Jalan Rusak, Semangat Tak Retak: Jeritan Sunyi Pendidikan dari Grobogan

AKURAT BANTEN-Di sudut Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, ada kisah sederhana yang menyentuh hati banyak orang.
Seorang guru di SDN 4 Pandanharum dalam video yang diunngah pertama kali di akun TikTok @bu_guru_nieng_kls4, membagikan video perjalanan hariannya. menuju sekolah.
Bukan tentang gedung mewah atau fasilitas lengkap yang ia temukan, melainkan tentang jalan tanah yang berlumpur, licin, dan penuh kubangan air.
Jalan yang setiap hari harus ia lalui demi satu tujuan: mengajar anak-anak di Dusun Dawung.
Dalam Video berdurasi 27 detik yang viral di media sosial itu, terlihat jelas bagaimana kondisi jalan yang memprihatinkan.
Baca Juga: Tak Boleh Ada Anak Lapar di Kelas: Misi Besar Prabowo Lewat 1.072 Satuan Pelayanan Gizi
Tanah becek membuat kendaraan sulit melintas. Bahkan, sang guru harus melepas sepatu saat mengendarai motor agar tidak terpeleset dalam perjalanannya setiap hari.
Ia selalu tetap tersenyum, tetap berdoa, dan tetap berangkat menunaikan tugas yang mulia.
Meski ditengah jalan yang berlumpur dan jalan rusak, tetap ada semangat yang tidak ikut runtuh.
Sudah hampir empat tahun kondisi itu ia hadapi, ketika hujan di tengah perjalanan, ban sepeda motornya bocor saat di area sepi, hingga rasa khawatir tak sampai tepat waktu sampai kesekolah menjadi bagian dari rutinitasnya.
Namun ia tidak menyerah, karena setiap pagi ada anak-anak yang selalu menunggu di bangku kelas dengan harapan dan mimpinya.
Baca Juga: Gebrakan Wapres Gibran: Tak Cukup Penjara, Koruptor Wajib Dimiskinkan dan Harta Disita Habis!
Baginya, seorang guru harus tahu bahwa, kehadirannya berarti masa depan bagi mereka.
Kisah ini bukanlah hanya sekadar tentang jalan rusak. namun adalah ungkapan tentang potret nyata pendidikan di daerah.
Dimana disatu sisi, banyak kalangan berbicara tentang kemajuan teknologi, sekolah digital, dan pembelajaran berbasis internet.
Namun ironinya, disisi lain masih ada guru yang selalu berjuang melewati jalan berlumpur hanya untuk bisa membuka buku pelajaran di kelas sederhana.
Anak-anak di SDN 4 Pandanharum tentu tidak memilih di mana mereka lahir. Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang layak, seperti anak-anak di kota besar.
Mereka berhak memiliki guru yang datang dengan aman dan nyaman. Akses jalan yang baik bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal keadilan pendidikan.
Respons dari pemerintah daerah melalui dinas terkait menyebutkan bahwa perbaikan jalan sudah masuk dalam rencana anggaran tahun 2026.
Tentu ini menjadi kabar yang melegakan. Namun bagi guru dan warga sekitar, setiap hari tetaplah perjuangan nyata.
Setiap musim hujan, kecemasan kembali datang.
Opini ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini adalah ajakan untuk melihat pendidikan dari sisi yang paling mendasar: akses.
Sebagus apa pun kurikulum, sebaik apa pun niat guru, semua akan terhambat jika jalan menuju sekolah saja penuh rintangan.
Kita sering menyebut guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tetapi mungkin sudah waktunya kita memastikan para “pahlawan” ini tidak lagi berjuang sendirian di tengah lumpur.
Pendidikan bukan hanya urusan ruang kelas, melainkan juga tentang jalan yang mengantarkan guru dan murid untuk bertemu.
Semoga kisah sederhana dari Kabupaten Grobogan ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa membangun pendidikan tidak selalu dimulai dari hal besar.
Kadang, cukup dengan membangun jalan yang layak, agar langkah pengabdian tidak lagi terhenti oleh jalan yang berlumpur.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









