Air Hujan Semarang Ternyata Melimpah, BRIN Ungkap Hanya 27 Persen yang Realistis Dimanfaatkan

AKURAT BANTEN - Ketahanan air di kawasan perkotaan tidak cukup hanya dengan mengetahui jumlah sumber air yang tersedia.
Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperlihatkan bahwa kondisi sosial masyarakat serta karakteristik wilayah juga menjadi faktor penting untuk mengukur seberapa besar sumber air berpotensi dimanfaatkan secara nyata.
Dalam penelitian mengenai pemanenan air hujan (rainwater harvesting) di Kota Semarang, periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, menyusun model sosio-spasial yang memadukan potensi fisik air hujan dengan kondisi sosial masyarakat.
Metode ini dapat menjadi salah satu evidence untuk mendukung proses perencanaan sekaligus menetapkan prioritas kebijakan dalam memperkuat ketahanan air perkotaan.
Baca Juga: Hujan Meteor Perseid 2026 Terekam di Langit NTT, Begini Penampakannya dari Observatorium Timau
Dari sisi fisik, hasil penelitian memperkirakan jumlah air hujan yang berpotensi dipanen melalui atap rumah di Kota Semarang mencapai sekitar 89,01 miliar liter per tahun pada 2020.
Angka tersebut diperkirakan terus bertambah menjadi 96,78 miliar liter pada 2025 dan mencapai 105,62 miliar liter pada 2030.
Akan tetapi, setelah aspek sosial masyarakat turut dimasukkan dalam perhitungan, potensi pemanfaatan yang realistis hanya berada di kisaran 24 miliar liter.
Jumlah itu setara dengan sekitar 27 persen dari keseluruhan potensi fisik yang tersedia.
Baca Juga: Bantuan Bencana NTT Terus Dikirim, 253 Ton Logistik Sudah Tersalurkan hingga Hari Kelima
“Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa potensi sumber daya air tidak dapat diterjemahkan secara langsung menjadi potensi pemanfaatan. Ada faktor sosial dan spasial yang memengaruhi keberhasilan suatu intervensi,” kata Yosef, Rabu, (19/8).
Menurutnya, hasil riset tersebut dapat menjadi salah satu rujukan bagi pemerintah dalam menentukan kawasan yang perlu diprioritaskan, memilih bentuk intervensi yang tepat, hingga menyusun strategi untuk melibatkan masyarakat dalam meningkatkan ketahanan air perkotaan.
Yosef menerangkan bahwa Kota Semarang dipilih sebagai studi kasus karena mempunyai karakter wilayah yang cukup beragam, dari kawasan pesisir hingga daerah perbukitan. Perbedaan kondisi geografis itu membuat setiap kawasan menghadapi persoalan dan kebutuhan pengelolaan air yang tidak sama.
Hasil penelitian juga menemukan bahwa tingkat penerimaan masyarakat terhadap pemanenan air hujan berdasarkan pengetahuan, persepsi, dan sikap berbeda-beda di setiap wilayah. Semarang tengah tercatat memiliki tingkat penerimaan yang cenderung lebih tinggi, sementara Semarang bawah justru menunjukkan tingkat penerimaan yang lebih rendah.
“Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa wilayah yang memiliki kebutuhan atau kerentanan air lebih tinggi belum tentu menjadi wilayah yang paling siap menerapkan suatu intervensi,” tambahnya.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Makin Tegang! Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran Tinggal Ditunggu, Dokumen UTS Insearch Jadi Sorotan
- 2Viral Kapolri Suyudi Baru Dilantik, Komisi III DPR Langsung Sambangi Rumahnya: Ada Apa? Isu Pejabat Polri Arogan Jadi Sorotan
- 3BPEK DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta Raih Award of Appreciation di Success Business Mastery
- 4Viral di Jakarta! Surat Asli Bupati Sigi Berisi Permohonan Bantuan Jembatan Malah Jadi Bungkus Nasi Pecel, Ini Isi Lengkapnya
- 5Pendopo Gandeng Batik Indra Loka Perluas Pasar Busana Motif Lokal Lintas Generasi
- 6Geger! Guru ICM Serpong Jadi Tersangka Kekerasan Seksual, Dugaan Child Grooming Terungkap
- 7Fantastis! Orang Superkaya Indonesia Diproyeksi Tembus 6.966 Orang, Pertumbuhannya Nomor 1 Dunia, Ini Penyebabnya
- 8Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026! Drama 120 Menit dan Adu Penalti Akhirnya Putus Kutukan 35 Tahun
- 9Sesko Cedera Lagi, Manchester United Bisa Panik! 3 Striker Ini Berpotensi Jadi Solusi Januari 2027
- 10Dari Bangku Cadangan Jadi Pahlawan! Michael Olise Ungkap Instruksi Zidane yang Bikin Belgia Hancur









