Banten

Harga Kelapa Melonjak, Mendag Beri Respons Mengejutkan: Evaluasi Besar-Besaran Digelar

Moehamad Dheny Permana | 22 Maret 2025, 20:14 WIB
Harga Kelapa Melonjak, Mendag Beri Respons Mengejutkan: Evaluasi Besar-Besaran Digelar

Akurat Banten - Harga kelapa bulat di pasar domestik mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga yang drastis ini diduga kuat dipicu oleh meningkatnya permintaan ekspor, terutama dari China.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memberikan respons yang tak terduga dengan mengusulkan evaluasi menyeluruh yang melibatkan berbagai pihak.

Baca Juga: Checklist Belanja Lebaran: Pastikan Semua Kebutuhan Terpenuhi Tanpa Terlewat!

Mendag Budi Santoso mengungkapkan bahwa lonjakan harga kelapa dipengaruhi oleh meningkatnya ekspor serta kebutuhan industri dalam negeri yang terus bertambah.

 "Kelapa ini banyak permintaan ekspor juga ya. Banyak permintaan ekspor, terus industri di dalam negeri juga banyak minta," ujar Budi.

Dampak dari ekspor yang besar ini membuat pelaku industri dalam negeri kesulitan mendapatkan pasokan kelapa. Hal ini pun dirasakan langsung oleh para pedagang di pasar tradisional.

Baca Juga: Rekomendasi Oleh-Oleh Lebaran yang Cocok untuk Keluarga dan Kerabat: Hadiah Spesial untuk Momen Tak Terlupakan

Harga kelapa bulat yang sebelumnya Rp10.000 per butir kini melonjak menjadi Rp15.000.

Dalam menghadapi kondisi ini, pemerintah berencana melakukan evaluasi dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk eksportir, industri, dan petani.

 "Nah, kita akan evaluasi bareng-bareng. Kan dari sisi industri, dari sisi eksportir, petani kan harus berkumpul bareng. Kita lihat juga harganya," jelas Budi.

Baca Juga: Persiapan Laga Krusial Melawan Bahrain, Timnas Indonesia Lakukan Evaluasi dan Pembenahan

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut bahwa kelangkaan kelapa di Indonesia juga disebabkan oleh permintaan besar dari China.

"Saya ambil contoh kelapa saja, kita sekarang kekurangan kelapa karena kelapa kita sekarang habis dibeli China," kata Zulhas.

Ia menjelaskan bahwa kelapa Indonesia kini banyak digunakan di China sebagai bahan baku alternatif susu, terutama dalam industri kopi dan minuman lainnya.

Baca Juga: Sebanyak 718 Pegawai Bakal Diangkat Pemprov Banten Untuk RSUD Labuan dan Cilograng

Meski lonjakan ekspor menguntungkan petani kelapa, ketersediaan bahan baku di dalam negeri semakin terbatas.

"Jadi kelapa tuh mahal sekali sekarang. Ini contoh bahwa pertanian menguntungkan, tapi di sisi lain pasokan dalam negeri berkurang," tambah Zulhas.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor kelapa Indonesia ke China mengalami lonjakan pada 2023, mencapai US$958.689,52 (Rp15,76 miliar), sebelum akhirnya turun ke US$683.499,72 pada 2024.

Baca Juga: Tips Aman Saat Mudik Lebaran Agar Tenang Meninggalkan Rumah Kosong

Fluktuasi ini menunjukkan bahwa strategi ekspor kelapa Indonesia masih belum stabil.

Dengan rencana evaluasi besar-besaran dari pemerintah, diharapkan ada solusi yang dapat menjaga keseimbangan antara keuntungan ekspor dan ketersediaan kelapa di dalam negeri.

Namun, apakah langkah ini cukup untuk menstabilkan harga kelapa? Kita tunggu kebijakan berikutnya dari pemerintah.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.