Banten

Air Hujan Semarang Ternyata Melimpah, BRIN Ungkap Hanya 27 Persen yang Realistis Dimanfaatkan

Viona Sebastian Nolani | 20 Agustus 2026, 09:41 WIB
Air Hujan Semarang Ternyata Melimpah, BRIN Ungkap Hanya 27 Persen yang Realistis Dimanfaatkan
Potensi Air Hujan Semarang Capai 105 Miliar Liter, Hanya 27 Persen Dapat Dimanfaatkan - BRIN

AKURAT BANTEN - Ketahanan air di kawasan perkotaan tidak cukup hanya dengan mengetahui jumlah sumber air yang tersedia.

Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperlihatkan bahwa kondisi sosial masyarakat serta karakteristik wilayah juga menjadi faktor penting untuk mengukur seberapa besar sumber air berpotensi dimanfaatkan secara nyata.

Dalam penelitian mengenai pemanenan air hujan (rainwater harvesting) di Kota Semarang, periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, menyusun model sosio-spasial yang memadukan potensi fisik air hujan dengan kondisi sosial masyarakat.

Metode ini dapat menjadi salah satu evidence untuk mendukung proses perencanaan sekaligus menetapkan prioritas kebijakan dalam memperkuat ketahanan air perkotaan.

Baca Juga: Hujan Meteor Perseid 2026 Terekam di Langit NTT, Begini Penampakannya dari Observatorium Timau

Dari sisi fisik, hasil penelitian memperkirakan jumlah air hujan yang berpotensi dipanen melalui atap rumah di Kota Semarang mencapai sekitar 89,01 miliar liter per tahun pada 2020.

Angka tersebut diperkirakan terus bertambah menjadi 96,78 miliar liter pada 2025 dan mencapai 105,62 miliar liter pada 2030.

Akan tetapi, setelah aspek sosial masyarakat turut dimasukkan dalam perhitungan, potensi pemanfaatan yang realistis hanya berada di kisaran 24 miliar liter.

Jumlah itu setara dengan sekitar 27 persen dari keseluruhan potensi fisik yang tersedia.

Baca Juga: Bantuan Bencana NTT Terus Dikirim, 253 Ton Logistik Sudah Tersalurkan hingga Hari Kelima

“Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa potensi sumber daya air tidak dapat diterjemahkan secara langsung menjadi potensi pemanfaatan. Ada faktor sosial dan spasial yang memengaruhi keberhasilan suatu intervensi,” kata Yosef, Rabu, (19/8).

Menurutnya, hasil riset tersebut dapat menjadi salah satu rujukan bagi pemerintah dalam menentukan kawasan yang perlu diprioritaskan, memilih bentuk intervensi yang tepat, hingga menyusun strategi untuk melibatkan masyarakat dalam meningkatkan ketahanan air perkotaan.

Yosef menerangkan bahwa Kota Semarang dipilih sebagai studi kasus karena mempunyai karakter wilayah yang cukup beragam, dari kawasan pesisir hingga daerah perbukitan. Perbedaan kondisi geografis itu membuat setiap kawasan menghadapi persoalan dan kebutuhan pengelolaan air yang tidak sama.

Hasil penelitian juga menemukan bahwa tingkat penerimaan masyarakat terhadap pemanenan air hujan berdasarkan pengetahuan, persepsi, dan sikap berbeda-beda di setiap wilayah. Semarang tengah tercatat memiliki tingkat penerimaan yang cenderung lebih tinggi, sementara Semarang bawah justru menunjukkan tingkat penerimaan yang lebih rendah.

“Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa wilayah yang memiliki kebutuhan atau kerentanan air lebih tinggi belum tentu menjadi wilayah yang paling siap menerapkan suatu intervensi,” tambahnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.