Banten

Kasus Keracunan Massal Jadi Pelajaran, BPOM Tekankan 5 Kunci Keamanan Pangan

Moehamad Dheny Permana | 9 September 2025, 19:30 WIB
Kasus Keracunan Massal Jadi Pelajaran, BPOM Tekankan 5 Kunci Keamanan Pangan

Akurat Banten - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan pentingnya standar ketat dalam menjaga keamanan pangan, khususnya pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini tengah menjadi sorotan.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Pangan Olahan BPOM, Agus Yudi Prayudana, menyebut ada lima langkah utama yang harus dijalankan oleh setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Yang pertama, pastikan bahan bakunya diperoleh dari sumber yang benar-benar aman,” ujar Agus Yudi.

Ia menambahkan, penyimpanan bahan pangan juga tidak boleh sembarangan.

“Bahan segar seperti daging harus dipisahkan dengan bahan lain agar tidak terjadi kontaminasi,” jelasnya.

Langkah ketiga, menurut Agus Yudi, ada pada proses pengolahan.

Cara memasak yang tidak tepat bisa memicu munculnya bakteri berbahaya.

Baca Juga: ESDM Siapkan Lelang 7 Blok Migas, Investor Diminta Bersiap

“Proses memasak harus benar-benar memperhatikan suhu dan kebersihan peralatan,” tegasnya.

Tahap keempat yang tidak kalah penting adalah pengemasan.

Makanan yang baru dimasak, kata dia, tidak bisa langsung ditutup rapat.

“Harus diberi jeda sampai suhu makanan turun agar tidak menimbulkan uap yang justru mempercepat kerusakan,” paparnya.

Sedangkan kunci kelima adalah distribusi.

Badan Gizi Nasional (BGN) telah menetapkan aturan ketat, makanan yang sudah selesai disiapkan harus segera sampai ke tangan penerima dalam waktu maksimal 30 menit.

“Setiap tahapan punya risiko masing-masing, makanya kami tekankan agar SPPG benar-benar mengendalikan potensi bahaya itu,” kata Agus Yudi.

Peringatan ini bukan tanpa alasan.

Kasus keracunan massal akibat konsumsi MBG di Rejang Lebong, Bengkulu, sempat mencatatkan korban hingga ratusan orang.

“Berdasarkan Undang-Undang Pangan, jika ada dua orang saja mengalami gejala sama setelah mengonsumsi makanan yang sama, itu sudah termasuk kejadian luar biasa atau KLB,” jelasnya.

Ia mencontohkan kasus di Bengkulu yang melibatkan lebih dari 470 korban.

BPOM mengungkap, hasil evaluasi menunjukkan adanya kontaminasi mikrobiologi berupa bakteri yang menyerang tubuh penerima manfaat.

Baca Juga: Atas Nama Affan Kurniawan, 17 September Demo Ojol ke DPR Minta Hak Lama Mitra Ojek Online, Apa?

“Sudah kami sampaikan penyebabnya dan alurnya agar kejadian serupa tidak terulang,” ucap Agus Yudi.

Program MBG sendiri menjadi perhatian pemerintah sebagai bagian dari upaya pemenuhan gizi masyarakat.

Namun, tanpa kontrol kualitas yang ketat, niat baik tersebut bisa berbalik menjadi ancaman kesehatan.

Karena itu, BPOM menekankan peran SPPG dalam menerapkan disiplin tinggi pada setiap tahap penyediaan pangan.

Selain itu, pengawasan berlapis juga menjadi kebutuhan mendesak agar distribusi makanan benar-benar aman sampai ke penerima.

“Kalau semua pihak disiplin, risiko bisa ditekan seminimal mungkin,” tutur Agus Yudi.

Dengan lima kunci utama tersebut, BPOM berharap ke depan kasus keracunan akibat program MBG bisa dicegah, sehingga masyarakat tetap mendapat manfaat gizi tanpa harus was-was pada masalah keamanan pangan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.