Banten

Festival Dewi Kajii Jadi Magnet Baru, Bantul Dorong Desa Wisata Tumbuh dari Kekuatan Komunitas

Moehamad Dheny Permana | 7 September 2025, 10:31 WIB
Festival Dewi Kajii Jadi Magnet Baru, Bantul Dorong Desa Wisata Tumbuh dari Kekuatan Komunitas

Akurat Banten - Pemerintah Kabupaten Bantul terus meneguhkan komitmennya dalam mengembangkan pariwisata yang berakar dari masyarakat lokal.

Salah satu langkah nyata terlihat dalam gelaran Festival Dewi Kajii Culture Fest yang berlangsung pada 5 hingga 7 September 2025 di Desa Wisata Kajii, Kelurahan Gilangharjo, Kecamatan Pandak.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Saryadi, menegaskan bahwa pendekatan berbasis komunitas ini memiliki potensi besar untuk mendorong roda ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat kesejahteraan warga desa.

“Kami berharap konsep pariwisata yang tumbuh dari masyarakat ini bisa menjadi motor penggerak bagi kemajuan ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya desa,” ujarnya.

Desa Wisata Kajii dikenal luas berkat edukasi ikan hias yang dibalut dengan nuansa budaya lokal.

Menurut Saryadi, keunikan inilah yang menjadi nilai jual utama sekaligus alasan mengapa pemerintah memberi dukungan penuh melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah.

Ia menambahkan, Bantul sebelumnya telah melahirkan sejumlah desa wisata yang mencetak prestasi di tingkat nasional maupun internasional, seperti Desa Wisata Wukirsari dan Desa Wisata Krebet.

Baca Juga: Aksi Cepat Imigrasi, Buronan Maroko Kasus Penculikan Anak Akhirnya Tertangkap di Jakarta

“Tahun ini, giliran Dewi Kajii yang kami anggap sebagai penerus berikutnya, the next generation,” ucapnya.

Ketua Panitia Festival, Muhammad Gema Ramadhan, menyoroti bahwa keberadaan desa wisata Kajii bukanlah hasil intervensi luar, melainkan lahir dari kreativitas dan kemandirian masyarakat Kadisoro.

“Dewi Kajii Culture Festival ini adalah bukti nyata bahwa desa ini bergerak dengan semangat dari masyarakat untuk masyarakat,” tuturnya.

Ia menambahkan, kepercayaan yang diberikan kepada Desa Kadisoro sebagai pusat edukasi ikan hias nasional menunjukkan bahwa masyarakat telah berhasil membangun reputasi sendiri melalui kerja kolektif.

Festival tersebut juga tidak hanya menampilkan wisata edukasi, melainkan memadukan budaya, produk lokal, hingga atraksi kesenian rakyat.

Gilangharjo pun disebut sebagai desa mandiri budaya, karena mampu menyatukan pariwisata, UMKM, hingga tarian tradisional dalam satu rangkaian kegiatan yang bernuansa gotong royong.

Agenda festival menghadirkan beragam acara, mulai dari Festival Layang-Layang Jadoel yang membawa nuansa nostalgia, Kadisoro Aquatic Expo lengkap dengan stan UMKM, Kirab Merti Dusun sebagai wujud syukur warga, hingga penampilan seni ketoprak yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Baca Juga: Kerusuhan Surabaya: Polisi Bongkar Peran 42 Tersangka, Anak-Anak Ikut Terlibat

Selain sebagai ruang hiburan, festival ini juga difungsikan sebagai wadah bagi pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produk mereka.

Dengan begitu, manfaat ekonomi dari acara budaya tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara, tetapi juga seluruh warga yang berpartisipasi.

Lebih jauh, keberhasilan Dewi Kajii dianggap sebagai simbol bahwa desa-desa di Bantul memiliki potensi besar untuk bersaing di kancah nasional, bahkan global, jika dikelola dengan konsep berbasis komunitas.

Semangat yang ditunjukkan masyarakat Kadisoro dalam menjaga tradisi sekaligus mengembangkan inovasi menjadi alasan mengapa festival ini mendapat sorotan luas.

Pada akhirnya, Festival Dewi Kajii bukan hanya sekadar ajang perayaan budaya, tetapi juga tonggak baru bagi perjalanan pariwisata Bantul yang berorientasi pada kekuatan komunitas.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.