Rupiah Melemah Imbas Gejolak Timur Tengah, Sentuh Rp16.868 per Dolar AS

AKURAT BANTEN - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal pekan. Dalam perdagangan Senin (2/3/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 81 poin atau sekitar 0,48 persen ke posisi Rp16.868 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini memperpanjang tren fluktuatif yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Tekanan terhadap rupiah kali ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi yang memanas memicu kekhawatiran pelaku pasar global, sehingga mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.
Baca Juga: Putusan Bersejarah MK, Penyandang Penyakit Kronis Kini Dapat Kepastian Hukum dalam UU Disabilitas
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa sentimen negatif terutama berasal dari eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan Israel.
"Pembunuhan tokoh paling berpengaruh di Iran meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas dan potensi gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur energi global yang sangat penting," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Menurutnya, pasar merespons keras setiap potensi gangguan di Selat Hormuz karena jalur tersebut menjadi salah satu titik krusial distribusi minyak dunia. Jika distribusi energi terganggu, harga minyak mentah berpotensi melonjak, yang pada akhirnya bisa memicu inflasi global dan memperkuat dolar AS.
Situasi memanas setelah pasukan Israel melancarkan serangkaian serangan baru ke Teheran menggunakan rudal dan pesawat tempur yang menargetkan infrastruktur komando serta sistem pertahanan udara.
Serangan itu dibalas oleh Teheran dengan meluncurkan rudal ke sejumlah wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan, apalagi jika melibatkan lebih banyak negara besar. Pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika.
Baca Juga: Wapres Ke-6 RI Try Sutrisno Wafat di RSPAD Gatot Soebroto, Keluarga Ungkap Kondisi Terakhir
Selain faktor eksternal, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh dinamika global lainnya, termasuk sikap bank sentral AS (The Fed) terhadap suku bunga serta arus modal asing di pasar domestik. Jika tekanan global terus berlanjut, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.
Meski demikian, sejumlah analis menilai fundamental ekonomi Indonesia relatif stabil, didukung oleh cadangan devisa yang memadai dan kebijakan moneter Bank Indonesia yang responsif. Namun, dalam jangka pendek, sentimen geopolitik diperkirakan masih menjadi faktor dominan yang membayangi pergerakan rupiah.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ballon d’Or 2026 Segera Terjawab! Ini Jadwal Pengumuman, Jam Tayang WIB, dan Kandidat yang Berebut Trofi
- 2Haaland Semprot Donnarumma di Tengah Laga, Blunder Sang Kiper Bikin Man City Tumbang!
- 3Uang Pelicin Rp338 Juta di Balik Kredit Fiktif Bank BJB: Polda Banten Bongkar Modus Licik Rekayasa Dokumen, Negara Boncos Rp8,7 Miliar!
- 4Jusuf Kalla Heran Ditantang Buka Buku Nikah, Padahal Hanya Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli!
- 5Bakar Mesin di 'Kandang' Prabowo, Manuver Tersembunyi Jokowi Isyaratkan Persiapan PILPRES 2029
- 6PILPRES 2029 Pecah Kongsi! Pengamat Cium Isyarat Jokowi-Prabowo Bukan Lagi Sejalan, Diduga Saling Berhadapan, Alasannya Begini
- 7Rizal Fadillah Desak Prabowo Bersikap soal Gibran, Benarkah Wacana Pemakzulan Makin Panas?
- 8Kekeringan Landa Cipete, PMI Pinang Salurkan Air Minum Bersih untuk Warga
- 9Harry Kane Raih Ballon d'Or 2026, Artikel di Situs Resmi Sempat Picu Dugaan Kebocoran Hasil
- 10Kerugian Jemaah Haji dan Umrah Capai Rp 247,65 Miliar, Kemenhaj Catat 244 Aduan









