Terungkap Hasil Pemodelan Arah Hanyut 8 Orang Hilang di Selat Sunda, Jaraknya Bisa Ratusan Kilometer

AKURAT BANTEN - Tim Ocean Climate Research Group (OCRG) dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN menggunakan model transpor partikel Euler-Lagrangian untuk mempelajari kemungkinan pergerakan orang yang hanyut di perairan Selat Sunda.
Melalui simulasi ribuan partikel hipotetik, tim menghasilkan peta probabilitas yang menunjukkan wilayah kemungkinan penyebaran berdasarkan pengaruh arus laut, gelombang, dan angin.
Kajian tersebut dilakukan untuk memberikan informasi ilmiah tambahan mengenai kemungkinan lintasan hanyut delapan orang yang hilang kontak di Selat Sunda pada 7 September 2026 ketika meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Penelitian ini dipimpin peneliti PRIMA BRIN Widodo Setiyo Pranowo dengan memanfaatkan data arus laut dan berbagai skenario kondisi korban serta pengaruh angin.
Baca Juga: BRIN Dorong Lahan Bekas Tambang Jadi Peternakan Terpadu, Bisa Pulihkan Ekosistem
Widodo menjelaskan bahwa arus dan gelombang memiliki peran besar dalam menentukan arah serta kecepatan pergerakan korban di laut.
“Kecepatan hanyut yang dibangkitkan gelombang itu sekitar 40% dari total arus permukaan yang ada di lokasi itu. Jadi, kondisi arus seperti ini akan sangat penting bagi prediksi penyebaran korban,” ujar Widodo dalam wawancara pada Jumat, (18/9).
Dalam simulasi, partikel hipotetik digunakan untuk menggambarkan orang dengan berat badan tertentu yang diasumsikan menggunakan pelampung.
Setiap partikel kemudian digerakkan secara berkala dengan memperhitungkan kondisi arus, angin, serta perubahan arah akibat bagian tubuh yang berada di atas permukaan air atau disebut leeway.
Baca Juga: Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
Tim juga menerapkan skenario berat badan antara 60 hingga 70 kilogram untuk mengetahui pola penyebaran sekaligus tingkat probabilitas setiap wilayah.
“Hasil pemodelan menunjukkan pentingnya ketepatan informasi lokasi awal, aua versi koordinat lokasi hilang kontak yang berbeda sekitar 30 kilometer menghasilkan lintasan yang sangat berbeda. Dalam satu skenario, partikel bergerak ke barat menyusuri pesisir Lampung, sedangkan skenario lainnya masuk ke arus pantai Samudra Hindia dan bergerak jauh ke arah barat laut. Ketidakpastian 30 kilometer pada titik awal berkembang menjadi sekitar 221 hingga 292 kilometer pada posisi akhir,” bebernya.
Untuk mengukur berbagai kemungkinan tersebut, tim membuat delapan skenario dengan mengubah kombinasi lokasi awal, waktu kejadian, dan kekuatan dorongan angin.
Seluruh hasil simulasi kemudian digabungkan menggunakan pendekatan ensembel sehingga menghasilkan peta probabilitas wilayah pencarian.
Wilayah yang mencakup 95 persen kemungkinan posisi korban tercatat meningkat dari sekitar 2.700 kilometer persegi pada hari keenam menjadi lebih dari 10.500 kilometer persegi pada hari ke-14.
Widodo mengatakan pemodelan hanyut tetap membutuhkan dukungan data lapangan serta informasi kelautan yang lengkap agar hasil analisis dapat semakin akurat.
“Semua parameter atau kejadian di laut secara fisik memang harus dikumpulkan semua, mulai dari kondisi gelombang, kondisi arus, kemudian kondisi yang ada di angkasa termasuk angin dan citra satelit. Itu harus dikumpulkan untuk dianalisis dan dihubungkan dengan kondisi stabilitas kapal, kelaikan, dan muatannya,” ungkapnya.
OCRG BRIN menegaskan bahwa hasil pemodelan tersebut berfungsi sebagai alat bantu perencanaan dan bukan sebagai penentu pasti lokasi korban.
Model yang digunakan masih memiliki sejumlah keterbatasan, termasuk penggunaan data angin yang diperkirakan berdasarkan tinggi gelombang serta asumsi bahwa korban tetap berada di permukaan air dengan bantuan pelampung.
Hasil simulasi juga belum dapat dikonfirmasi menggunakan temuan langsung dari lapangan.
“Kajian ini menunjukkan potensi pemodelan laut untuk mendukung kesiapsiagaan pencarian dan pertolongan di perairan Indonesia. Pengembangan protokol pemodelan hanyut, pemasangan pelampung berpenjejak satelit, model hidrodinamika beresolusi tinggi. Kemudian, pencatatan koordinat kejadian secara seragam dan terverifikasi menjadi langkah yang dapat dikembangkan lebih lanjut,” pungkasnya.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Bikin Geger! MK Segera Sidangkan Gugatan Gibran, Ini Isi Permohonannya hingga Nasib Kursi Wakil Presiden
- 2Pendidikan Gibran di Australia Disorot Lagi, Sosok Ini Ungkap Temuan Mengejutkan soal UTS Insearch
- 3Mantan Kapolsek Pinang Iptu Adityo Wijanarko Resmi Jabat Kanit Reskrim Polsek Kelapa Dua
- 4Truk Air Damkar Tertahan di Tol Janger Gara-gara E-Tol, Pemadaman TPS Pinang Sempat Terhambat
- 5Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 6Gibran Ditantang Hentikan MBG Usai Kasus Keracunan, Langkah Pemerintah Jadi Sorotan
- 7Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 8Roy Suryo Tolak Restorative Justice dalam Kasus Ijazah Jokowi, Pilih Hadapi Persidangan
- 9ITS Giuseppe Garibaldi Tiba di Tanjung Priok, Menhan Sjafrie Ungkap Kondisi Kapal Hibah Italia
- 10TNI AL Temukan 3 Jenazah di KM Virgo Transport 8, Tim Kopaska Pecahkan Kaca Kapal








