Banten

Longsor Cisarua Dipicu Alam Pakar UPI Ungkap Peran Lereng Terjal dan Hujan Ekstrem

Moehamad Dheny Permana | 31 Januari 2026, 20:21 WIB
Longsor Cisarua Dipicu Alam Pakar UPI Ungkap Peran Lereng Terjal dan Hujan Ekstrem

Akurat Banten - Peristiwa longsor yang terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dinilai lebih kuat dipengaruhi oleh kondisi alam dibandingkan aktivitas manusia, berdasarkan kajian pakar mitigasi bencana dari Universitas Pendidikan Indonesia.

Pakar Mitigasi Bencana UPI, Hendro Murtianto, menegaskan bahwa pergerakan massa tanah di wilayah tersebut merupakan respons alamiah terhadap karakter bentang alam Gunung Burangrang yang memang rawan longsor.

“Alih fungsi lahan memang ada pengaruhnya, namun dalam kejadian longsor Cisarua ini bukan faktor utama karena titik awal longsoran berada di puncak Gunung Burangrang, bukan di lereng bawah,” ujar Hendro.

Ia menjelaskan bahwa longsor tersebut terjadi akibat kombinasi berbagai faktor, baik dari luar maupun dari dalam tanah, yang keseluruhannya didominasi oleh aspek alam.

Faktor eksternal yang berperan besar meliputi kemiringan lereng yang curam, intensitas hujan tinggi yang terjadi secara berkelanjutan, kondisi relief wilayah, serta pola aliran air dari kawasan hulu hingga ke bagian bawah lereng.

Menurut Hendro, aliran air dari wilayah atas gunung memiliki peran signifikan dalam meningkatkan tekanan air tanah, terutama ketika hujan turun tanpa jeda dalam waktu lama.

Selain faktor eksternal, kondisi internal tanah juga menjadi penentu utama terjadinya pergerakan massa tanah di kawasan tersebut.

Baca Juga: Kemenkes Ingatkan Bahaya Gas Nitrous Oxide Usai Temuan Tabung Pink dalam Kasus Kematian Influencer

Ia menyebut kondisi geologi berupa lapisan batuan, ketebalan tanah hasil pelapukan material vulkanik, serta keberadaan bidang gelincir di bawah permukaan tanah menjadi pemicu utama saat tanah berada dalam kondisi jenuh air.

“Curah hujan yang tinggi dan terus-menerus membuat bidang gelincir menjadi licin dan kehilangan kestabilannya,” kata Hendro.

Kawasan Gunung Burangrang sendiri merupakan bagian dari bentang alam gunung api purba Gunung Sunda yang secara geomorfologi memiliki lereng terjal dan relief yang ekstrem.

Dengan karakter tersebut, wilayah ini secara alami menyimpan potensi longsor yang tinggi, bahkan tanpa adanya campur tangan aktivitas manusia.

Hendro menekankan bahwa fenomena longsor tidak selalu berkaitan dengan kawasan permukiman atau wilayah yang telah mengalami perubahan fungsi lahan.

Ia menjelaskan bahwa longsor juga kerap terjadi di kawasan hutan lebat atau daerah yang tidak berpenghuni sebagai bagian dari dinamika alam.

“Longsor itu fenomena alamiah dan bisa terjadi di mana saja, termasuk di kawasan hutan yang tidak ada aktivitas manusia,” ujarnya.

Baca Juga: Dorong Industri Hijau, DPR Tekankan Transformasi Ramah Lingkungan Demi Daya Saing Global

Namun demikian, sebuah peristiwa longsor baru dapat dikategorikan sebagai bencana apabila menimbulkan dampak langsung terhadap kehidupan manusia.

Menurut Hendro, risiko terbesar muncul ketika wilayah rawan longsor dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman, jalur transportasi, atau aktivitas ekonomi.

Ia menilai pemahaman masyarakat terhadap karakter wilayah dan potensi bencana masih perlu ditingkatkan agar risiko korban dapat diminimalkan.

“Fenomena longsor itu alamiah, yang menjadi masalah adalah ketika longsor tersebut berdampak pada kehidupan manusia,” katanya.

Hendro pun mendorong agar upaya mitigasi bencana lebih difokuskan pada penataan ruang berbasis risiko dan peningkatan kewaspadaan dini di daerah rawan longsor.

Dengan memahami bahwa sebagian wilayah memiliki potensi bencana alam tinggi secara alami, ia berharap pembangunan dapat dilakukan secara lebih bijak dan berkelanjutan.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.