Banten

Malam Mencekam di Surabaya, Pos Polisi Dibakar Massa dan Polisi Janji Usut Tuntas

Moehamad Dheny Permana | 30 Agustus 2025, 09:49 WIB
Malam Mencekam di Surabaya, Pos Polisi Dibakar Massa dan Polisi Janji Usut Tuntas

Akurat Banten - Kota Surabaya, Jawa Timur, berubah mencekam pada Jumat malam ketika sejumlah pos polisi menjadi sasaran amukan massa yang menggelar aksi solidaritas untuk almarhum Affan Kurniawan.

Api pertama kali berkobar di pos polisi Jalan Raya Darmo, tak jauh dari kediaman dinas Kapolda Jatim dan Pangdam V/Brawijaya, disaksikan oleh warga yang panik melihat asap hitam membumbung tinggi ke langit malam.

Seorang pedagang bakso bernama Wawan yang berada di sekitar lokasi mengaku kaget ketika melihat tenda pos polisi tiba-tiba dilalap api.

"Pas di tengah perempatan Jalan Raya Darmo Surabaya ini, sejumlah massa tadi membakar salah satu tenda pos polisi," ucapnya sekitar pukul 22.30 WIB.

Tak berhenti di situ, amukan massa juga merambat ke beberapa titik lain, termasuk pos polisi Taman Bungkul, pos di Jalan Basuki Rahmat, bahkan Polsek Tegalsari.

Baca Juga: Driver Ojol Tangerang Gelar Aksi Damai di Polresta Tangerang, Tuntut Keadilan atas Kasus Kematian Affan Kurniawan

Kerusuhan membuat situasi semakin sulit dikendalikan sehingga aparat harus berjibaku menahan gelombang massa agar tidak semakin meluas ke kawasan lain di pusat kota.

Kepolisian Daerah Jawa Timur pun angkat bicara mengenai kericuhan yang pecah di sekitar Gedung Negara Grahadi hingga berimbas pada perusakan fasilitas umum.

Kapolda Jatim, Irjen Pol Nanang Avianto, menegaskan bahwa kejadian tersebut bukanlah representasi dari aspirasi komunitas ojek online (ojol) sebagaimana yang sempat disangkakan.

“Rekan-rekan bisa membandingkan dengan yang di Grahadi dan yang sekarang di Polda. Ini ojol semua, murni, kondusif. Tidak ada apa-apa. Dan kami welcome terbuka. Aspirasi mereka kami tampung,” ujarnya di Mapolda Jatim.

Menurutnya, ada perbedaan mencolok antara aksi damai para ojol di Mapolda dengan kericuhan yang terjadi di Grahadi, sehingga pihak kepolisian berkomitmen melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap siapa dalang sebenarnya.

“Jangan sampai ojol ini didiskreditkan. Terbukti sekarang, apa yang dilakukan di Polda itu murni aspirasi dan berlangsung tertib. Sementara yang di Grahadi berbeda. Kami akan investigasi siapa pelakunya, karena di situ ada simbol provinsi yang harus dijaga,” tegas Nanang.

Kapolda menilai kerusuhan itu bukan hanya sekadar aksi massa, tetapi juga sudah menyentuh aspek penghinaan terhadap simbol kebesaran Jawa Timur, sebuah hal yang menurutnya tak bisa ditoleransi.

Ia menambahkan bahwa aparat di lapangan sejatinya sudah menempuh langkah persuasif sebelum akhirnya mengeluarkan tindakan tegas menggunakan gas air mata.

Tahapan yang dilakukan, kata Nanang, dimulai dengan imbauan simpatik, pembentukan barikade, hingga penyemprotan air sebelum opsi gas air mata akhirnya dipilih untuk mengurai massa.

Baca Juga: Skandal Korupsi LPEI: KPK Bongkar Rp150 Miliar Uang Kredit Dipakai Judi oleh Hendarto

Meski kerusuhan sempat membuat sejumlah ruas jalan utama Surabaya lumpuh, aparat berjanji akan menjaga situasi tetap kondusif dan memastikan investigasi berlangsung transparan.

Hingga Sabtu dini hari, sejumlah titik pos polisi yang terbakar masih dijaga ketat petugas, sementara aparat terus memantau perkembangan agar kerusuhan tidak kembali pecah.

Kepolisian juga menyerukan agar masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi, sembari menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan dengan cara damai akan selalu ditampung dan dihargai.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.