Banten

Program Literasi Keagamaan Indonesia Jadi Sorotan Dunia, Diangkat di Forum Internasional Singapura

Andi Syafrani | 29 Juni 2025, 18:07 WIB
Program Literasi Keagamaan Indonesia Jadi Sorotan Dunia, Diangkat di Forum Internasional Singapura

AKURAT BANTEN - Pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman kembali mendapat panggung di dunia internasional.

Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diinisiasi Institut Leimena menjadi salah satu contoh praktik baik dalam membangun kohesi sosial di tengah masyarakat majemuk.

Program ini dipaparkan dalam konferensi internasional bergengsi bertajuk The International Conference on Cohesive Societies (ICCS) yang digelar di Singapura pada 24–26 Juni 2025.

Baca Juga: Atur Hidup Lewat Layar: Kalender Digital Jadi Asisten Pribadi Masa Kini

Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, dalam pidato pembukaan konferensi di Raffles City Convention Centre, secara khusus menyebut program LKLB sebagai inisiatif yang menginspirasi.

Ia menggarisbawahi pentingnya pendidikan lintas agama sejak dini untuk menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghapus stereotip yang mengakar.

Baca Juga: Guru Ngaji di Tebet Diciduk Polisi, Diduga Cabuli 10 Santri Anak-Anak di Rumah Pengajian

“Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya di Indonesia yang dijalankan oleh Institut Leimena telah melatih 9.000 guru untuk membantu anak-anak mempelajari tentang keberagaman agama di negaranya, menghilangkan stereotip masa lalu, dan saling menghormati,” ujar Tharman dalam sambutannya, Selasa, 24 Juni 2025.

Baca Juga: Korban Pemerkosaan Berujung Damai, Komnas Perempuan Kecam Mediasi Polisi atas Kasus Kekerasan Seksual di Karawang

Konferensi ICCS diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari 50 negara, termasuk para pemimpin agama, akademisi, dan pembuat kebijakan.

Mengangkat tema “Cohesive Societies, Resilient Futures”, acara ini bertujuan menjawab tantangan dunia terkait meningkatnya polarisasi dan intoleransi, serta menggali cara membangun masyarakat yang tangguh dalam keberagaman.

Baca Juga: Viral Sopir Bajaj Kasih Rokok ke Petugas Derek Dishub, Kadishub DKI: Jika Terbukti Pungli, Kami Pecat!

Dari Indonesia, Menteri Agama Nasaruddin Umar turut hadir sebagai pembicara pleno, sementara Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, dijadwalkan tampil dalam sesi showcase untuk membagikan praktik program LKLB pada Kamis, 26 Juni.

Kehadiran mereka menjadi representasi penting Indonesia di forum global yang menekankan pentingnya dialog lintas identitas.

“Saya senang Leimena hadir dalam konferensi ini, dan mereka akan membagikan pengalaman mereka,” ujar Presiden Tharman, memberi apresiasi kepada tim Indonesia.

Baca Juga: Garuda Indonesia Buka Lagi Rute Jakarta-Doha Usai Konflik Iran Israel Berakhir

Matius Ho menuturkan, undangan menjadi narasumber di ICCS merupakan kesempatan strategis untuk menampilkan wajah toleransi Indonesia yang lahir dari praktik nyata di akar rumput.

Program LKLB, menurutnya, berperan penting dalam memperkuat rasa saling percaya di tengah masyarakat yang semakin beragam dan kompleks.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan Harga Listrik PLN Juni-September 2025 Tidak Naik, Dorong Daya Beli Masyarakat

“Program ini dikembangkan untuk membangun rasa saling percaya, dengan cara melawan prasangka dan stereotip terhadap orang yang berbeda. Ketakutan terhadap ‘yang lain’ sering kali menjadi awal dari konflik sosial,” kata Matius.

Ia juga menegaskan bahwa LKLB tidak hanya berhenti pada dialog antaragama yang bersifat simbolik, melainkan mendorong pemahaman yang lebih dalam.

Dalam praktiknya, program ini melibatkan ribuan pendidik dari berbagai latar belakang agama, yang kemudian menjadi agen toleransi di sekolah dan komunitas masing-masing.

Baca Juga: Prajurit TNI AL Dikeroyok di Terminal Malang, TNI Siap Buru Pelaku: Premanisme Tak Akan Dibiarkan!

Hingga pertengahan 2025, lebih dari 10.000 guru dan pendidik dari seluruh Indonesia telah mengikuti pelatihan ini.

Dukungan berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan, termasuk Masjid Istiqlal, menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas institusi menjadi kunci untuk menciptakan masyarakat yang rukun, adil, dan inklusif.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC