dipaksa akrab dengan pemandangan tak sedap di bahu jalan.

Dari bawah Flyover Ciputat hingga sudut-sudut Pasar Cimanggis, tumpukan plastik dan bau menyengat seolah menjadi "monumen" kegagalan tata kelola sampah urban.

Kini, secercah harapan muncul: 500 ton sampah per hari akan "diekspor" ke TPSA Cilowong, Kota Serang.

Namun, pertanyaannya bukan sekadar "ke mana sampah itu pergi?", melainkan "siapkah kita mengelolanya tanpa memindahkan bencana ke halaman rumah orang lain?"

Baca Juga: Darurat Sampah Ciputat Berakhir? Pemkot Tangsel Resmi Kirim 500 Ton Sampah ke TPSA Cilowong

Bukan Sekadar Membuang, Tapi Berbagi Beban

Rencana Pemkot Tangsel mengirimkan sampah ke Kota Serang adalah langkah pragmatis yang berani.

Di satu sisi, Tangsel sedang megap-megap mencari lahan pembuangan yang kian menyempit.

Di sisi lain, Kota Serang membutuhkan volume sampah besar untuk menghidupkan mesin Program Strategis Nasional (PSN) di Cilowong.

Secara di atas kertas, ini adalah win-win solution. Tangsel bersih, Serang mendapat pasokan untuk target ekonomi sirkularnya.

Namun, sejarah mencatat bahwa urusan sampah lintas daerah seringkali berakhir dengan protes warga jika komitmen hanya manis di atas materai.

Baca Juga: HEBOH! Model Majalah Dewasa Masuk Kemhan, Netizen Ngamuk: 'Buat Apa Kami Bayar Pajak?'

Ujian Nyata: Truk "Anti-Lindi" dan Jam Kalong

Syarat yang diajukan DPRD Kota Serang tidak main-main: truk harus dimodifikasi total agar tak meneteskan air lindi (cairan sampah) dan pengangkutan wajib dilakukan di jam tidur warga (maksimal pukul 05.00 WIB).

Ini adalah ujian integritas bagi Pemkot Tangsel. Kita tentu tak ingin melihat skenario lama terulang: truk-truk tua yang dipaksakan beroperasi, meneteskan aroma busuk di sepanjang jalan raya menuju Serang, yang akhirnya memicu blokade warga.

Jika Tangsel ingin dianggap sebagai kota modern dan cerdas (Smart City), maka armada pengangkut sampah ini harus menjadi etalase kecanggihan teknologi, bukan armada "zombie" yang menebar polusi.

Baca Juga: Prabowo 'Tabuh Genderang Perang' Lawan Mafia Hutan: Tak Gentar Hadapi Preman dan Hasutan!

Cilowong: Harapan atau Bom Waktu?

Modernisasi TPSA Cilowong dengan teknologi Aerated Waste System (AWS) adalah angin segar. Namun, teknologi hanyalah alat. Keberhasilan aslinya ada pada aspek sosial.

Apakah warga sekitar Cilowong sudah benar-benar dilibatkan? Apakah kompensasi sosial dan dampak lingkungannya sudah dihitung secara presisi?

DPRD Kota Serang sudah memasang ancaman: "Langgar aturan, kerja sama putus." Ini adalah peringatan keras.

Tangsel tidak boleh merasa "sudah membayar" lalu lepas tangan. Kerja sama ini harus menjadi kemitraan jangka panjang yang bermartabat, di mana ada tanggung jawab moral untuk memastikan TPSA Cilowong tidak berubah menjadi gunung sampah yang terbengkalai.

Baca Juga: Di Balik Hilangnya Instagram Zara Anak Ridwan Kamil: Sinyal 'Self-Healing' di Tengah Badai Perceraian Orang Tua?

Momentum Benahi Hulu

Mari jujur, mengirim 500 ton sampah per hari ke Serang hanyalah solusi di hilir.

Opini ini ingin mengingatkan bahwa selama warga Tangsel tidak diajak memilah sampah dari dapur masing-masing, maka berapa pun kapasitas TPSA Cilowong akan tetap penuh pada waktunya.

Ekspor sampah ke Serang harus dijadikan momentum bagi Pemkot Tangsel untuk mengencangkan edukasi pemilahan sampah di tingkat RT/RW.

Jangan sampai, karena merasa sudah punya "tempat buangan" baru, kita lupa cara mengurangi produksi limbah di rumah sendiri.

Baca Juga: Misteri Aliran Dana Rp20 M: Mengapa Nama Gus Yazid Muncul di Kasus Penjualan Tanah Negara Cilacap?

Kesimpulan

Kesepakatan Tangsel-Serang adalah langkah besar dalam manajemen sampah regional di Banten.
Jika dikelola dengan transparansi tinggi, teknologi yang mumpuni, dan penghormatan terhadap warga terdampak, ini bisa jadi percontohan nasional.

Namun jika gagal, ini hanya akan menjadi catatan sejarah tentang bagaimana satu kota memindahkan masalahnya ke kota tetangga.

Kini, bola panas ada di tangan eksekutif. Warga menunggu bukti, bukan sekadar truk yang melintas di tengah malam (**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
A