Banten

Optimistis Ekonomi Terkendali, BI Yakin Inflasi Tetap Jinak hingga 2026

Moehamad Dheny Permana | 23 Oktober 2025, 17:28 WIB
Optimistis Ekonomi Terkendali, BI Yakin Inflasi Tetap Jinak hingga 2026

Akurat Banten - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menunjukkan keyakinannya terhadap stabilitas ekonomi nasional yang terus membaik di tengah tantangan global.

Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025 yang digelar secara daring, ia menegaskan bahwa laju inflasi masih berada di jalur aman dan diyakini akan terus terjaga hingga dua tahun mendatang.

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi tahun 2025 dan 2026 tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” ujar Perry.

Perry menjelaskan, pengendalian inflasi yang konsisten menjadi hasil dari kombinasi strategi kebijakan moneter yang tepat, stabilitas sektor keuangan, dan penguatan sinergi antar lembaga.

Menurutnya, sejumlah faktor seperti ekspektasi inflasi yang tetap rendah, kapasitas ekonomi yang belum sepenuhnya terpakai, serta terkendalinya inflasi impor berperan besar dalam menjaga harga tetap stabil.

“Digitalisasi ekonomi juga memberikan dampak positif karena menekan biaya distribusi dan meningkatkan efisiensi di berbagai sektor,” katanya.

Bank Indonesia juga menyoroti peran penting kerja sama antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), koordinasi antara pusat dan daerah semakin erat, terutama dalam menjaga pasokan serta kestabilan harga bahan pangan.

Baca Juga: Lelang Harta Mewah Doni Salmanan Raup Hampir Rp10 Miliar, Negara Kembali Untung

Perry menilai, langkah-langkah tersebut efektif dalam menahan tekanan harga di tengah fluktuasi produksi akibat faktor cuaca dan distribusi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2025 mencapai 2,65 persen secara tahunan.

Angka tersebut masih berada dalam kisaran target BI dan menunjukkan kestabilan daya beli masyarakat.

Sementara inflasi inti tercatat di level 2,19 persen, menandakan bahwa tekanan harga dari sisi permintaan masih relatif terkendali.

Kondisi ini, lanjut Perry, turut dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga acuan yang dijaga konsisten oleh BI, sehingga menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga.

“Pertumbuhan ekonomi kita masih di bawah kapasitas potensial, namun itu menjadi ruang bagi inflasi untuk tetap rendah,” ujarnya.

Adapun kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices menunjukkan kenaikan ringan sebesar 1,1 persen.

Faktor pendorongnya antara lain turunnya tarif angkutan umum dan harga bahan bakar, meskipun harga rokok eceran mengalami peningkatan.

Sementara itu, kelompok harga bergejolak atau volatile food sempat melonjak hingga 6,44 persen akibat naiknya harga cabai, bawang, beras, dan daging ayam ras.

Kenaikan tersebut dipicu oleh berakhirnya masa panen dan meningkatnya biaya produksi.

Namun Perry menegaskan bahwa lonjakan ini bersifat sementara dan diyakini segera mereda seiring penguatan koordinasi antarinstansi.

Baca Juga: Ledakan Deepfake di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, Mafindo Desak Pemerintah Bertindak Cepat

“Meski begitu, inflasi volatile food diperkirakan tetap terkendali didukung oleh sinergi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat maupun Daerah serta penguatan implementasi GNPIP,” tegasnya.

Dengan stabilnya inflasi dan terkendalinya harga kebutuhan pokok, Bank Indonesia menilai momentum ekonomi nasional akan terus terjaga hingga 2026.

Optimisme itu sekaligus menjadi sinyal bahwa kebijakan moneter dan sinergi lintas sektor masih menjadi kunci utama menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.