Pengembangan Wisata Labuan Bajo NTT Untungkan Investor Besar

AKURAT BANTEN - Guru Besar Hubungan Internasional (HI) Universitas Pelita Harapan (UPH) Tangerang, Prof Aleksius Jemadu menilai pengembangan wisata Labuan Bajo hanya menguntungkan pengusaha besar.
Menurutnya, usaha yang tengah dikembangkan pemerintah menjadi Super Prioritas hanya memprioritaskan investor besar.
Keberadaan investor kelas dunia di Labuan Bajo yang berada di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, telah membuat warga lokal termarjinalkan.
Baca Juga: Waduh,Ada apa Dengan 107 Kepala Desa di Pandeglang Dijabat Oleh PJS? Ini Penjelasannya!
“Mulai dari hotel, resto dan UMKM dikuasai oleh pemain besar semua. Sehingga masyarakat lokal tidak diberikan hak sosial ekonomi untuk membangkitkan perekonomian mereka,” ujar Prof Aleksius Jemadu, kepada Akurat Banten, Selasa (19/12/2023).
Menurut Prof Aleksius, sesuai UU 45 Perintah wajib memberikan pemberdayaan dan mendorong koperasi masyarakat setempat agar daya bergeming warga lokal bisa tumbuh.
“Harus ada affirmative action untuk penduduk lokal. Karena kemampuan masyarakat lokal untuk bersaing dengan pemain besar hampir tidak ada. Selain itu tidak ada pola atau struktur persaingan yang adil,” ucapnya.
Sehingga agar tidak timbul masalah sosial, pemerintah pusat dan daerah harus mengintervensi dan memasukan itu ke dalam perencanaan pembangunan.
“Kita tidak melarang pemain dunia itu masuk. Tapi jangan merusak lokal. Kita juga mendesak untuk memberi perlindungan ruang economic space kepada warga lokal, karena banyak pemain lokal tidak diperbolehkan berjualan di sejumlah lokasi,” paparnya.
Baca Juga: Menanti Janji Jokowi Empat Tahun Hingga Air Mata Kering Untuk Warga Berdampak Bencana Lebak
Sementara Dosen HI UPH, Yosef Djakababa menambahkan pemerintah juga harus memikirkan sustainability tentang keberlangsungan pariwisata agar banyak dampak kepada masyarakat setempat.
“Penyerapan lokal di Labuan Bajo itu baru 10 persen. Sedangkan yang diharapkan adanya hotel, makanan dapat menunjang lokal,” ungkap Yosep.
Sehingga pemerintah harus mengambil kebijakan demi menjaga kedaulatan kepada masyarakat juga terutama. Karena, globalisasi pariwisata ini. Harus Ada peran tidak hanya dari civil society atau masyarakat madani.
“Bisa membuat kebijakan kebijakan pro lokal. Misalnya. Para masyarakat lokal sulit sekali untuk di Bandara. Karena standar tertentu, mahal dan pemain pemain tertentu yang punya. Nah bagaimana caranya pemerintah setempat bisa memfasilitasi,” imbuh Yosep.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 2Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 3Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 4Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 5Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 6Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 7Gibran Digadang Capres 2029, Pernyataan Ali Syarief soal Prabowo Bikin Wacana Makin Panas
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 98 Tuntutan Gugatan Gibran di MK Terungkap, Ada Permintaan Batalkan Pelantikan dan Pilih Wapres Baru
- 10Roy Suryo Soroti Biografi Gibran di MK, Ada Perbedaan Keterangan Pendidikan yang Dipersoalkan






