Banten

Ishiba Lepas Jabatan Perdana Menteri Jepang, Singgung Isu Tarif dengan AS

Moehamad Dheny Permana | 8 September 2025, 19:18 WIB
Ishiba Lepas Jabatan Perdana Menteri Jepang, Singgung Isu Tarif dengan AS

Akurat Banten - Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya pada Minggu, 7 September 2025, langkah yang langsung mengguncang lanskap politik Negeri Sakura.

Dalam konferensi pers yang digelar di Tokyo, Ishiba menekankan bahwa keputusan ini tidak lepas dari dinamika hubungan dagang dengan Amerika Serikat.

“Kesepakatan tarif dengan Washington adalah hal yang sangat penting. Saya berharap penerus saya bisa menjaga arah tersebut,” ujar Ishiba.

Namun, pernyataan itu hanya salah satu dari sekian alasan yang mendorongnya lengser.

Kekalahan telak Partai Demokrat Liberal (LDP) dalam pemilu majelis tinggi pada 20 Juli lalu disebut-sebut menjadi pukulan besar bagi kepemimpinannya.

Meski sempat mengklaim program peningkatan upah mulai memberi hasil, Ishiba tetap menerima tanggung jawab penuh atas buruknya performa partai.

“Saya gagal memenuhi harapan banyak orang. Untuk itu, saya meminta maaf,” imbuhnya.

Langkah mundur ini terkesan datang lebih cepat dari perkiraan.

Hanya sehari sebelum LDP dijadwalkan menentukan apakah akan menggelar pemilihan presiden partai, Ishiba memutuskan menyingkir.

Baca Juga: Gus Irfan Resmi Dilantik Sebagai Kementerian Haji dan Umrah, Era Baru Layanan Ibadah di Bawah Prabowo

Keputusan tersebut kabarnya dipengaruhi pertemuan pada Sabtu malam dengan dua tokoh penting: mantan Perdana Menteri Yoshihide Suga dan Menteri Pertanian Shinjiro Koizumi.

Keduanya dikenal sebagai sekutu dekat Ishiba, namun justru mendorongnya agar tidak memperlebar keretakan di internal partai.

Ishiba sendiri baru memimpin Jepang sejak Oktober 2024.

Dalam kurun waktu singkat, ia dikenal berani menentang arus.

Ia bahkan pernah mengancam membubarkan parlemen dan menggelar pemilu cepat jika partai bersikeras menggelar pemilihan presiden LDP lebih awal.

Sikap keras itu justru menimbulkan resistensi di dalam tubuh partai yang sudah kehilangan mayoritas di majelis tinggi.

Gelombang kritik makin deras dalam sepekan terakhir, bukan hanya dari oposisi tetapi juga dari barisan pendukungnya sendiri.

Banyak yang menilai Ishiba terlalu berkeras mempertahankan posisi, padahal kondisi politik kian tidak stabil.

Dengan pengunduran dirinya, jalan menuju suksesi kepemimpinan LDP terbuka lebar.

Partai dijadwalkan segera mengumpulkan tanda tangan anggota untuk memutuskan apakah pemilihan presiden digelar lebih cepat dari jadwal resmi 2027.

Hingga kini belum jelas siapa kandidat terkuat yang bakal maju menggantikan Ishiba.

Baca Juga: Mendagri Instruksikan Kepala Daerah Tunda Acara Seremonial dan Kunjungan Luar Negeri, Bupati Tangerang: Kita Akan Patuhi

Namun, sejumlah nama mulai mencuat di kalangan elite LDP, termasuk mereka yang sebelumnya vokal mengkritiknya.

Meski keluar dengan catatan pahit, Ishiba tetap menitipkan pesan agar Jepang menjaga hubungan erat dengan mitra internasional.

“Saya berharap pemerintah selanjutnya bisa memperkuat kerja sama, terutama dengan Amerika Serikat,” tegasnya.

Pengunduran diri ini sekaligus menandai babak baru politik Jepang, di mana stabilitas partai penguasa akan menjadi kunci dalam menentukan arah ekonomi dan diplomasi ke depan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.