Layar di Kelas, Mutu di Mana? Menggugat Euforia Digitalisasi dalam Kurikulum Pendidikan

AKURAT BANTEN-Arus digitalisasi pendidikan mengalir deras dan terus melaju. Sekolah-sekolah berlomba menghadirkan tablet, proyektor interaktif, hingga platform pembelajaran daring.
Pemerintah pun mendorong transformasi digital sebagai bagian dari modernisasi kurikulum.
Namun, di tengah euforia teknologi digital tersebut, terbesit pertanyaan mendasar: apakah pemanfaatan layar digital didalam kelas dapat meningkatkan kualitas pembelajaran atau justru esensi pendidikan itu sendiri menjadi bias?
Menariknya hal ini bahkan sedang menjadi perdebatan di luar negeri.
Inggris misalnya, sejumlah anggota parlemen dari Partai Buruh menyerukan pengurangan penggunaan layar digital didalam kelas dan mendorong kembalinya buku teks cetak sebagai sumber belajar utama.
Yang terjadi di Inggris ini menjadi diskusi global yang hangat mengenai keseimbangan antara teknologi dan kualitas literasi dasar.
Digitalisasi dalam pendidikan sejatinya menjadi sahabat dan mendukung pembelajaran di kelas, sebagai salah satu media belajar, sumber belajar, mempermudah guru menyampaikan materi, serta membantu siswa memahami konsep abstrak melalui visualisasi interaktif.
Platform pembelajaran daring juga memungkinkan evaluasi lebih cepat dan terukur.
Artinya yang salah bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana teknologi itu digunakan dalam kerangka kurikulum yang matang.
Tanpa perencanaan pedagogis yang kuat, perangkat digital hanya akan menjadi alat hiburan, yang lebih fokus pada tampilan visual ketimbang fokus pada substansi materi pelajaran.
Mengakibatkan menurunnya kemampuan literasi atau daya membaca dan kemampuan berpikir kritis.
Data literasi nasional kita menunjukkan masih cukup memprihatinkan, hal ini merupakan alarm serius.
Jika kemampuan membaca pemahaman saja belum kokoh, tepatkah mendorong pembelajaran berbasis layar secara masif?
Buku teks cetak memiliki keunggulan dalam melatih konsentrasi, ketahanan membaca, dan pemahaman struktural terhadap isi bacaan.
Sementara layar cenderung menghadirkan distraksi melalui notifikasi dan pola konsumsi informasi yang serba cepat.
Peran kurikulum seharusnya tidak sekadar mengikuti tren teknologi, tapi juga memastikan bahwa setiap inovasi mendukung tujuan pembelajaran.
Integrasi digital harus berbasis kebutuhan pedagogis, bukan sekadar proyek pengadaan perangkat.
Tentunya juga kemmapuan guru-guru nya dibekali pelatihan literasi digital yang memadai agar memiliki kemampuan mengelola kelas berbasis teknologi secara efektif, proporsional dan seimbang.
Berikutnya, kesenjangan infrastruktur antarwilayah juga menjadi tantangan serius.
Dimana tidak semua sekolah memiliki akses internet stabil atau perangkat memadai.
Pemerataan fasilitas pendukung teknologi digitalisasi tersebut harus berjalan beriringan sehingga tidak terkesan dipaksakan apalagi terkesan hanya “proyek”, perhitungan yang tidak matang justru memperlebar ketimpangan kualitas pendidikan.
Sekali lagi teknologi digitalisasi bukan tujuan utama melainkan hanya alat pendukung. Tapi kurikulum yang kuat dan matang, dimana tetap fokus pada kemampuan dasar: membaca, menulis, berpikir kritis, dan berkarakter.
Hadirnya digitalisasi didalam kelas memperkuat kemampuan dasar itu, bukan menghilangkannya.
Mari menata ulang sistem transformasi pendidikan kita, layar digital dan buku teks adalah bukan pilihan satu dan lainnya melainkan dapat digunakan bersama-sama, merancang keseimbangan yang proporsional.
Pendidikan yang maju bukan diukur dari banyaknya perangkat di kelas, tetapi bagaiaman kemampuan siswa dalam memahami nya yang dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari secara kontektual (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









