Banten

Insiden Mikrofon Mati Pidato Prabowo di PBB, Presiden Turki Menyusul, Kok Bisa?

Andi Syafriadi | 23 September 2025, 10:11 WIB
Insiden Mikrofon Mati Pidato Prabowo di PBB, Presiden Turki Menyusul, Kok Bisa?

AKURAT BANTEN – Belakangan ini publik internasional dan Indonesia ramai membicarakan isu bahwa mikrofon Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dikabarkan mati atau ter-“mute” saat pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (KTT PBB).

Dugaan ini muncul bersamaan dengan laporan bahwa Presiden Prabowo Subianto juga mengalami insiden serupa saat berbicara tentang isu Palestina. Namun, sejauh ini belum ada konfirmasi resmi tentang hal tersebut.

Menurut laporan Harian Haluan, mikrofon kedua Presiden sempat “mute” beberapa kali pada acara KTT PBB karena mereka menyampaikan isu sensitif mengenai Palestina dan solusi dua negara.

Artikel tersebut juga menyebut adanya tuduhan sabotase dari pihak yang tidak disebutkan secara resmi. 

Baca Juga: Dalam Sidang Forum PBB, Prabowo Tegaskan Bahwa Indonesia Akan Akui Israel Jika Palestina Diakui Merdeka

Beberapa pihak menuduh bahwa insiden mikrofon mati ini bukanlah kebetulan teknis, melainkan sebuah sabotase untuk membungkam suara yang dianggap kontroversial atau mengganggu.

Dugaan ini diperkuat oleh klaim bahwa momen tersebut muncul khusus saat pembahasan Palestina.

Namun demikian, klaim ini masih bersifat spekulatif karena tidak ada bukti langsung seperti laporan teknis dari PBB, otoritas Turki, atau hasil investigasi independen yang menyebut bahwa ada pihak yang sengaja mematikan mikrofon.

Di sisi lain, kemungkinan gangguan teknis juga sangat mungkin.

Baca Juga: Indonesia Hadapi Maraton Diplomasi, 200 Pertemuan Bilateral Digelar di Sidang Umum PBB

Dalam sistem konferensi internasional seperti PBB, masalah teknis seperti kesalahan sambungan mikrofon, mute otomatis oleh operator, atau gangguan jaringan audio sering kali terjadi.

Tidak jarang mikrofon mati karena kabel putus, setting audio yang salah, atau perangkat lunak (software) yang mengatur suara mengalami glitch.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Turki atau dari PBB yang membenarkan tuduhan sabotase.

Begitu juga belum ada klarifikasi dari pihak teknis yang menyatakan bahwa mikrofon memang mati secara fisik atau diputus secara manual.

Karena itu, informasi yang beredar saat ini masih masuk dalam kategori “belum diverifikasi”.

Isu seperti ini menarik perhatian karena berkaitan dengan kebebasan berbicara dan diplomasi internasional.

Jika benar ada upaya mematikan mikrofon pada tokoh-tokoh yang menyampaikan pesan kritis, ini bisa dianggap sebagai bentuk sensor atau tekanan politik yang merusak prinsip dialog di forum multilateral.

Namun bila hanya gangguan teknis, hal ini lebih relevan dibicarakan dari sisi profesionalisme penyelenggaraan acara besar dan keandalan infrastruktur audio visual internasional.

Baca Juga: Ketika Suara Rakyat Berujung Maut: PBB dan Amnesty Desak Akuntabilitas Atas Kekerasan di Demo Nasional

Mikrofon mati atau ter-“mute” saat pidato Presiden Turki di KTT PBB masih berupa dugaan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait.

 

Tuduhan sabotase belum didukung bukti teknis yang kuat; kemungkinan besar gangguan teknis masih menjadi salah satu penjelasan yang logis.

 

Publik dan media perlu menunggu hasil klarifikasi dari PBB atau Turki agar isu ini tidak berkembang menjadi rumor yang memperkeruh suasana diplomatik.

***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.