Banten

Warga Huta Nabolon Bertahan dalam Gelap dan Dingin Sambil Menanti Uluran Bantuan

Moehamad Dheny Permana | 9 Desember 2025, 05:02 WIB
Warga Huta Nabolon Bertahan dalam Gelap dan Dingin Sambil Menanti Uluran Bantuan

Akurat Banten - Puluhan warga di Lingkungan IV, Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, masih bertahan dengan kondisi serba terbatas setelah banjir bandang menghantam wilayah mereka dua pekan lalu.

Di tengah minimnya penerangan dan udara malam yang menusuk tulang, banyak warga bertahan tanpa pakaian bersih karena seluruh kebutuhan sandang mereka tersapu arus banjir.

Margembira Gultom, salah satu warga yang selamat, menyampaikan bahwa seluruh pakaian yang mereka miliki telah habis dibagikan kepada tetangga yang tidak memiliki apa pun.

“Pakaian yang dijemur itu kami berikan ke warga lain, karena mereka benar-benar tidak punya,” ujarnya.

Rumah Margembira kini berubah menjadi tempat pengungsian darurat bagi puluhan keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat terjangan banjir.

Baca Juga: Viral, Ajakan Pandawara Group Beli Hutan Untuk Reboisasi, Denny Caknan: Saya Rp1 Miliar

Ia membuka pintu rumahnya selebar mungkin, mempersilakan siapapun memanfaatkan fasilitas seadanya demi bertahan hidup.

Rumah tersebut berada di dataran lebih tinggi dan menjadi satu dari sedikit bangunan yang selamat dari sapuan material banjir dan kayu-kayu besar yang menghancurkan permukiman di sekitarnya.

“Di sini ada sekitar 30 kepala keluarga yang tinggal bersama kami. Beras delapan liter dimasak untuk sekali makan, dan karena tak ada lauk, saya potong babi serta lembu ternak kami untuk dibagi-bagikan,” tuturnya.

Margembira mengaku lega karena bantuan logistik mulai berdatangan setelah hari-hari pertama yang penuh ketidakpastian.

Ia mengatakan bantuan kebutuhan pokok dari pemerintah dan keluarga perlahan membuat warga bisa bernapas sedikit lebih lega.

“Sudah ada genset untuk penerangan, tapi pakaian bersih masih sangat kami butuhkan, apalagi cuaca masih sering hujan dan air bisa saja naik lagi,” tambahnya.

Kelurahan Huta Nabolon merupakan salah satu wilayah terdampak paling parah sejak bencana terjadi pada 25 November lalu, dengan banyak korban jiwa, kerusakan rumah, serta infrastruktur yang lumpuh total.

Banjir bandang yang membawa balok-balok kayu raksasa itu menghancurkan sedikitnya 150 hingga 200 rumah warga di Lingkungan IV.

Video tentang derasnya aliran banjir yang menyeret kayu berukuran besar bahkan sempat viral di berbagai platform media sosial, menggambarkan kedahsyatan bencana yang menimpa kawasan tersebut.

Akses jalan utama yang menghubungkan Huta Nabolon dan Tukka terputus akibat longsor dan rusaknya badan jalan sehingga bantuan terlambat menjangkau lokasi hingga hari ke-13 masa tanggap darurat.

Baca Juga: Viral! Penipuan WO Ayu Puspita Rugikan Ratusan Pasangan, Kerugian Miliaran, Korban Geruduk hingga Pemilik Ditangkap

Meski bantuan kini lebih mudah masuk, warga masih berjibaku dengan keterbatasan, khususnya kebutuhan sandang yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Di tengah kondisi penuh kesulitan itu, solidaritas warga seperti yang ditunjukkan Margembira menjadi penopang utama bagi para penyintas untuk tetap bertahan melewati hari-hari sulit pascabencana.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.