Banten

Harapan Baru di Gaza Saat Ribuan Warga Pulang Setelah Suara Senjata Terhenti

Moehamad Dheny Permana | 12 Oktober 2025, 12:25 WIB
Harapan Baru di Gaza Saat Ribuan Warga Pulang Setelah Suara Senjata Terhenti

Akurat Banten - Ribuan warga Palestina mulai melangkahkan kaki pulang ke Gaza dengan langkah penuh harap, hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata disahkan secara resmi.

Sejak fajar menyingsing pada Jumat pagi, lautan manusia memenuhi Jalan Rashid dan Salah al-Din, dua jalur utama yang membelah Gaza dari utara hingga selatan.

Wajah-wajah lelah namun berseri tampak membawa barang seadany tas kecil, kasur gulung, selimut using seolah menggenggam sisa-sisa kehidupan yang harus mereka bangun kembali.

Perjalanan pulang ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perjalanan panjang dari ketakutan menuju secercah harapan.

“Ini rumah kami, dan kami harus kembali,” ujar seorang pria paruh baya sambil menggandeng tangan anaknya yang masih kecil.

Ia berjalan sekitar tujuh kilometer bersama rombongan besar pengungsi lainnya, menyusuri jalur pesisir yang beberapa bulan lalu menjadi saksi mata kebrutalan perang.

Jalan Rashid, yang kini ramai dengan warga yang pulang, pernah menjadi rute pelarian ribuan orang saat serangan mematikan mengguncang wilayah utara.

Baca Juga: POLEMIK:Penggunaan APBN untuk Pembangunan Ulang Ponpes Al-Khoziny, DPR Ingatkan Perlunya Kajian Mendalam

Banyak keluarga terpaksa berlari di bawah dentuman bom, sementara beberapa lainnya tak pernah berhasil sampai ke tempat aman.

Kini, jalan yang sama dipenuhi langkah-langkah pulang, bukan lagi pelarian.

Gencatan senjata yang membuka pintu kepulangan ini merupakan hasil kesepakatan yang disetujui Israel, usai tekanan diplomatik intensif dari berbagai pihak internasional.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perjanjian tersebut pada Kamis malam, menyebutnya sebagai awal dari “babak baru perdamaian” di kawasan.

“Ini langkah pertama menuju masa depan yang lebih damai bagi Gaza dan seluruh Timur Tengah,” katanya.

Tahap pertama kesepakatan ini mencakup penghentian total serangan militer, penarikan pasukan Israel dari wilayah Gaza, serta pembukaan jalur masuk bagi bantuan kemanusiaan yang selama ini terhambat.

Selain itu, ada kesepakatan pertukaran tahanan dan sandera, yang menjadi poin sensitif dalam proses negosiasi panjang.

Di sepanjang jalur kepulangan, relawan lokal mulai mendirikan pos bantuan darurat.

Air bersih, makanan, dan selimut dibagikan kepada warga yang kelelahan setelah perjalanan jauh.

Sejumlah rumah sakit lapangan juga disiapkan untuk mengantisipasi kondisi medis warga yang rentan, terutama anak-anak dan lansia.

Baca Juga: 5 Rahasia Mentawai! Bukan Cuma Awera, Inilah Surga Selancar yang Punya Ombak Kelas Dewa!

Meski demikian, di balik wajah-wajah yang berseri karena bisa kembali ke kampung halaman, banyak yang menyadari bahwa perjuangan sesungguhnya baru dimulai.

Rumah-rumah mereka banyak yang hancur, infrastruktur lumpuh, dan kehidupan sehari-hari masih jauh dari kata normal.

“Perang boleh berhenti, tapi luka ini tidak mudah sembuh,” ucap seorang perempuan muda yang kehilangan suaminya dalam serangan beberapa bulan lalu.

Namun bagi banyak warga Gaza, pulang adalah simbol perlawanan dan keteguhan.

Mereka memilih kembali, membangun ulang, dan tidak menyerah pada kehancuran.

Harapan kini menyala di tengah reruntuhan, sementara dunia menatap ke Gaza menunggu apakah gencatan senjata ini benar-benar akan menjadi titik balik menuju perdamaian yang telah lama dinanti.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.