Rentetan Dosa Sahroni Dicopot Tak Hanya Sebut Rakyat Tolol, Ada Kasus Mengerikan Ini

AKURAT BANTEN - Pencopotan Ahmad Sahroni dari posisi Wakil Ketua Komisi III DPR RI bukan hanya akibat pernyataannya yang kontroversial menyebut mereka yang menyerukan pembubaran DPR sebagai “orang tolol sedunia”, tetapi juga mencerminkan gejolak politik dan ketegangan publik lebih dalam dari sekadar kata-kata.
Pada hari Jumat, 22 Agustus 2025, saat kunjungan kerja ke Polda Sumatera Utara, Sahroni menanggapi seruan publik agar DPR dibubarkan dengan nada keras:
“Mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia ... orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia.”
Ucapan yang kemudian viral ini memicu kecaman luas dari netizen, aktivis, dan kalangan politik, yang menilai pernyataannya arogan dan merendahkan aspirasi rakyat.
Banyak tuntutan agar ia dipecat sepenuhnya, bukan hanya dimutasi.
Pada 29 Agustus 2025, Fraksi NasDem mengeluarkan surat resmi (Nomor 758/DPR-RI/VIII/2025) yang menyatakan bahwa Sahroni dicopot dari kursi Wakil Ketua Komisi III, dan dipindahkan menjadi anggota Komisi I DPR RI.
Jabatan barunya ini membidangi pertahanan, luar negeri, dan komunikasi serta informatika.
Posisi Wakil Ketua Komisi III kemudian ditempati oleh Rusdi Masse Mappasessu, anggota dari Komisi IV.
Fraksi menyebut keputusan ini sebagai bagian dari “rotasi biasa” dan “penyegaran struktural”, meski waktunya sangat berdekatan dengan polemik hangat publik.
Namun, pencopotan cepat ini juga terjadi di tengah ketegangan politik yang melibatkan demonstrasi publik dan kritik terhadap hak istimewa DPR, seperti tuntutan pengurangan tunjangan dan pertanggungjawaban publik atas kinerja legislatif.
Sahroni dinilai gagal merespons dengan bijak, sehingga citra lembaga dan partainya ikut terdampak.
Masyarakat sudah mulai memaknai pernyataannya bukan sebagai dialog, tetapi provokasi.
Banyak pihak melihatnya sebagai “kasus mengerikan” dalam arti hilangnya empati seorang wakil rakyat terhadap aspirasi dan kemarahan publik.
Polemik ini menjadi alarm bagi NasDem bahwa retorika tak bijak dari elite bisa jadi bom waktu.
Dalam situasi yang semakin memperhatikan transparansi dan akuntabilitas, persepsi publik jadi krusial.
Baca Juga: Ahmad Sahroni: Presiden Boleh Kampanye Dan Memihak, Soal Etis Atau Tidak Biar Masyarakat Menilai
Rotasi ini bisa jadi upaya antisipasi agar partai tak kian kehilangan kepercayaan.
Meski Sahroni masih tetap duduk di DPR melalui Komisi I, pergeseran ini dianggap sebagai mundur secara politis.
Penyebutan “tolol” pada rakyat tidak mudah dilupakan dan menandai momentum krusial dalam kariernya.
Pencopotan Ahmad Sahroni lebih dari sekadar konsekuensi ucapan kontroversial.
Ini menunjukan bahwa dalam dinamika politik saat ini, ungkapan tanpa sensitivitas bisa berdampak serius hingga menjadi pemicu rotasi struktural dan pertanyaan besar soal hubungan wakil rakyat dengan suara publik.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 2Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 3Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 4Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 5Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 6Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 7Gibran Digadang Capres 2029, Pernyataan Ali Syarief soal Prabowo Bikin Wacana Makin Panas
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 98 Tuntutan Gugatan Gibran di MK Terungkap, Ada Permintaan Batalkan Pelantikan dan Pilih Wapres Baru
- 10Roy Suryo Soroti Biografi Gibran di MK, Ada Perbedaan Keterangan Pendidikan yang Dipersoalkan







