90 Persen Trafik Internet Indonesia Masih Bergantung pada Singapura, Pemerintah Siapkan Solusi
AKURAT BANTEN - Indonesia berupaya mengurangi tingkat ketergantungan yang masih sangat tinggi terhadap Singapura dalam hal konektivitas internet dan infrastruktur digital melalui strategi diversifikasi jalur jaringan nasional.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian ekosistem digital Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan akan konektivitas data yang andal.
"Jujur saja, 90 persen lalu lintas (internet) kita sekarang bergantung pada Singapura," kata Denny Setiawan, direktur strategi dan kebijakan infrastruktur digital Kementerian, saat upacara penghargaan di Jakarta pada Senin (8 Juni).
Baca Juga: Harga Mulai Rp80 Miliar, Island Villa Jadi Hunian Ultra-Luxury Terbaru di BSD City
Ketergantungan tersebut tidak terlepas dari posisi strategis Singapura sebagai pusat digital utama di kawasan Asia Tenggara.
Negara tersebut menjadi lokasi berbagai infrastruktur digital penting, mulai dari jaringan kabel bawah laut internasional, pusat data berskala besar, hingga layanan komputasi awan global yang mendukung arus pertukaran data regional dan internasional.
Kabel bawah laut sendiri merupakan komponen vital dalam sistem teknologi informasi dan telekomunikasi modern.
Infrastruktur ini berfungsi sebagai penghubung utama antarnegara dan antarbenua dalam mendukung pertukaran data secara global.
Baca Juga: Raffi Ahmad Terseret Kasus Bea Cukai, Akui Hanya Basa-basi Soal iPhone dari AS
Sering digambarkan sebagai "tulang punggung internet global", mereka dapat membawa lebih dari 99 persen lalu lintas data dunia, termasuk email, halaman web, dan panggilan video.
Menurut Denny, Indonesia perlu memperluas jumlah jalur konektivitas digital alternatif agar akses internet nasional tidak hanya bertumpu pada satu koridor utama.
Ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu jalur dinilai berpotensi menimbulkan risiko apabila terjadi gangguan teknis maupun faktor eksternal lainnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara harus ditunjang oleh sistem konektivitas yang kuat dan merata.
Infrastruktur digital yang memadai diperlukan agar layanan teknologi dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau.
"Kita membutuhkan keragaman dalam kabel bawah laut dan kabel darat (berbasis daratan), dan hal yang sama berlaku untuk setiap pulau," katanya, menambahkan bahwa kedaulatan digital semakin penting seiring dengan meningkatnya permintaan akan kapasitas jaringan untuk mendukung kecerdasan buatan (AI) dan pusat-pusat berbasis data.
Denny juga menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah melakukan sinkronisasi berbagai rencana pengembangan infrastruktur digital nasional, termasuk pembangunan pusat data, jaringan kabel bawah laut, jaringan terestrial, serta pengelolaan spektrum frekuensi radio agar dapat mendukung kebutuhan transformasi digital secara berkelanjutan.
Sementara itu, Indonesia juga membuka peluang kerja sama strategis dengan Singapura dalam pengembangan infrastruktur pusat data regional melalui koridor pertumbuhan Singapura–Johor–Riau.
Informasi tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Selasa, sebagaimana dilaporkan oleh media lokal.
Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat rantai pasok regional sekaligus mempercepat pengembangan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.
Airlangga menilai bahwa transformasi ekonomi global saat ini semakin mengarah pada sektor digital sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang relatif lebih tahan terhadap dinamika dan ketidakpastian geopolitik yang terjadi di berbagai belahan dunia.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari, Selain AJB Tak Jelas Pengelola Dinilai Buruk
- 2Bawa Sabu 26 Kg, Dua Terdakwa Kasus Narkoba di Tangerang Dituntut Hukuman Mati
- 3Bukan Sekadar Menopang Tulang, Implan Medis Ini Dikembangkan agar Bisa Memulihkan Lapisan Pelindungnya
- 4Polisi Gagalkan Peredaran 120 Cartridge Vape Mengandung Etomidate di Apartemen Pacific Garden
- 5Harry Kane Ungkap Kebahagiaan Raih Ballon d'Or 2026, Ini Rekor Golnya Bersama Bayern Munich
- 6Jusuf Kalla Heran Ditantang Buka Buku Nikah, Padahal Hanya Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli!
- 7Gerindra Bela Gibran, Prabowo Tak Bisa Pecat Wapres Sepihak! Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 8Uang Pelicin Rp338 Juta di Balik Kredit Fiktif Bank BJB: Polda Banten Bongkar Modus Licik Rekayasa Dokumen, Negara Boncos Rp8,7 Miliar!
- 9TNI AL Kerahkan KRI Brawijaya-320, Meriam 127 mm dan 25 mm Diuji di Laut Jawa
- 1013 Siswa di Dramaga Bogor Masih Diobservasi, BGN Ungkap Dugaan Penyebab Gangguan Kesehatan









