Banten

Langit Jakarta Diselimuti Polusi Tebal Warga Diminta Batasi Aktivitas Luar Ruangan

Moehamad Dheny Permana | 5 Oktober 2025, 19:34 WIB
Langit Jakarta Diselimuti Polusi Tebal Warga Diminta Batasi Aktivitas Luar Ruangan

Akurat Banten - Kualitas udara Jakarta kembali memburuk pada Minggu pagi dan menempatkan ibu kota Indonesia di posisi kelima dunia sebagai kota dengan udara paling tercemar.

Data pemantau kualitas udara global IQAir mencatat pada pukul 05.59 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai 134 poin, menandakan kategori tidak sehat dengan dominasi polutan PM2.5 sebesar 49 mikrogram per meter kubik.

Angka ini menunjukkan kondisi udara yang berisiko bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

“Udara pagi ini termasuk tidak sehat bagi kelompok rentan, jadi disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan,” tulis laporan IQAir.

Warga Jakarta pun dihimbau untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan menutup jendela agar udara kotor tidak masuk ke dalam ruangan.

Sebagai perbandingan, kategori kualitas udara baik berada pada rentang PM2.5 0–50, sementara kategori sedang antara 51–100.

Bila angka polusi mencapai 200–299, udara sudah tergolong sangat tidak sehat, dan di atas 300 dikategorikan berbahaya karena dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan.

Jakarta kali ini berada di bawah beberapa kota besar dunia dengan tingkat polusi tinggi.

Lahore (Pakistan) menduduki posisi pertama dengan AQI 179, disusul Delhi (India) di peringkat kedua dengan 170, serta Bishkek (Kirgistan) dan Hanoi (Vietnam) di urutan berikutnya dengan masing-masing 156.

Meski bukan hal baru bagi warga ibu kota, kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran soal pengendalian polusi udara yang hingga kini belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan pihaknya terus berupaya memantau kondisi udara melalui sistem pemantauan terintegrasi yang kini mencakup 31 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) di seluruh wilayah Jakarta.

Baca Juga: Langit Jakarta Bergemuruh, Aksi Akrobatik Jet Tempur TNI AU Bikin Ribuan Warga Terkagum di Monas

“Data dari setiap SPKU dikumpulkan dan ditampilkan secara real time agar masyarakat bisa memantau kondisi udara di sekitar mereka,” ujar perwakilan DLH Jakarta.

Platform pemantauan tersebut tidak hanya menggabungkan data milik DLH, tetapi juga terintegrasi dengan jaringan milik BMKG, World Resources Institute (WRI) Indonesia, serta Vital Strategies.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan mendorong partisipasi publik dalam menjaga kualitas udara Jakarta.

Meski demikian, para ahli menilai upaya pemantauan saja tidak cukup.

Diperlukan tindakan nyata seperti pembatasan kendaraan bermotor, pengawasan emisi industri, serta peningkatan ruang hijau di wilayah perkotaan.

“Pemantauan penting, tetapi yang paling mendesak adalah tindakan konkret untuk menekan sumber polusi,” kata seorang peneliti lingkungan dari Universitas Indonesia.

Sementara itu, masyarakat diimbau untuk terus waspada, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

“Gunakan masker dan hindari aktivitas berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk,” tambahnya.

Baca Juga: Dendam Usai Pesta Miras Berujung Maut di Kemayoran, Tujuh Pemuda Diciduk Polisi Kurang dari Sehari

Langit kelabu Jakarta pagi ini menjadi pengingat bahwa udara bersih semakin langka di kota megapolitan tersebut.

Jika tidak segera diambil langkah serius, bukan mustahil Jakarta akan terus berada di daftar kota dengan udara terburuk di dunia.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.