Banten

Hujan Meteor Perseid 2026 Terekam di Langit NTT, Begini Penampakannya dari Observatorium Timau

Viona Sebastian Nolani | 20 Agustus 2026, 09:38 WIB
Hujan Meteor Perseid 2026 Terekam di Langit NTT, Begini Penampakannya dari Observatorium Timau
Puncak Hujan Meteor Perseid Terekam dari Timau - brin.go.id

AKURAT BANTEN - Langit malam kembali menyuguhkan fenomena astronomi yang menarik untuk diamati.

Hujan meteor Perseid mencapai puncak aktivitas pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus 2026.

Sejumlah meteor Perseid bahkan berhasil diabadikan melalui All Sky Camera (ASC) yang berada di Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur.

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menerangkan bahwa hujan meteor Perseid muncul saat Bumi melintasi gugusan debu yang merupakan sisa dari Komet Swift-Tuttle.

Baca Juga: Bantuan Bencana NTT Terus Dikirim, 253 Ton Logistik Sudah Tersalurkan hingga Hari Kelima

“Hujan meteor Perseid terjadi karena pertemuan Bumi dengan gugusan debu Komet Swift-Tuttle. Akibatnya, debu-debu yang masuk atmosfer terbakar pada ketinggian sekitar 70–90 kilometer. Debu yang terbakar itulah yang tampak sebagai meteor,” jelas Thomas.

Saat Bumi melewati wilayah yang dipenuhi partikel sisa komet tersebut, banyak material masuk ke atmosfer dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemunculan meteor dalam jumlah cukup banyak inilah yang kemudian disebut sebagai hujan meteor.

Istilah “hujan meteor” bukan berarti benda-benda langit tersebut jatuh ke permukaan Bumi layaknya air hujan.

Cahaya yang terlihat dari permukaan berasal dari partikel yang melaju sangat cepat ketika memasuki atmosfer hingga akhirnya berpijar.

Baca Juga: Naik DAMRI dari Grand Metropolitan Bekasi ke Bandara Soekarno-Hatta Cuma Rp 100 Ribu, Ini Jadwalnya

Thomas menjelaskan bahwa meteor Perseid tampak seolah-olah muncul dari satu area tertentu di langit, yakni sekitar rasi Perseus. Titik asal meteor secara perspektif tersebut terlihat mengarah ke kawasan rasi Perseus yang berada di bagian timur laut langit.

Penyebutan nama Perseid berkaitan dengan lokasi radiant atau titik di langit yang secara perspektif menjadi tempat meteor-meteor tersebut seakan berasal, yaitu di sekitar rasi Perseus. Karena itu, meteor dapat bergerak melintasi berbagai arah meski apabila jalurnya ditarik ke belakang akan terlihat menuju kawasan tersebut.

Hujan meteor Perseid memiliki masa kemunculan yang cukup panjang. Menurut penjelasan Thomas, fenomena ini dapat diamati mulai 23 Juli hingga 20 Agustus, sementara puncak aktivitasnya terjadi pada malam 12 Agustus sampai dini hari 13 Agustus.

Observatorium Nasional Timau juga ikut mengabadikan fenomena astronomi tersebut. All Sky Camera yang terpasang di observatorium berhasil merekam kemunculan meteor Perseid ketika melintas di langit wilayah Indonesia.

Dokumentasi tersebut memperlihatkan peran fasilitas observasi astronomi dalam merekam berbagai fenomena langit yang terjadi di atas Indonesia. Masyarakat pun masih berkesempatan mengamati aktivitas Perseid meski waktu puncaknya telah berlalu.

“Silakan pantau sampai 20 Agustus di situs ASC Obsnas Timau,” kata Thomas.

Di tingkat internasional, Perseid merupakan salah satu hujan meteor tahunan yang dikenal memiliki aktivitas cukup tinggi. American Meteor Society (AMS) menyebut Perseid berasal dari partikel Komet 109P/Swift-Tuttle dan pada 2026 mencapai puncaknya pada 12–13 Agustus. Jika diamati dari lokasi dengan langit gelap dan kondisi ideal, jumlah meteor yang terlihat dapat cukup tinggi.

Kesempatan mengamati Perseid pada 2026 juga relatif baik karena puncaknya bertepatan dengan fase Bulan baru. Kondisi tersebut membuat cahaya Bulan sangat minim sehingga langit menjadi lebih gelap dan meteor yang cahayanya lebih redup berpeluang terlihat.

Meski demikian, jumlah meteor yang berhasil diamati tidak selalu sesuai dengan angka maksimum secara teori. Faktor seperti kondisi cuaca, keberadaan awan, tingkat polusi cahaya, posisi radiant, hingga lokasi pengamatan sangat berpengaruh terhadap hasil observasi.

Bagi pengamat di Indonesia yang lokasinya relatif dekat dengan garis ekuator dan berada di belahan Bumi selatan, radiant Perseid juga tidak berada setinggi seperti yang terlihat dari wilayah belahan Bumi utara. American Meteor Society menjelaskan bahwa pengamat di belahan selatan memiliki keterbatasan karena posisi radiant Perseid berada lebih rendah di langit.

Oleh sebab itu, tempat dengan cakrawala yang luas dan minim gangguan cahaya perkotaan menjadi lokasi yang lebih ideal untuk mengamati hujan meteor Perseid. Pengamatan tidak harus menggunakan teleskop karena meteor dapat disaksikan secara langsung dengan mata telanjang jika kondisi langit mendukung.

Fenomena Perseid juga menjadi bukti bahwa aktivitas komet dapat meninggalkan material di ruang angkasa. Jejak partikel tersebut kemudian dapat memicu fenomena hujan meteor secara berkala ketika orbit Bumi kembali berpotongan dengan gugusan material peninggalan komet.

Thomas menambahkan bahwa masyarakat yang belum sempat melihat puncak Perseid tidak perlu kecewa karena aktivitas meteor tersebut tidak langsung berhenti setelah 13 Agustus.

Sesuai periode kemunculannya, fenomena ini masih dapat dipantau hingga 20 Agustus 2026, termasuk melalui sistem All Sky Camera Observatorium Nasional Timau, atau disaksikan melalui rekaman pada tautan yang tersedia.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.