Prabowo Ajak Kader Gerindra Menjadi Pemimpin yang Meninggalkan Warisan Kebaikan

Akurat Banten - Presiden RI sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menyerukan pesan mendalam kepada para kadernya agar menjadi pemimpin yang tidak hanya berkuasa, tetapi juga memahami denyut nadi bangsanya.
Dalam acara Taklimat Ketua Dewan Partai Gerindra bertema Kompak Bergerak Berdampak di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu malam, Prabowo tampil tegas namun penuh refleksi.
Ia mengingatkan bahwa kekuasaan sejatinya bukan sekadar alat untuk memerintah, melainkan sarana untuk menebar manfaat bagi rakyat.
“Kekuasaan harus digunakan untuk menebar kebaikan, menghapus kemiskinan, dan menegakkan kedaulatan,” ujarnya.
Prabowo menekankan pentingnya kepekaan seorang pemimpin dalam menghadapi situasi bangsa.
Menurutnya, seorang negarawan sejati harus mampu membaca penderitaan rakyat dan bertindak cepat untuk membawa perubahan.
Ia menilai, tanpa empati dan keberanian mengambil keputusan, kepemimpinan hanya akan menjadi simbol tanpa makna.
Dalam arahannya, Prabowo juga menyinggung soal tanggung jawab moral yang melekat pada setiap pejabat publik, terutama mereka yang kini duduk di kursi kekuasaa baik di tingkat pusat maupun daerah.
Baca Juga: Drama Korupsi di Ponorogo Menggelegar Bupati dan Tiga Pejabat Terseret Usai OTT KPK
“Kita pasti akan menghadap pada akhirnya. Jadi tidak usah takut,” tuturnya.
Ia kemudian melanjutkan dengan perumpamaan yang memikat para hadirin.
“Gajah meninggal meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Maka lebih baik kita dikenang karena kebaikan yang kita perbuat,” ucapnya.
Bagi Prabowo, warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah kekuasaan atau jabatan, melainkan jejak kebaikan yang dapat dirasakan rakyat.
Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin yang berhasil adalah mereka yang mampu membuat kebijakannya terus hidup di tengah masyarakat, bahkan setelah masa jabatannya usai.
“Lebih baik kita dikenang karena membawa Indonesia sejahtera, karena membuat anak-anak dan ibu-ibu di seluruh Indonesia bisa makan dengan layak,” kata Prabowo.
Pesan itu menjadi refleksi mendalam bagi para kader Gerindra yang hadir.
Bagi Prabowo, keberanian berbuat baik harus menjadi pegangan utama setiap pemimpin, tanpa takut terhadap risiko politik atau tekanan pihak lain.
Tak hanya sekadar pidato politik, pesan Prabowo di Hambalang seolah menjadi bentuk pengingat moral bagi seluruh pejabat partai dan pemerintahan.
Ia menutup arahannya dengan ajakan untuk selalu menjaga kekompakan dan terus berbuat nyata bagi rakyat, bukan sekadar mengejar posisi.
Baca Juga: Bandung Zoo Kabur dari PKBSI, Pengakuan Mengejutkan Soal Konflik Internal Terkuak
“Jangan takut berbuat yang terbaik. Karena bangsa ini butuh tindakan, bukan sekadar janji,” tegasnya.
Pesan sederhana namun kuat itu mencerminkan arah kepemimpinan yang ingin ditanamkan Prabowo di tubuh Gerindra kepemimpinan yang berakar pada empati, kerja nyata, dan tanggung jawab moral kepada rakyat Indonesia.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 2Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 3Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 4Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 5Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 6Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 7Gibran Digadang Capres 2029, Pernyataan Ali Syarief soal Prabowo Bikin Wacana Makin Panas
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 98 Tuntutan Gugatan Gibran di MK Terungkap, Ada Permintaan Batalkan Pelantikan dan Pilih Wapres Baru
- 10Roy Suryo Soroti Biografi Gibran di MK, Ada Perbedaan Keterangan Pendidikan yang Dipersoalkan







