Fakta Terbaru El Nino 2026, Risiko Godzilla El Niño Ternyata Sangat Kecil

AKURAT BANTEN - Masyarakat diimbau untuk tidak panik dalam menyikapi isu kemunculan El Nino ekstrem pada 2026.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (Badan Riset dan Inovasi Nasional) menegaskan bahwa peluang terjadinya fenomena Godzilla El Nino, yakni El Nino dengan kekuatan sangat besar yang berpotensi menyebabkan kekeringan parah, sangat kecil pada tahun ini.
Namun demikian, pemerintah dan masyarakat tetap diminta waspada terhadap musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, dalam laporan perkembangan El Nino 2026.
Baca Juga: Transportasi Tanpa Macet? ITS dan Teknologi Cerdas yang Ubah Wajah Jalan Raya
Menurut Albertus, hasil pemodelan dari berbagai lembaga iklim global menunjukkan bahwa kondisi atmosfer saat ini cenderung mengarah pada El Nino kategori moderat dengan probabilitas sekitar 27 persen.
Situasi ini berbeda dengan fenomena El Nino super kuat atau Godzilla El Nino yang pernah terjadi pada 1997 dan 2015.
“El Nino 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis,” jelas Albertus, Sabtu (20/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang kemudian mengganggu pola pembentukan awan hujan di Indonesia.
Baca Juga: Kapal Patroli FPB 28 Diuji, Begini Peran Teknologi Hidrodinamika untuk Perkuat Pengawasan Maritim
Pada kondisi normal, wilayah perairan Indonesia yang hangat menjadi pusat pembentukan awan dan hujan.
Namun saat El Nino terjadi, pusat konveksi bergeser ke Pasifik Tengah sehingga curah hujan di Indonesia menurun cukup signifikan.
Berdasarkan proyeksi BRIN, lanjut Albertus, puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada bulan Agustus.
Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung, berpotensi mengalami tingkat kekeringan yang cukup tinggi.
“Secara keseluruhan, peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang mencapai sekitar 81 persen,” ujarnya.
Albertus juga menegaskan bahwa potensi munculnya Godzilla El Nino pada tahun ini sangat rendah karena sejumlah faktor ilmiah yang mendukung.
Salah satunya adalah kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada dalam fase netral dan diperkirakan bertahan hingga April 2027.
Selain itu, Indonesia dan kawasan Pasifik baru saja mengalami El Nino kuat pada periode 2023-2024, sehingga secara dinamika laut belum cukup energi untuk memicu kembali El Nino super ekstrem dalam waktu yang berdekatan.
Meski demikian, Albertus menambahkan bahwa BRIN telah mengidentifikasi adanya peningkatan risiko El Nino ekstrem pada periode akhir 2027 hingga pertengahan 2028. Melalui pendekatan analisis stokastik berbasis Persamaan Fokker-Planck, peluang kemunculan Godzilla El Nino pada periode tersebut diperkirakan meningkat hingga hampir 40 persen.
“Temuan ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah untuk mulai menyiapkan strategi mitigasi jangka menengah,” tegasnya.
Untuk menghadapi potensi dampak musim kemarau panjang, BRIN telah mengembangkan berbagai inovasi teknologi mitigasi berbasis riset.
Salah satunya adalah sistem pemantauan lahan gambut secara real time melalui platform Ina-Carbon, yang mampu memantau tinggi muka air tanah, kelembapan tanah, curah hujan, hingga kualitas udara.
Sistem ini juga dapat mendeteksi kondisi kritis lahan gambut satu hingga dua minggu sebelum terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, Albertus menjelaskan bahwa BRIN juga mengembangkan teknologi drone pemadam kebakaran yang mampu menjangkau area terpencil yang sulit diakses oleh petugas di lapangan.
Teknologi ini dirancang untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan yang biasanya meningkat saat musim kemarau panjang akibat El Nino.
Di sektor ketahanan pangan, BRIN turut menyiapkan berbagai teknologi adaptasi guna menekan risiko gagal panen.
“Teknologi tersebut mencakup sistem irigasi hemat air, pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, hingga pemanfaatan lahan suboptimal seperti rawa lebak yang dapat menjadi alternatif produksi pangan saat lahan pertanian konvensional mengalami kekurangan air,” ungkapnya.
Albertus menegaskan bahwa keberhasilan dalam menghadapi El Nino tidak hanya ditentukan oleh besarnya anomali iklim, tetapi juga oleh kesiapan teknologi serta strategi adaptasi yang diterapkan sejak dini.
Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tetap waspada namun tidak berlebihan dalam menyikapi isu El Nino ekstrem pada 2026.
“Yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat pengelolaan sumber daya air, mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan, serta memastikan ketahanan pangan tetap terjaga. Dengan mitigasi dan adaptasi yang tepat, dampak El Nino dapat ditekan seminimal mungkin,” pungkas Albertus.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 2Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 3Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 4Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 5Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 6Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 7Gibran Digadang Capres 2029, Pernyataan Ali Syarief soal Prabowo Bikin Wacana Makin Panas
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 98 Tuntutan Gugatan Gibran di MK Terungkap, Ada Permintaan Batalkan Pelantikan dan Pilih Wapres Baru
- 10Roy Suryo Soroti Biografi Gibran di MK, Ada Perbedaan Keterangan Pendidikan yang Dipersoalkan






