BRICS Susun Arah Baru Keuangan Dunia, Perlahan Lepas dari Bayang-Bayang Dolar AS

AKURAT BANTEN - Kelompok negara BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, serta sejumlah anggota baru mulai merancang langkah strategis untuk membentuk wajah baru sistem keuangan global.
Upaya ini kian menguat menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026, dengan fokus utama mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat dalam transaksi internasional.
Baca Juga: Konflik Inara Rusli dan Virgoun soal Hak Asuh Anak Kembali Disorot Publik
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara BRICS intensif mengembangkan berbagai mekanisme pembayaran alternatif.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah BRICS Pay, sebuah sistem pembayaran lintas negara yang menghubungkan mata uang digital nasional masing-masing anggota, sehingga transaksi dapat dilakukan tanpa melalui sistem keuangan berbasis dolar.
Baca Juga: Geger! Mayat Tanpa Kepala dan Isi Perut Hilang Ditemukan di Pesisir Danau Tempe
Skema ini dirancang untuk mempermudah perdagangan dan investasi antarnegara anggota, sekaligus memangkas biaya transaksi dan ketergantungan pada lembaga keuangan Barat.
Dengan sistem ini, pembayaran lintas batas dapat dilakukan secara langsung menggunakan mata uang lokal atau versi digitalnya.
Langkah tersebut tidak muncul tanpa latar belakang. Ketegangan geopolitik global, meningkatnya sanksi ekonomi, serta fluktuasi nilai tukar dolar dinilai telah mendorong negara-negara BRICS mencari jalan keluar yang lebih aman dan mandiri dalam mengelola perekonomian mereka.
Baca Juga: Nilai Akademik Rendah, Apa yang Salah dengan Sistem Pendidikan Kita?
“Negara-negara BRICS ingin memastikan bahwa perdagangan dan kerja sama ekonomi tidak mudah terganggu oleh faktor politik eksternal,” ujar seorang analis ekonomi internasional yang mengikuti perkembangan kerja sama BRICS.
Selain BRICS Pay, pembahasan juga mencakup penguatan peran New Development Bank (NDB) serta kemungkinan penggunaan mata uang lokal secara lebih luas dalam pembiayaan proyek lintas negara.
Langkah ini dinilai mampu memperkuat stabilitas ekonomi domestik sekaligus meningkatkan daya tawar negara berkembang di kancah global.
Baca Juga: Viral! Guru PPPK Paruh Waktu di Sumedang Terima Gaji Pertama Rp15 Ribu, Kok Bisa?
Meski demikian, para pengamat menilai proses pelepasan dari dominasi dolar tidak akan terjadi secara instan. Dolar AS masih memegang peran besar dalam perdagangan global, cadangan devisa, dan pasar keuangan internasional. Namun, konsistensi BRICS membangun alternatif dinilai sebagai sinyal perubahan jangka panjang.
Upaya ini juga mencerminkan semangat negara-negara BRICS untuk mendorong sistem ekonomi dunia yang lebih seimbang. Mereka menginginkan tatanan global yang tidak bertumpu pada satu mata uang atau satu pusat kekuatan ekonomi semata.
Dengan semakin bertambahnya anggota BRICS dan meluasnya kerja sama lintas kawasan, blok ini berpotensi menjadi salah satu poros penting dalam pembentukan arsitektur keuangan global yang lebih beragam dan inklusif.
Baca Juga: Aneka Menu Sahur di Bulan Ramadhan 2026, Inspirasi Santapan Bergizi agar Puasa Lebih Kuat
Menjelang KTT 2026, agenda dedolarisasi diperkirakan akan menjadi salah satu topik utama yang dibahas para pemimpin BRICS. Hasil pertemuan tersebut dinantikan sebagai penanda sejauh mana kelompok ini mampu mengubah peta keuangan dunia secara nyata.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








