Banten

700 Siswa Tumbang Usai MBG, Gempar Program Makan Bergizi Gratis di Yogyakarta Jadi Sorotan Dunia

Andi Syafriadi | 1 November 2025, 07:35 WIB
700 Siswa Tumbang Usai MBG, Gempar Program Makan Bergizi Gratis di Yogyakarta Jadi Sorotan Dunia

AKURAT BANTEN - Program makan gratis sekolah yang digaungkan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi stunting dan malnutrisi kini tengah menghadapi kritikan tajam menyusul insiden di mana sekitar 700 siswa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) jatuh sakit setelah mengonsumsi paket makan gratis.

Kasus ini mengangkat kembali ketidakpastian kualitas dan pengawasan pelaksanaan program di lapangan.

Menurut laporan dari Badan Gizi Nasional (BGN), program yang diposisikan sebagai bantuan nutrisi berkelanjutan ini telah menargetkan hingga puluhan juta anak dan ibu hamil di seluruh nusantara.

Namun kenyataannya, pengawasan terhadap dapur dan distribusi makanan masih lemah.

Baca Juga: Ibu Negara Brasil Kagum MBG Indonesia, Ajak Perkuat Pangan Lokal Demi Generasi Sehat

Dalam kasus di DIY, dilaporkan bahwa dapur penyajian makanan yang terkait telah ditutup sementara untuk investigasi akibat dugaan pengolahan yang tidak higienis dan proses distribusi yang terlambat yang memungkinkan bakteri berkembang.

Bagi masyarakat di wilayah Banten, meskipun insiden ini terjadi di DIY, dampaknya tidak bisa diabaikan begitu saja.

Provinsi Banten dengan banyak sekolah negeri dan wilayah pinggiran yang juga menjadi target program makan gratis dipanggil untuk menjaga kewaspadaan.

Media dan organisasi masyarakat setempat dapat melakukan pemantauan terhadap kondisi dapur sekolah, penyimpanan bahan makanan, dan tata kelola distribusi agar tidak terjadi kejadian serupa.

Baca Juga: Tanggapi Keracunan MBG Prabowo Usul Anak-anak Sebelum Makan Lakukan Hal Penting Ini

Sekali terjadi penyimpangan, bukan hanya reputasi sekolah yang terancam tetapi kesehatan siswa juga.

Pemerintah pusat melalui BGN telah merespon dengan membentuk tim pengawasan khusus yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, serta tim inspektorat untuk melakukan audit dapur-dapur sekolah yang terlibat.

Mereka juga memerintahkan agar porsi makanan dikurangi sementara untuk menjaga kesegaran makanan dan meminimalkan risiko.

Bagi orang tua di Banten, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Zero Keracunan, MBG Disempurnakan Demi Kesehatan Anak Indonesia

Pertama, komunikasikan dengan pihak sekolah mengenai vendor makanan, jadwal penyajian, dan prosedur pengendalian mutu.

Kedua, awasi kondisi anak setelah mengonsumsi paket makan jika ada gejala mual, diare, atau lemah mendadak, segera hubungi layanan kesehatan.

Ketiga, dorong sekolah untuk melakukan uji kebersihan dan suhu makanan secara berkala atau meminta evidence pengujian dari pihak vendor.

Di sisi lain, kritik mengarah ke konsep program itu sendiri.

Baca Juga: Keracunan MBG Makan Spaghetti disebut Kaget Lambung oleh Gubernur Jateng Ahmad Luthfi

Meskipun niatnya mulia menyediakan makanan bergizi gratis bagi jutaan anak dan ibu hamil kebutuhan akan logistik, pengadaan bahan baku, pengelolaan dapur, hingga distribusi massal secara serentak membutuhkan kerangka pengawasan yang jauh lebih kuat.

Sebuah program yang diluncurkan dalam skala besar dengan target manfaat sosial, apabila tidak komprehensif dalam pelaksanaan, bisa berbalik menjadi risiko publik.

Secara khusus, Banten sebagai provinsi yang aktif dalam program pemerataan pendidikan dan kesehatan bisa menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi bersama.

Pentingnya standar kebersihan, monitoring rutin, dan transparansi vendor serta sekolah.

Baca Juga: Demi MBG Berjalan Lancar, TNI AD Terbang ke Singapura Latihan Soal Makanan Bergizi

Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD), dinas pendidikan, serta pihak satgas sekolah bisa berkolaborasi untuk mendampingi implementasi di lapangan.

Dengan demikian, kasus 700 siswa yang jatuh sakit bukan hanya insiden lokal, melainkan panggilan bagi semua wilayah termasuk Banten untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap program makan gratis nasional.

Semoga dengan evaluasi yang serius dan perbaikan prosedur, program ini bisa tetap berjalan sesuai harapan: mendukung nutrisi anak bangsa, bukan menjadi beban baru.

***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.