Banten

Dikepung Massa, Netanyahu Pilih Tinggalkan Rumah Saat Gelombang Protes Membara di Yerusalem

Moehamad Dheny Permana | 17 September 2025, 21:00 WIB
Dikepung Massa, Netanyahu Pilih Tinggalkan Rumah Saat Gelombang Protes Membara di Yerusalem

Akurat Banten - Ratusan pengunjuk rasa kembali menyalakan api perlawanan di Yerusalem, kali ini dengan mendirikan tenda tepat di depan kediaman resmi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Aksi yang berlangsung sejak akhir pekan itu dilaporkan sebagai bentuk protes keras terhadap serangan darat Israel di Gaza yang kian menimbulkan korban jiwa, termasuk kekhawatiran terhadap keselamatan para sandera yang masih berada di wilayah tersebut.

Kepolisian Israel langsung bergerak cepat dengan menutup akses radius 300 meter dari kediaman Netanyahu, namun langkah itu tak menyurutkan semangat massa yang ingin menyampaikan tuntutan mereka secara langsung kepada orang nomor satu di pemerintahan Israel tersebut.

Di antara kerumunan, tampak Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang menjadi motor utama aksi.

Mereka datang ke Yerusalem dengan membawa satu harapan besar yaitu keselamatan orang-orang tercinta yang ditawan Hamas di Gaza.

“Tujuan saya cuma satu agar negara ini sadar dan membawa pulang anak saya bersama 47 sandera lainnya, hidup atau mati, dan agar para prajurit kita kembali ke rumah,” ucap Einav Zangauker, salah satu orang tua sandera.

Baca Juga: Buronan Minyak Riza Chalid Diburu, Polri Resmi Minta Bantuan Interpol

Namun, bukannya menemui para keluarga dan mendengar langsung keresahan mereka, Netanyahu justru meninggalkan rumahnya tak lama setelah kabar rencana aksi ini mencuat ke publik.

“Dia (Netanyahu) tidak mau mendengar kami, jadi dia kabur seperti pengecut. Kami akan mengikutinya ke mana pun, siang dan malam. Ini sudah cukup,” tegas Zangauker.

Gelombang protes ini mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap kebijakan militer yang dianggap tidak hanya memperburuk konflik, tetapi juga menempatkan nyawa para sandera dalam bahaya.

Para keluarga meyakini bahwa lokasi para sandera berada di kawasan yang kini menjadi target pengeboman intensif Israel.

Situasi semakin memanas setelah laporan dari portal berita Axios menyebutkan bahwa militer Israel telah mengawali operasi darat besar-besaran di Kota Gaza dengan tujuan menduduki wilayah tersebut.

Langkah ini, menurut para pengunjuk rasa, sama saja dengan menggali jurang antara pemerintah dengan rakyatnya yang kehilangan anggota keluarga di tengah konflik.

Para pengamat menilai, protes kali ini bukan sekadar aksi spontan, melainkan simbol dari semakin pudarnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu di masa perang. Bagi banyak keluarga sandera, waktu adalah musuh utama, dan setiap dentuman bom berarti ancaman baru bagi kehidupan orang yang mereka cintai.

Massa berjanji tidak akan berhenti di Yerusalem saja.

Baca Juga: Link Streaming CCTV Aksi Demo Ojol Hari Ini 17 September 2025, Ricuh Sebabkan Korban Jiwa?

Mereka bersiap mengikuti Netanyahu ke mana pun ia pergi, menjadikan protes ini sebagai tekanan politik yang terus membayangi sang perdana menteri di tengah gejolak perang dan krisis kemanusiaan.

Dengan eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, suara-suara lantang para keluarga sandera kini bergema sebagai pengingat bahwa di balik strategi militer dan kalkulasi politik, ada nyawa-nyawa manusia yang terancam hilang setiap detiknya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.