Banten

Destinasi Wisata Gereja Ayam Magelang, Candi Borobudur Tampak Megah Dari Sini

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 17 Desember 2023, 15:34 WIB
Destinasi Wisata Gereja Ayam Magelang, Candi Borobudur Tampak Megah Dari Sini

AKURAT BANTEN - Gereja Ayam namanya adalah Gereja yang pernah dijadikan tempat rehabilitasi ini memiliki desain yang unik mirip ayam.

Oleh karena itulah gereja ini disebut Gereja Ayam. Satu hal menarik yang bisa kita nikmati ketika berada di sini adalah menyaksikan megahnya Candi Borobudur dari kejauhan.

Tidak hanya itu, tempat wisata ini juga merupakan titik yang cocok untuk melihat matahari terbit dibalik kabut. Sedikit saran jika ingin melihat pemandangan matahari terbit, datanglah pada waktu subuh.

Bagi sahabat Akurat Banten yang mungkin mau mudik ke daerah Magelang dan Jogjakarta jangan lupa untuk mampir ke lokasi suting film AADC2. Salah satunya Rumah Doa Bukit Rhema.

Rumah doa ini sering juga disebut sebagai Gereja Ayam oleh penduduk lokal. Letaknya di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang, Jawa Tengah.

Jaraknya dari Yogyakarta sekitar 45 kilometer. Pemandangan dari ketinggian memikat disaksikan dari tempat ini ketika pagi hari. Lokasinya tersembunyi cukup jauh, yakni di perbukitan Magelang, Jawa Tengah.

Sejarah gereja ayam
Bentuknya mirip seekor ayam yang tengah duduk di tanah di bagian kepalanya terdapat sebuah mahkota. Bentuk bangunannya cukup besar, di mana bagian dalamnya terdapat ruang besar dan kamar-kamar.

Hanya saja, Daniel Alamsjah mencoba meluruskan bahwa bangunan itu bukanlah berbentuk ayam, melainkan burung merpati.

Hampir setiap tahun, bangunan ini didatangi wisatawan lokal maupun asing. Sebagian mengabadikan foto-foto bangunan itu lalu diunggah di media sosial.

Daniel yang asal Jakarta mengungkapkan awal muasal mendirikan bangunan itu. Dalam ceritanya seperti dilansir dailymail.uk, sebelumnya dia mendapat pesan dari Tuhan untuk membangun sebuah rumah ibadah dengan bentuk burung merpati.

"Mungkin karena saya umat Kristen, banyak orang berfikir saya sedang membangun sebuah gereja. Tapi saya tegaskan itu bukan gereja. Saya membangun sebuah rumah doa tempat bagi orang-orang yang percaya pada Tuhan," kata Daniel.

Seusai memperoleh ilham dari mimpinya, pada tahun 1989, Daniel dalam perjalanan Magelang, di mana keluarga istrinya berasal. Saat itu dia melihat sebuah pemandangan yang indah di perbukitan. Rupanya, pemandangan itu sama persis dengan yang ada dalam mimpinya.

"Saya berdoa sepanjang malam di sana dan saya mendapat wahyu bahwa saya harus membangun rumah doa di tempat itu," katanya.

Satu tahun kemudian, Daniel membeli lahan dari warga setempat seluas 3.000 meter persegi dengan harga sekitar Rp 2 juta. Pembayaran dilakukan dengan cara mencicil sampai akhirnya lunas dalam empat tahun.

Hanya saja, bangunan itu tak selesai sempurna karena keterbatasan dana serta pertentangan dari warga sekitar.

Rumah Pengobatan
Saat ini, bangunan itu dalam kondisi tidak terawat. Dinding-dindingnya tanpa cat terus mengelupas di makan cuaca, juga ulah vandalisme mengotori bangunan yang penuh lumut itu.

Banguan itu sempat menjadi lokasi beribadah warga dari berbagai agama, termasuk Buddha, Islam, dan Kristen, dengan cara mereka sendiri.

Selain itu, bangunan itu juga pernah digunakan sebagai pusat rehabilitasi. Alamsjah menegaskan rehabilitasi di rumah doa ini adalah untuk terapi bagi anak-anak cacat, pecandu narkoba, orang gila dan pemuda terganggu.

Rumah Doa itu resmi ditutup tahun 2000 karena biaya konstruksi yang terlalu tinggi, tetapi banyak terus mengunjungi situs yang indah di Indonesia.

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.