Harga Kelapa Melonjak, Mendag Beri Respons Mengejutkan: Evaluasi Besar-Besaran Digelar

Akurat Banten - Harga kelapa bulat di pasar domestik mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan harga yang drastis ini diduga kuat dipicu oleh meningkatnya permintaan ekspor, terutama dari China.
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memberikan respons yang tak terduga dengan mengusulkan evaluasi menyeluruh yang melibatkan berbagai pihak.
Baca Juga: Checklist Belanja Lebaran: Pastikan Semua Kebutuhan Terpenuhi Tanpa Terlewat!
Mendag Budi Santoso mengungkapkan bahwa lonjakan harga kelapa dipengaruhi oleh meningkatnya ekspor serta kebutuhan industri dalam negeri yang terus bertambah.
"Kelapa ini banyak permintaan ekspor juga ya. Banyak permintaan ekspor, terus industri di dalam negeri juga banyak minta," ujar Budi.
Dampak dari ekspor yang besar ini membuat pelaku industri dalam negeri kesulitan mendapatkan pasokan kelapa. Hal ini pun dirasakan langsung oleh para pedagang di pasar tradisional.
Harga kelapa bulat yang sebelumnya Rp10.000 per butir kini melonjak menjadi Rp15.000.
Dalam menghadapi kondisi ini, pemerintah berencana melakukan evaluasi dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk eksportir, industri, dan petani.
"Nah, kita akan evaluasi bareng-bareng. Kan dari sisi industri, dari sisi eksportir, petani kan harus berkumpul bareng. Kita lihat juga harganya," jelas Budi.
Baca Juga: Persiapan Laga Krusial Melawan Bahrain, Timnas Indonesia Lakukan Evaluasi dan Pembenahan
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut bahwa kelangkaan kelapa di Indonesia juga disebabkan oleh permintaan besar dari China.
"Saya ambil contoh kelapa saja, kita sekarang kekurangan kelapa karena kelapa kita sekarang habis dibeli China," kata Zulhas.
Ia menjelaskan bahwa kelapa Indonesia kini banyak digunakan di China sebagai bahan baku alternatif susu, terutama dalam industri kopi dan minuman lainnya.
Baca Juga: Sebanyak 718 Pegawai Bakal Diangkat Pemprov Banten Untuk RSUD Labuan dan Cilograng
Meski lonjakan ekspor menguntungkan petani kelapa, ketersediaan bahan baku di dalam negeri semakin terbatas.
"Jadi kelapa tuh mahal sekali sekarang. Ini contoh bahwa pertanian menguntungkan, tapi di sisi lain pasokan dalam negeri berkurang," tambah Zulhas.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor kelapa Indonesia ke China mengalami lonjakan pada 2023, mencapai US$958.689,52 (Rp15,76 miliar), sebelum akhirnya turun ke US$683.499,72 pada 2024.
Baca Juga: Tips Aman Saat Mudik Lebaran Agar Tenang Meninggalkan Rumah Kosong
Fluktuasi ini menunjukkan bahwa strategi ekspor kelapa Indonesia masih belum stabil.
Dengan rencana evaluasi besar-besaran dari pemerintah, diharapkan ada solusi yang dapat menjaga keseimbangan antara keuntungan ekspor dan ketersediaan kelapa di dalam negeri.
Namun, apakah langkah ini cukup untuk menstabilkan harga kelapa? Kita tunggu kebijakan berikutnya dari pemerintah.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari, Selain AJB Tak Jelas Pengelola Dinilai Buruk
- 2Bawa Sabu 26 Kg, Dua Terdakwa Kasus Narkoba di Tangerang Dituntut Hukuman Mati
- 3Bukan Sekadar Menopang Tulang, Implan Medis Ini Dikembangkan agar Bisa Memulihkan Lapisan Pelindungnya
- 4Polisi Gagalkan Peredaran 120 Cartridge Vape Mengandung Etomidate di Apartemen Pacific Garden
- 5Cicilan Lunas Bertahun-tahun tapi Belum SHM? Tarif Iuran Bengkak Tanpa Transparansi, Ratusan Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari
- 6Harry Kane Ungkap Kebahagiaan Raih Ballon d'Or 2026, Ini Rekor Golnya Bersama Bayern Munich
- 7Gerindra Bela Gibran, Prabowo Tak Bisa Pecat Wapres Sepihak! Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 8Haaland Semprot Donnarumma di Tengah Laga, Blunder Sang Kiper Bikin Man City Tumbang!
- 9Dokter Tifa Singgung Ancaman Penjara 7 Tahun di Sidang Ijazah Jokowi, Peringatan untuk Siapa?
- 10TNI AL Kerahkan KRI Brawijaya-320, Meriam 127 mm dan 25 mm Diuji di Laut Jawa










